JAKARTA - Industri asuransi jiwa di Indonesia menghadapi berbagai tantangan pada awal 2026, mulai dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil hingga perubahan perilaku masyarakat dalam mengatur keuangan.
Di tengah situasi tersebut, perusahaan asuransi dituntut untuk terus beradaptasi dengan strategi bisnis yang lebih inovatif agar mampu menjaga pertumbuhan kinerja.
Salah satu perusahaan yang menyiapkan berbagai langkah strategis adalah PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life. Perusahaan ini menargetkan peningkatan pendapatan premi sepanjang tahun 2026 dengan memaksimalkan berbagai kanal distribusi, memperkuat kemitraan dengan lembaga keuangan, serta menghadirkan inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Selain itu, perusahaan juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas layanan kepada nasabah, termasuk penguatan layanan purna jual atau after sales service. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga kepercayaan nasabah sekaligus meningkatkan kinerja bisnis secara berkelanjutan.
Fokus Perkuat Kemitraan dan Inovasi Produk
PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life akan fokus mengembangkan kerja sama dengan mitra-mitra bisnis, baik yang baru maupun existing, inovasi produk, dan terus meningkatkan layanan terutama after sales service kepada nasabah untuk mendongkrak perolehan premi pada tahun ini.
Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso menyampaikan fokus tersebut dilakukan untuk menjaga dan mendongkrak pendapatan premi perusahaan. Dia menyebut, saat ini Ciputra Life sudah bekerjasama dengan lebih dari 20 bank, multifinance, dan institusi keuangan lainnya di Indonesia.
“Terutama untuk memasarkan produk asuransi jiwa kredit yang memberikan perlindungan kepada nasabah yang mengambil kredit pemilikan rumah maupun nasabah kredit pemilikan kendaraan bermotor,” ucapnya.
Selain itu, pada pertengahan 2024 Ciputra Life juga memperluas segmen baru dengan meluncurkan produk asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi kecelakaan yang ditujukan ke karyawan nasabah korporasi.
Hengky berharap bahwa corporate solution ini bisa menjadi salah satu kontributor utama pada 2026.
“Kami juga senantiasa mengembangkan produk baru sesuai dengan kebutuhan nasabah dan meningkatkan layanan kepada nasabah, terutama melalui inisiatif digitalisasi sehingga nasabah dapat dengan mudah menjangkau kami dimanapun dan kapanpun,” ungkapnya.
Kanal Bancassurance dan Direct Marketing Tunjukkan Performa Positif
Lebih lanjut, Hengky menuturkan kinerja kanal bancassurance dan direct marketing yang menyediakan asuransi jiwa kredit dan asuransi kesehatan korporasi memberikan performa positif dalam mendukung perolehan premi pada awal 2026.
Baginya, dominasi kanal itu merefleksikan tingginya kepercayaan mitra korporasi dan institusi keuangan terhadap kapabilitas perusahaan dalam menyediakan solusi perlindungan yang relevan dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, ke depannya perusahaan akan terus memperkuat sinergi dengan para mitra distribusi, sekaligus mengembangkan kanal-kanal alternatif.
“Termasuk digital untuk menciptakan struktur distribusi yang lebih terdiversifikasi dan adaptif terhadap dinamika kebutuhan pasar,” sebutnya.
Pendapatan Premi Tumbuh Signifikan di Awal 2026
Hengky melanjutkan, pada Januari 2026 Ciputra Life mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp60,13 miliar, tumbuh 58,52% (year on year/YoY) dari Rp37,93 miliar.
Sementara itu, klaim yang dibayarkan perusahaan mencapai Rp15 miliar, meningkat 74,46% YoY.
“Hal ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam memberikan perlindungan nyata kepada pemegang polis sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ucapnya.
Dia menambahkan bahwa lini asuransi kesehatan kumpulan (group health) tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap total pendapatan premi perusahaan.
Menurutnya, hal tersebut mencerminkan semakin meningkatnya kebutuhan korporasi dalam menyediakan perlindungan kesehatan yang komprehensif bagi karyawan, sekaligus menunjukkan potensi pertumbuhan yang kuat pada segmen Corporate Solution.
Di sisi lain, imbuhnya, asuransi jiwa kredit tetap diposisikan sebagai salah satu fondasi utama portofolio perusahaan. Sebab itu, produk ini akan terus dikembangkan melalui penguatan kerja sama dengan mitra bisnis.
“Dengan kombinasi portofolio tersebut yakni segmen Corporate Solution terus berkembang dan Asuransi Jiwa Kredit tetap menjadi basis bisnis yang solid, kami optimis struktur pertumbuhan premi perusahaan akan semakin berimbang dan berkelanjutan sepanjang 2026,” tegasnya.
Industri Asuransi Jiwa Masih Hadapi Tantangan Ekonomi
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai premi industri asuransi jiwa pada Januari 2026 turun sebesar 6,15% YoY menjadi Rp17,97 triliun.
Ciputra Life menilai kontraksi ini adalah dampak dari ketidakpastian ekonomi. Hengky berujar saat ini sebagian masyarakat cenderung memprioritaskan likuiditas untuk kebutuhan esensial jangka pendek, sehingga menahan pengeluaran bernilai besar.
“Meski demikian, kami meyakini kondisi ini bersifat sementara dan prospek permintaan terhadap produk terkait proteksi jangka panjang akan kembali menguat seiring membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan finansial,” pungkasnya.