JAKARTA - Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat jajaran armada pesawat demi memaksimalkan sokongan layanan transportasi bagi jamaah haji serta umrah dari Indonesia.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (persero) Glenny Kairupan saat konferensi pers mengenai optimalisasi penerbangan haji di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa penambahan unit armada ini sejalan dengan pencapaian tingkat ketepatan waktu atau On-Time Performance (OTP) yang sangat memuaskan pada musim haji kali ini.
"Dari kami, Garuda untuk mendukung umrah, kita akan menambahkan kekuatan pesawat. Khusus untuk jamaah haji tahun ini, OTP kita mencapai 98 persen," kata dia.
Ia menerangkan bahwa kemitraan strategis antara Garuda Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sekarang telah resmi berjalan demi memaksimalkan operasional penerbangan.
Lewat penerapan kerja sama tersebut, armada pesawat milik Garuda setelah mengantarkan jamaah haji nantinya tidak cuma melayani rute penerbangan pulang ke tanah air, tetapi juga diperbolehkan membuka rute penerbangan menuju negara lain.
"Nanti setelah kembali dari haji itu kita bisa melayani jamaah bukan hanya kembali ke Jakarta, tapi bisa juga ke Turki, bisa juga ke Malaysia, dan ini akan meningkatkan juga promosi kita, khususnya untuk pariwisata," kata dia menambahkan.
Di sisi lain, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Kemenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak memaparkan bahwa pemerintah mempunyai komitmen kokoh untuk memperkuat posisi maskapai nasional dengan target mendorong Garuda Indonesia agar mengangkut sedikitnya 50 persen dari total 3 juta jamaah umrah.
Kebijakan ini diambil menyusul keputusan otoritas penerbangan Arab Saudi, General Authority of Civil Aviation (GACA) yang telah menerbitkan izin resmi bagi maskapai Garuda Indonesia untuk memanfaatkan kompartemen kosong atau empty leg ketika pemulangan pesawat carter haji.
Upaya taktis dalam memperkuat maskapai nasional melalui penyediaan layanan yang lebih prima, ekonomis, serta efisien ini juga dilakukan dengan melihat besarnya potensi pergerakan jamaah dari Indonesia menuju Arab Saudi yang menyentuh angka 3,2 juta orang per tahun.
Mengacu pada data Kementerian Haji dan Umrah, total pergerakan tahunan tersebut meliputi 3 juta jamaah umrah dan 221.000 jamaah haji, dengan perputaran dana yang beredar diperkirakan mencapai Rp120 triliun hingga Rp180 triliun.
Ia mengimbuhkan bahwa besarnya nominal tersebut mendorong Presiden untuk menginstruksikan pembentukan tim khusus (task force) lintas kementerian bersama Garuda Indonesia guna menekan aliran modal ke luar negeri sekaligus menstimulasi aliran modal masuk.
"Presiden meminta kepada Garuda, Menteri Pariwisata, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Haji untuk membuat task force meminimalisasi cash outflow agar ketimpangan aliran dana keluar tersebut tidak terlalu besar," kata Dahnil, yang saat itu didampingi oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa serta Wakil Menteri Perhubungan Suntana.