Kepercayaan Investor Asing ke RI Terjaga di Tengah Geopolitik

Kepercayaan Investor Asing ke RI Terjaga di Tengah Geopolitik
Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Dendy Apriandi. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan bahwa keyakinan para penanam modal internasional terhadap Indonesia tidak goyah meskipun situasi ekonomi serta geopolitik dunia sedang bergejolak.

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Dendy Apriandi menjelaskan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, bahwa tingkat keyakinan penanam modal tidak sepatutnya diukur hanya lewat fluktuasi pasar modal ataupun sentimen temporer semata.

Ia menilai indikator utama yang merefleksikan optimisme pemodal terhadap sebuah negara yaitu Foreign Direct Investment (FDI) atau Penanaman Modal Asing (PMA), yang berwujud ketetapan investasi jangka panjang dengan mengacu pada fundamental ekonomi.

"Menarik investasi bukan pekerjaan mudah di tengah situasi geopolitik global saat ini. Data menunjukkan investor asing tetap tertarik berinvestasi di Indonesia, tercermin dari realisasi investasi yang terus tumbuh, termasuk kontribusi PMA mencapai 50,1 persen pada triwulan I 2026. Ini membuktikan kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap terjaga," ujarnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi PMA pada triwulan I 2026 menyentuh angka Rp250 triliun, yang berarti menyumbang sebesar 50,1 persen dari total keseluruhan realisasi investasi yang berjumlah Rp498,8 triliun.

Pencapaian ini meneruskan tren kenaikan PMA selama beberapa tahun ke belakang, berawal dari Rp147,2 triliun pada triwulan I 2022, lalu naik menjadi Rp177 triliun pada triwulan I 2023, kemudian Rp204,4 triliun pada triwulan I 2024, selanjutnya Rp230,4 triliun pada triwulan I 2025, sampai akhirnya bertengger di angka Rp250 triliun pada triwulan I 2026.

Dendy berpendapat bahwa peningkatan yang berjalan konsisten ini memperlihatkan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu negara tujuan investasi yang memikat bagi para penanam modal dunia.

Hal tersebut, kata Dendy, dibuktikan pula oleh diversifikasi negara asal penanam modal, di mana Singapura, Hong Kong, China, Amerika Serikat, serta Jepang menempati posisi lima besar investor paling dominan di Indonesia pada triwulan I 2026.

Di samping besaran nominal investasi, Dendy menerangkan bahwa faedah dari investasi juga berwujud dampak konkret bagi perekonomian domestik, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan dan menghadirkan nilai tambah.

"Yang lebih penting, investasi tidak hanya tercermin di pasar keuangan, tetapi juga mengalir ke sektor-sektor strategis yang meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Itulah manfaat nyata investasi yang dirasakan masyarakat," jelasnya.

Selama periode triwulan I 2026, realisasi investasi terpantau mampu menyerap sebanyak 706.569 tenaga kerja dalam negeri. Angka tersebut memperlihatkan bahwa arus modal terus memberikan sumbangsih riil dalam penyediaan lapangan kerja sekaligus menstimulasi roda ekonomi di bermacam-macam daerah.

Untuk masa mendatang, institusinya menyatakan komitmen untuk senantiasa merawat iklim investasi yang kondusif lewat pemangkasan birokrasi perizinan, peningkatan kepastian dalam berusaha, serta penguatan program hilirisasi supaya Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi di kancah internasional.

"Investasi hari ini menentukan masa depan generasi selanjutnya. Karena itu, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang semakin ramah bagi investor agar investasi terus tumbuh dan terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional," ucap Dendy.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index