Menekraf

Menekraf Dorong Galeri Budaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kreatif Nasional

Menekraf Dorong Galeri Budaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kreatif Nasional
Menekraf Dorong Galeri Budaya Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kreatif Nasional

JAKARTA - Pemanfaatan ruang budaya kini tidak lagi dipandang sebatas upaya pelestarian sejarah, melainkan mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi kreatif. 

Pendekatan ini menegaskan bahwa nilai budaya dapat menjadi sumber daya produktif jika dikelola secara inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menilai galeri budaya memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif. Pandangan tersebut disampaikannya saat menyoroti keberadaan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), yang dinilai mampu merekam sejarah sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis narasi budaya.

“Budaya adalah modal masa depan. Sejarah, seni, tradisi, dan cerita hidup yang diolah secara kreatif mampu melahirkan nilai tambah ekonomi, membuka ruang inovasi, serta memperkuat daya saing pegiat kreatif,” ujar Teuku Riefky.

Budaya sebagai Modal Strategis Ekonomi Kreatif

Menurut Menteri Ekraf, pendekatan pembangunan berbasis budaya menjadi semakin relevan di tengah dinamika ekonomi global. Galeri budaya tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer artefak, tetapi juga sebagai medium untuk mentransformasikan nilai-nilai sejarah menjadi inspirasi bagi berbagai subsektor kreatif.

Galeri Budaya Tionghoa Indonesia dinilai menghadirkan contoh konkret bagaimana kekayaan budaya dapat dikemas secara edukatif sekaligus atraktif. Melalui narasi sejarah dan pengalaman visual, galeri ini menempatkan budaya sebagai sumber ide, inovasi, dan identitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Teuku Riefky menambahkan bahwa penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan dan berdaya saing. Dalam konteks tersebut, galeri budaya menjadi simpul penting yang menghubungkan sejarah, kreativitas, dan peluang ekonomi.

Ruang Edukasi yang Merefleksikan Keberagaman

Galeri Budaya Tionghoa Indonesia dirancang sebagai ruang edukasi dan interaksi publik yang merekam perjalanan panjang komunitas Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia. Galeri ini menampilkan ruang-ruang tematik yang menggambarkan dinamika sejarah, ketangguhan, serta kontribusi masyarakat Tionghoa dari masa ke masa.

Mulai dari proses kedatangan, pengalaman lintas generasi, hingga praktik akulturasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya, seluruh narasi disusun dengan pendekatan kuratorial yang menekankan kebersamaan. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman publik, tetapi juga memperkuat pesan tentang keberagaman sebagai fondasi persatuan bangsa.

“Nilai akulturasi, kebersamaan, dan keberagaman yang ditampilkan di ruang seperti ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan bangsa sekaligus memperkaya industri kreatif,” lanjut Teuku Riefky.

Mendorong Ekosistem Kreatif yang Inklusif

Keberadaan galeri budaya juga dinilai membuka ruang kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas, institusi pendidikan, hingga pelaku industri kreatif. Kolaborasi ini berpotensi melahirkan produk kreatif berbasis budaya, seperti desain, seni pertunjukan, konten edukatif, hingga narasi visual yang relevan dengan generasi muda.

Kementerian Ekraf mendorong pemanfaatan galeri budaya sebagai platform dialog antargenerasi. Melalui dialog tersebut, nilai-nilai sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga diinterpretasikan ulang sesuai konteks kekinian, sehingga tetap hidup dan relevan.

Selain itu, galeri budaya diharapkan dapat memperkuat ekosistem kreatif yang inklusif dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Dengan demikian, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya terpusat, tetapi juga menyebar ke pelaku UMKM, seniman, serta komunitas lokal.

Inovasi Penyajian Sejarah yang Lebih Aksesibel

CEO of Amantara Agung Sedayu Group Natalia Kusumo menilai Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir sebagai ruang edukasi sejarah yang disajikan secara inovatif. Pendekatan ini bertujuan agar informasi sejarah dapat dipahami oleh berbagai kalangan pengunjung.

“Di dalam ada animasi, ada foto-foto, ada bacaan-bacaan dan juga pengalaman yang paling penting merasakan suasana ketika leluhur dari warga Indonesia yang berasal dari Tionghoa,” ujarnya.

Penyajian sejarah melalui pengalaman visual dan interaktif dinilai mampu meningkatkan daya tarik galeri sekaligus memperluas jangkauan edukasi budaya. Inovasi tersebut juga membuka peluang pengembangan kekayaan intelektual berbasis pengalaman pengunjung, yang menjadi salah satu pilar ekonomi kreatif.

Integrasi Budaya dan Kreativitas untuk Daya Saing Global

Kementerian Ekraf meyakini bahwa integrasi antara budaya dan kreativitas dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan kualitas karya kreatif nasional. Melalui pengelolaan ruang budaya yang inovatif, identitas nasional dapat diperkuat dan dipromosikan di tingkat global.

Pemanfaatan galeri budaya sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif diharapkan mampu menciptakan nilai tambah berkelanjutan. Tidak hanya berfungsi sebagai penjaga memori kolektif bangsa, galeri budaya juga menjadi ruang produktif yang melahirkan gagasan, kolaborasi, dan peluang ekonomi baru.

Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak lagi diposisikan sebagai warisan statis, melainkan sebagai modal dinamis yang terus berkembang. Galeri Budaya Tionghoa Indonesia menjadi contoh bagaimana ruang budaya dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index