Wamen Stella Christie

Wamen Stella Christie Tegaskan Interaksi Keluarga Kunci Bangun Kecerdasan Anak

Wamen Stella Christie Tegaskan Interaksi Keluarga Kunci Bangun Kecerdasan Anak
Wamen Stella Christie Tegaskan Interaksi Keluarga Kunci Bangun Kecerdasan Anak

JAKARTA - Di era modern, interaksi dalam keluarga menghadapi tantangan besar akibat dominasi gawai dan media sosial. 

Banyak waktu berkualitas yang seharusnya digunakan untuk berbincang, makan bersama, atau membangun ikatan keluarga justru tersita oleh layar digital. 

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menyoroti pentingnya interaksi langsung dalam keluarga sebagai fondasi pembangunan karakter dan kecerdasan anak.

“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial dimana tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” kata Stella.

Fenomena ini menunjukkan bahwa waktu makan yang seharusnya menjadi sarana membangun komunikasi justru sering tergantikan oleh konsumsi konten digital. Menurut Stella, momen sederhana seperti makan bersama memiliki peran penting dalam pembentukan nilai dan kemampuan kognitif anak.

Waktu Indonesia dengan Media Sosial

Data menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu tiga jam delapan menit setiap hari untuk media sosial, dan bila digabung dengan penggunaan internet secara umum, angkanya melonjak hingga tujuh jam. Angka ini lebih tinggi lagi pada generasi Z, yang bisa menghabiskan hingga empat jam khusus untuk media sosial.

Kebiasaan ini berdampak pada berkurangnya waktu untuk interaksi langsung antara orang tua dan anak, yang menurut Stella sangat penting untuk membangun kecerdasan bahasa dan kemampuan belajar. 

Ia menegaskan bahwa interaksi langsung tetap lebih efektif dibandingkan pembelajaran melalui layar, meskipun dilakukan bersama orang tua.

Bukti Empiris tentang Interaksi Anak-Orang Tua

Stella memaparkan hasil eksperimen yang dilakukan Profesor DeLoach terkait pembelajaran balita. Studi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar kosa kata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua jauh lebih unggul dibandingkan mereka yang menonton video edukasi, meskipun video ditonton bersama orang tua.

“Ada fenomena 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, yang secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah di masa depan,” ujar Stella.

Fenomena ini menegaskan bahwa pembelajaran aktif melalui komunikasi langsung lebih efektif daripada konsumsi pasif dari gawai, karena anak dapat menerima umpan balik real-time yang mendorong perkembangan berpikir kritis.

Strategi Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak

Salah satu fokus Stella adalah menumbuhkan rasa ingin tahu anak melalui tanya jawab berkualitas. Orang tua didorong untuk memberikan jawaban yang membangun struktur berpikir anak, bukan jawaban singkat yang menutup diskusi.

“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif, karena gawai tidak bisa memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambah Stella.

Dengan cara ini, interaksi keluarga menjadi sarana pendidikan yang efektif sekaligus momen membangun kenangan dan nilai moral.

Meja Makan Sebagai Pusat Interaksi Keluarga

Meja makan menjadi simbol penting dalam interaksi keluarga. Stella mengingatkan bahwa inti dari keluarga adalah penanaman nilai dan penciptaan kenangan bahagia.

Jika komunikasi di meja makan digantikan oleh layar, anak-anak justru menyerap nilai yang dibentuk algoritma media sosial, bukan dari orang tua.

“Keluarga adalah jangkar kemanusiaan. Kita adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran. Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” ucap Stella Christie.

Hari Keluarga dan Momentum Perkuat Ikatan

Beberapa akademisi menekankan pentingnya momentum seperti Hari Keluarga Internasional atau kondisi WFH untuk memperkuat interaksi antara orang tua dan anak.

Stella mendukung gagasan ini sebagai kesempatan untuk menciptakan bonding yang berkualitas, membangun komunikasi yang sehat, dan mengoptimalkan potensi kecerdasan anak melalui pembelajaran aktif di rumah.

Kesadaran Orang Tua sebagai Kunci

Kendati tantangan era digital sulit dihindari, Stella menegaskan bahwa kesadaran orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk kecerdasan anak. 

Orang tua perlu membatasi penggunaan gawai saat bersama anak, memanfaatkan waktu makan dan aktivitas harian untuk membangun komunikasi, serta mendorong rasa ingin tahu melalui diskusi yang bermakna.

“Jangan sampai interaksi yang seharusnya membangun kemampuan kognitif anak digantikan oleh konten digital yang tidak memberi umpan balik,” jelas Stella.

Era digital membawa kemudahan, tetapi juga risiko menurunkan kualitas interaksi keluarga. Menurut Wamen Stella Christie, interaksi langsung antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting bagi perkembangan kecerdasan, kosa kata, dan kemampuan belajar anak. 

Makan bersama tanpa gawai, berdiskusi, dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui tanya jawab berkualitas menjadi strategi utama untuk mengatasi tantangan ini.

Dengan kesadaran dan komitmen orang tua, interaksi keluarga bisa menjadi sarana pendidikan, membangun karakter, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index