Ciputra (CTRA) Berencana Revisi Target Marketing Sales 2026

Ciputra (CTRA) Berencana Revisi Target Marketing Sales 2026
PT Ciputra Development Tbk. (CTRA). (Foto: NET)

JAKARTA — Emiten properti milik begawan properti Ciputra, PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), membuka peluang untuk melakukan revisi terhadap target kinerja tahun 2026. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya tekanan pada industri properti serta kenaikan suku bunga acuan BI yang signifikan sepanjang tahun ini.

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18 Juni 2026, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. 

Dengan tambahan ini, total pengetatan kebijakan moneter—termasuk kenaikan darurat sebesar 25 bps pada 9 Juni 2026—telah mencapai 100 bps, angka tertinggi sejak April 2025.

Direktur CTRA, Harun Hajadi, mengakui bahwa tahun 2026 merupakan periode yang penuh tantangan bagi sektor properti. Menurutnya, karakteristik produk properti sebagai barang bernilai besar (big ticket item) membuat keputusan pembelian sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan psikologis konsumen. 

Hal tersebut berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, terutama pada segmen pembeli rumah yang mendominasi pasar.

Harun menjelaskan bahwa saat ini lebih dari 80% konsumen Ciputra adalah pembeli untuk kebutuhan sendiri (end-user). Selain itu, sekitar 70% transaksi pembelian produk Ciputra masih mengandalkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR), sehingga sensitivitas terhadap pergerakan suku bunga menjadi sangat tinggi.

Melihat kondisi tersebut, Harun mengindikasikan bahwa peluang untuk merevisi target marketing sales cukup terbuka, meskipun ia belum merinci besaran revisi tersebut secara gamblang. 

"Rasa-rasanya akan revisi," ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Sejauh ini, ia menilai sejumlah faktor eksternal belum sepenuhnya mendukung pertumbuhan penjualan properti, mulai dari ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi nilai tukar dolar AS, tren kenaikan suku bunga, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga maraknya kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor. 

"Properti itu big ticket item, bukan seperti beli baju atau celana yang nilainya kecil. Untuk membeli properti, terutama dengan fasilitas KPR, konsumen akan sangat berhati-hati dan membutuhkan suasana yang mendukung," imbuhnya.

Meskipun demikian, Harun tetap melihat kondisi ini sebagai bagian dari siklus bisnis yang lazim terjadi. 

"Kami melihatnya ini sebagai siklus yang memang harus diikuti. Semua industri memiliki siklusnya masing-masing," ujar Harun.

Andalkan Pendapatan Berulang

Di tengah ketidakpastian pasar, Ciputra terus memperkuat sumber pendapatan berulang (recurring income) untuk menopang kinerja jangka panjang. 

Saat ini, kontribusi segmen tersebut mencapai sekitar 26% dari total pendapatan perusahaan. Namun, Harun menegaskan bahwa peningkatan porsi recurring income tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan investasi besar serta waktu pembangunan yang panjang. 

"Proyek recurring income biasanya membutuhkan waktu pembangunan sekitar tiga tahun dan capex yang besar. Karena itu harus dipertimbangkan secara matang," jelasnya.

Saat ini, sumber pendapatan berulang terbesar Ciputra berasal dari pusat perbelanjaan (mal), disusul oleh hotel, lapangan golf di Surabaya, perkantoran, apartemen sewa, hingga rumah sakit Ciputra.

Strategi memperbesar porsi pendapatan berulang dinilai krusial guna mengurangi ketergantungan terhadap penjualan properti yang cenderung siklikal dan sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. 

Per kuartal I/2026, CTRA mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp2,55 triliun, turun 6,37% secara tahunan (year on year) dari Rp2,73 triliun pada kuartal I/2025.

Segmen penjualan neto dari kaveling, rumah hunian, dan ruko menyumbang Rp1,94 triliun. Penjualan apartemen memberikan kontribusi Rp11,9 miliar, sementara penjualan kantor sebesar Rp9,1 miliar. 

Adapun segmen pendapatan usaha memberikan total kontribusi sebesar Rp586,93 miliar. Secara keseluruhan, Ciputra Development mengantongi laba bersih Rp518,3 miliar per 31 Maret 2026, atau turun 21,51% year on year.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index