JAKARTA - Pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan menghadirkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini bertujuan untuk memastikan seluruh warga Indonesia, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia, mendapatkan akses layanan kesehatan berkualitas tanpa biaya.
"Dengan adanya program CKG, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan masyarakat secara lebih dini sehingga memungkinkan langkah pencegahan dan penanganan penyakit yang lebih cepat dan efektif," ujar Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan DIY, Siti Nurhayati Isfandiari, SKM MPH, dalam acara Diseminasi Konten Positif bertema "Sukseskan Program Cek Kesehatan Gratis" di Aula BLLK Dinkes DIY, Ngadinegaran, Mantrijeron, Yogyakarta.
Pendaftaran Cek Kesehatan Gratis Dibuka untuk Semua Warga
Saat ini, pendaftaran program CKG telah dibuka untuk warga yang lahir pada Januari hingga Maret. Namun, bagi mereka yang lahir pada bulan Desember tetap diberikan kesempatan untuk mendaftar. Pendaftaran program ini berlangsung hingga 30 April 2025.
"Masyarakat bisa langsung datang ke Puskesmas terdekat dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga (KK). Selain itu, pendaftaran juga bisa dilakukan melalui Aplikasi Satu Sehat Mobile serta Chatbot WhatsApp di nomor 081110500567," jelas Siti Nurhayati.
Selain membuka akses yang lebih luas, program ini juga melibatkan berbagai pihak untuk memastikan sosialisasi berjalan dengan baik.
Peran Kader PKK dalam Sosialisasi Program CKG
Ketua Tim Penggerak PKK DIY, Sri Herawati, SH, MSi, menegaskan bahwa kader-kader PKK dari tingkat RT/RW hingga ke tingkat provinsi siap memberikan edukasi dan sosialisasi terkait program CKG kepada masyarakat.
"Menjaga kualitas kesehatan keluarga sangat penting, terutama bagi anak-anak dan cucu kita sebagai generasi penerus bangsa," ujarnya.
Sebelumnya, sosialisasi juga telah dilakukan secara daring dengan menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya dr. Pramutia Haryati Harirama, MKK dari Kementerian Kesehatan RI, serta dr. Braghmandita Widya Indraswari, MSc, SpA, MKes, yang merupakan dokter spesialis anak dan pediatri sosial.
Skrining Kesehatan untuk Semua Kelompok Usia
Menurut dr. Pramutia, cakupan skrining kesehatan di Indonesia masih tergolong rendah. Oleh karena itu, program CKG menyasar semua kelompok usia, mulai dari balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia.
"Untuk skrining kesehatan di sekolah, program ini akan dimulai pada Juni 2025, bertepatan dengan Tahun Ajaran Baru. Sementara itu, untuk ibu hamil dan balita, pemeriksaan dapat dilakukan di Puskesmas dan Posyandu," paparnya.
Dengan pendekatan ini, diharapkan lebih banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin dan melakukan langkah pencegahan lebih dini terhadap berbagai penyakit.
Perhatian Khusus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Sementara itu, dr. Braghmandita menambahkan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, merupakan fase kritis dalam pertumbuhan anak. Periode ini kemudian berlanjut pada masa balita (2-5 tahun), usia pra-sekolah, dan usia sekolah.
"Kecepatan pertumbuhan anak dalam kandungan hingga usia 18 tahun mengalami percepatan dan perlambatan pada fase tertentu. Perkembangan pada masa kini akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan di masa depan, sehingga penting untuk selalu melakukan pemantauan kesehatan secara rutin," tegasnya.
Dengan adanya program CKG, deteksi dini terhadap masalah pertumbuhan dan kesehatan pada anak, remaja, serta orang dewasa dapat semakin ditingkatkan.
Pencegahan Penyakit Sejak Dini
Lebih lanjut, dr. Braghmandita mengingatkan bahwa masalah kesehatan di usia anak, termasuk gizi buruk atau obesitas, dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit hati, hingga gangguan fungsi ginjal.
"Banyak penyakit kronis yang berawal dari kebiasaan hidup di usia anak-anak. Oleh karena itu, deteksi dini melalui program CKG sangat penting untuk mencegah penyakit di masa depan," katanya.
Melalui program ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan dan menerapkan gaya hidup sehat. Dengan demikian, angka kesakitan dan beban penyakit di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.