OJK

OJK Ingatkan Waspada Love Scam, Kejahatan Finansial Digital Meningkat

OJK Ingatkan Waspada Love Scam, Kejahatan Finansial Digital Meningkat
OJK Ingatkan Waspada Love Scam, Kejahatan Finansial Digital Meningkat

JAKARTA - Fenomena penipuan berkedok asmara atau love scam menjadi tren kejahatan finansial digital yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia maupun dunia.

Modus ini memanfaatkan hubungan emosional virtual untuk membujuk korban mentransfer uang dalam jumlah besar, menimbulkan kerugian finansial sekaligus dampak psikologis yang signifikan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa love, relationship, atau romance scam sedang meningkat secara global. Di Indonesia, kasus serupa baru-baru ini terungkap di Yogyakarta, yang melibatkan sindikat internasional.

“Terbukti juga di Indonesia yang baru saja kejadian adalah di Yogyakarta ditemukan satu sindikat yang beroperasi secara internasional,” ujar Friderica dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025, Jumat, di Jakarta.

Sindikat Love Scam di Yogyakarta

Kasus terbaru dibongkar oleh Kepolisian Resor Kota Yogyakarta di Kabupaten Sleman. Operasi tangkap tangan dilakukan pada Senin, 5 Januari 2025 pukul 13.00 WIB di kantor PT Altair Trans Service, Jalan Gito Gati, Kecamatan Ngaglik. Sindikat ini memanfaatkan aplikasi kencan daring, kloningan dari aplikasi asal China bernama WOW, untuk menjerat korban.

Para pegawai perusahaan itu berperan sebagai admin percakapan yang menyamar sebagai perempuan sesuai negara asal pengguna. Mereka membujuk korban membeli koin atau melakukan top up untuk mengirim gift dalam aplikasi. Setelah korban mengirim gift, mereka kemudian mengirim konten secara bertahap berupa foto dan video yang mengandung materi pornografi.

Korban yang terjerat berasal dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. "Para scammer-scammer ini menargetkan korban di berbagai negara melalui internet dan aplikasi, sehingga kalau kita melihat kejahatan seperti ini adalah risiko lintas batas yang sangat tinggi," kata Friderica, yang akrab disapa Kiki.

Dampak Emosional dan Finansial

Love scam bukan hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dampak psikologis yang cukup berat. Menurut OJK, para korban dimanipulasi secara emosional, merasa memiliki hubungan atau relationship yang spesial dengan lawan jenis, sehingga secara sukarela mentransfer uang dalam jumlah besar.

“Para korban ini dimanipulasi secara emosinya, merasa memiliki hubungan atau memiliki relationship dan mungkin kemudian dipersuasi dan sebagainya, sehingga para korban secara sukarela men-transfer sejumlah uangnya karena merasa memiliki hubungan yang khusus spesial dengan lawan jenis, sehingga mereka mengalami kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar,” jelas Kiki.

Selain kerugian finansial, korban sulit pulih dari trauma emosional akibat manipulasi. Dampak psikologis ini seringkali lebih sulit disembuhkan dibandingkan kerugian materi.

Upaya Satgas PASTI dan OJK

OJK melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) terus mengimbau masyarakat agar waspada terhadap berbagai bentuk penipuan, termasuk love scam. Satgas memanfaatkan beragam kanal komunikasi, mulai dari media sosial, media massa, transportasi massal, podcast, hingga perbankan, seperti ATM dan aplikasi mobile banking.

“Satgas PASTI memanfaatkan berbagai kanal komunikasi untuk menjangkau masyarakat secara luas dengan memberikan pesan-pesan anti-scam yang disebarkan melalui social media, kemudian media massa, sarana transportasi massal, podcast, serta berbagai media lainnya ditampilkan secara langsung di kanal lainnya, perbankan seperti di ATM, kemudian aplikasi mobile banking, dan sebagainya,” kata Kiki.

Hingga akhir 2025, Indonesia Anti Scam Center telah menerima 3.494 laporan masyarakat yang menjadi korban love scam, dengan total kerugian mencapai Rp49,19 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa modus penipuan berbasis asmara semakin marak dan merugikan banyak pihak.

Pentingnya Edukasi dan Kewaspadaan

OJK mengingatkan masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terkait penipuan yang manipulatif, terutama yang memanfaatkan hubungan emosional atau asmara virtual. Edukasi konsumen menjadi salah satu kunci utama untuk mencegah jatuhnya korban baru.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk skeptis terhadap permintaan transfer uang dari orang yang hanya dikenal secara daring, bahkan jika percakapan terlihat akrab atau menyentuh emosional. Love scam biasanya melibatkan skema yang terstruktur, dengan para pelaku berperan sebagai admin percakapan profesional yang memahami psikologi korban.

“Kami selalu mengajak seluruh masyarakat untuk terus berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terkait berbagai hal manipulatif, terutama terkait love scam,” pungkas Kiki.

Dengan semakin canggihnya metode penipuan digital, kesadaran publik dan edukasi finansial menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terperangkap oleh modus love scam yang semakin beragam dan lintas batas negara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index