Jadikan Ekonomi Syariah Transformasi Ekonomi di Tengah Krisis

Jadikan Ekonomi Syariah Transformasi Ekonomi di Tengah Krisis
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard. (Foto: NET)

JAKARTA – Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah merupakan kunci pertumbuhan ekonomi nasional di tengah eskalasi dinamika geopolitik serta krisis global.

Ia menyampaikan di Jakarta, Rabu, bahwa dunia sedang berada dalam era ketidakpastian yang kian kompleks. Hal ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang berdampak langsung pada harga energi, pangan, logistik, hingga arus investasi.

Ia pun mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lagi menganggap bahwa gejolak global tersebut bersifat sementara dan situasi akan kembali normal seperti sedia kala.

“Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana kami mengubah krisis menjadi peluang transformasi ekonomi. Dan di sinilah relevansi ekonomi syariah menjadi semakin nyata," ujar Febrian Alphyanto Ruddyard dalam “Seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options from Regional Crisis”.

Ia memaparkan, ekonomi syariah kini bukan sekadar identitas maupun preferensi agama tertentu, sebab sistem tersebut menyediakan kerangka kerja konkret yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan prinsip keberlanjutan.

“Ketika kami memperkuat industri halal dan ekonomi syariah, kami sebenarnya sedang membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan," ujarnya pula.

Febrian mengungkapkan bahwa ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan krusial untuk menghadapi tiga tantangan masa depan: tingginya harga energi, meluasnya ketidakstabilan kawasan, serta potensi konflik berkepanjangan yang mengganggu ketahanan pangan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, negara tidak boleh memiliki ketergantungan berlebihan pada sumber energi tunggal atau pasar tunggal. Oleh karena itu, strategi ekonomi nasional harus beralih dari respons krisis jangka pendek menuju transformasi struktural demi memperkuat ketahanan ekonomi.

Pemerintah sendiri telah menetapkan tiga prioritas untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, yakni penguatan integrasi ekonomi antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), percepatan hilirisasi industri halal, serta penguatan koordinasi lintas sektor yang terpadu.

Febrian menyatakan, lewat program hilirisasi, Indonesia diharapkan mampu menjadi produsen, inovator, serta pusat jaringan rantai nilai halal global.

“Pada akhirnya, kekuatan suatu bangsa tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki. Kekuatan bangsa ditentukan oleh kemampuan untuk mengubah ketidakpastian menjadi peluang, tantangan menjadi inovasi, dan krisis menjadi momentum untuk kemajuan,” katanya lagi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index