JAKARTA - Raksasa otomotif China, BYD, terus memperkuat posisinya di pasar Eropa dengan mempertimbangkan pendirian pabrik ketiga di benua tersebut. Jerman menjadi salah satu kandidat utama sebagai lokasi produksi terbaru BYD dalam upaya meningkatkan penjualan kendaraan listrik (EV) dan mengurangi dampak tarif impor yang diberlakukan Uni Eropa terhadap produk buatan China.
Ekspansi Strategis untuk Memperluas Pangsa Pasar
Dilaporkan oleh Reuters pada Selasa, 18 Maret 2025, BYD tengah mengkaji kemungkinan mendirikan fasilitas manufaktur dan perakitan di Jerman sebagai bagian dari strategi ekspansi globalnya. Dengan memiliki basis produksi di Eropa, BYD berharap dapat menekan harga jual kendaraan listriknya, meningkatkan daya saing, serta memperkuat kehadiran merek di pasar otomotif Eropa.
Selain alasan ekonomi, langkah ini juga bertujuan untuk menghindari kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Uni Eropa terhadap kendaraan listrik rakitan China. Pendirian pabrik di Eropa memungkinkan BYD untuk menghindari beban tarif tersebut, sehingga dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif bagi konsumen.
Jerman sebagai Kandidat Utama: Tantangan dan Peluang
Meskipun Jerman menjadi salah satu negara yang dipertimbangkan sebagai basis produksi baru, keputusan ini tidak luput dari berbagai tantangan. Biaya tenaga kerja dan energi yang tinggi di Jerman menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan secara matang. Selain itu, tingkat produktivitas dan fleksibilitas dalam industri manufaktur di negara tersebut juga menjadi aspek yang diperhitungkan oleh BYD.
"Perusahaan ingin membangun kepercayaan dan penerimaan merek di kalangan konsumen Eropa dengan menghadirkan produksi lokal. Oleh karena itu, wilayah Eropa Barat menjadi pilihan utama dalam ekspansi ini," ungkap seorang sumber.
Namun, BYD tetap mengikuti arahan dari kantor pusat di Beijing terkait kebijakan investasi di luar negeri. Perusahaan secara tegas menghindari negara-negara yang mendukung kebijakan tarif impor terhadap kendaraan listrik China. Hal ini menyebabkan BYD tidak memiliki rencana investasi di Italia dan Prancis, mengingat kedua negara tersebut secara aktif mendukung kebijakan tarif yang diberlakukan Uni Eropa.
Peluang Akuisisi Pabrik Volkswagen
Sebelumnya, pada Januari 2025, sejumlah pejabat dan perwakilan dari industri otomotif China, termasuk BYD, telah mengunjungi beberapa pabrik di Jerman yang berpotensi ditutup. Beberapa sumber menyebut bahwa pabrik-pabrik Volkswagen yang tidak lagi beroperasi menjadi salah satu target akuisisi BYD. Jika rencana ini terealisasi, perusahaan dapat dengan cepat membangun jalur produksi baru tanpa harus membangun fasilitas dari nol, sehingga mempercepat proses produksi dan distribusi kendaraan listrik di Eropa.
Dua Pabrik Baru di Hongaria dan Turki
Selain rencana ekspansi ke Jerman, BYD telah mengonfirmasi keberadaan dua pabrik manufaktur di Eropa. Pabrik pertama berlokasi di Hongaria dan dijadwalkan memulai produksinya pada Oktober 2025. Sementara itu, pabrik kedua yang terletak di Turki akan mulai beroperasi pada Maret 2026. Ketika kedua pabrik ini mulai berjalan secara penuh, kapasitas produksi BYD di Eropa diperkirakan mencapai 500.000 unit kendaraan per tahun.
Ekspansi ini menunjukkan keseriusan BYD dalam memperkuat posisinya sebagai salah satu pemimpin industri kendaraan listrik global. Dengan semakin banyaknya pabrik di wilayah Eropa, perusahaan dapat memastikan kelangsungan bisnisnya di tengah meningkatnya persaingan dan regulasi ketat yang diterapkan Uni Eropa.
Langkah BYD untuk menjadikan Jerman sebagai basis produksi ketiganya di Eropa mencerminkan strategi jangka panjang dalam menghadapi persaingan pasar kendaraan listrik global. Dengan memperluas kapasitas produksi, menekan biaya distribusi, serta menghindari hambatan tarif impor, BYD berupaya memperkuat daya saingnya di Eropa. Keputusan akhir terkait lokasi pabrik baru masih dalam tahap pertimbangan, namun jelas bahwa BYD memiliki ambisi besar untuk mendominasi pasar kendaraan listrik di benua biru.