Kolaborasi Indonesia Jepang

Kolaborasi Indonesia Jepang Dorong Riset Kampus Menuju Penguatan Industri Nasional

Kolaborasi Indonesia Jepang Dorong Riset Kampus Menuju Penguatan Industri Nasional
Kolaborasi Indonesia Jepang Dorong Riset Kampus Menuju Penguatan Industri Nasional

JAKARTA - Penguatan industri nasional kini tidak lagi hanya bergantung pada investasi dan kebijakan ekonomi, tetapi juga pada kualitas riset yang dihasilkan perguruan tinggi.

Pemerintah Indonesia melihat pentingnya mengarahkan penelitian akademik agar mampu menjawab tantangan industri secara langsung. Oleh karena itu, kolaborasi riset internasional menjadi salah satu strategi utama untuk mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi ke sektor industri.

Langkah ini tercermin dari kerja sama antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang. Kolaborasi tersebut difokuskan pada riset industri yang bersifat aplikatif, sehingga hasilnya dapat lebih cepat dimanfaatkan dalam pengembangan industri nasional.

Skema “One Step to Industry” Jadi Fokus Kerja Sama

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menjelaskan bahwa kerja sama yang ditawarkan oleh pemerintah Jepang melalui NEDO memiliki pendekatan berbeda dari riset akademik pada umumnya. Penelitian yang dilakukan tidak terlalu fundamental, melainkan berada satu langkah sebelum tahap industri.

"Pemerintah Jepang melalui NEDO menawarkan beberapa skema kerja sama penelitian. Kerja sama penelitian yang ditawarkan adalah penelitian yang sifatnya penyiapan untuk industri, jadi disebutnya one step to industry," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, pendekatan ini sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia yang tengah mendorong penguatan industri berbasis teknologi dan inovasi.

Perguruan Tinggi, Industri, dan BUMN Dilibatkan Bersama

Brian menambahkan bahwa skema penelitian ini akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Selain perguruan tinggi dan para profesor, kerja sama ini juga menggandeng Danantara sebagai perwakilan kepentingan industri-industri BUMN di Indonesia, serta industri-industri dari Jepang.

Pelibatan berbagai pihak tersebut bertujuan agar riset yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar selaras dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, hasil penelitian dapat langsung diarahkan untuk mendukung pembangunan sektor strategis.

Fokus Riset pada Industri Dasar dan Hilirisasi

Sejumlah bidang riset prioritas telah disiapkan dalam kerja sama ini. Brian menyebutkan bahwa penelitian akan difokuskan pada pendirian dan penguatan industri-industri dasar yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Bidang tersebut antara lain industri semikonduktor, silikon, sel surya, serta industri hilirisasi mineral.

"Kita akan menawarkan kepada teman-teman pendidikan tinggi dan profesor-profesor. Jepang juga akan memberikan beberapa profesornya dan juga industrinya kita akan libatkan," ujarnya.

Fokus tersebut dinilai strategis karena mampu mendorong kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

Riset Terapan, Bukan Lagi Sekadar Riset Dasar

Lebih lanjut, Mendiktisaintek menegaskan bahwa orientasi riset dalam kolaborasi ini berbeda dari pendekatan akademik konvensional. Penelitian yang dilakukan tidak lagi berfokus pada riset dasar, melainkan riset terapan yang langsung mendukung pembangunan industri maju.

"Jadi, nanti diharapkan riset atau kajian yang akan berlangsung fokus kepada pembangunan industri maju di Indonesia. Jadi bukan lagi yang sifatnya riset dasar," lanjut Mendiktisaintek Brian Yuliarto.

Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat proses komersialisasi hasil riset serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Target Industri Baru dalam Satu hingga Dua Tahun

Pemerintah menaruh harapan besar terhadap hasil dari kolaborasi ini. Brian menyampaikan bahwa dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke depan, industri-industri yang lahir dari program riset tersebut diharapkan sudah dapat berdiri dan beroperasi.

Harapan ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa riset tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian.

NEDO Dorong Riset yang Menjawab Masalah Sosial

Dari pihak Jepang, Direktur Eksekutif NEDO Kikuo Kishimoto menegaskan bahwa keterlibatan lembaganya tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan semata. Menurutnya, riset dan pengembangan juga harus mampu menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi manusia.

Bagi Kishimoto, isu-isu seperti energi, lingkungan, dan kesejahteraan hidup merupakan tantangan global yang membutuhkan solusi berbasis inovasi teknologi.

"Bagi pengembangan industri, kata dia, manusia perlu menyelesaikan masalah sosial seperti energi, lingkungan, dan juga kesejahteraan hidup."

Kolaborasi untuk Masa Depan Bersama

Kishimoto menekankan bahwa riset dan pengembangan seharusnya memberikan kontribusi nyata bagi masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, NEDO memandang kerja sama dengan Indonesia sebagai kesempatan untuk membangun inovasi bersama yang berdampak luas.

"Jadi, R&D seharusnya berkontribusi ke arah tersebut. Jadi kami berpikir tentang perkembangan baru bersama Indonesia. Kami berharap bukan hanya melakukan R&D, tapi kita juga berpikir tentang masa depan, menciptakan dunia yang baik," tutur Kikuo Kishimoto.

Melalui kolaborasi ini, Indonesia dan Jepang tidak hanya mempererat hubungan bilateral di bidang pendidikan dan teknologi, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi pengembangan industri berbasis riset. Sinergi antara kampus, pemerintah, dan industri diharapkan mampu mendorong daya saing nasional sekaligus menciptakan inovasi yang berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index