JAKARTA — Di tengah gejolak ekonomi global, rupiah kembali menunjukkan performa positif dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, rupiah terapresiasi 0,08 persen atau naik 13 poin, berada di level Rp16.337 per dolar AS. Tren penguatan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS, dipicu berbagai sentimen global dan kebijakan ekonomi yang tengah menjadi perhatian investor.
Menurut Ariston Tjendra, seorang Analis Pasar Uang, fluktuasi nilai tukar ini sangat dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar. "Indeks dolar balik lagi ke bawah 107, bergerak di area 106,50. Dolar AS mengalami tekanan karena ketidakjelasan Trump menerapkan kenaikan tarif impor," ungkap Ariston.
Pengaruh Kebijakan Trump
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi penurunan nilai dolar adalah kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Trump telah menunda beberapa kenaikan tarif impor, termasuk terhadap Kanada dan Meksiko. Lebih lanjut, Trump memberikan sinyal positif bahwa kesepakatan dagang baru dengan Tiongkok mungkin bisa tercapai. Pernyataan ini memberikan sentimen positif untuk aset berisiko, termasuk mata uang di pasar negara berkembang seperti rupiah.
Ariston menjelaskan bahwa selain dari kebijakan tarif, data ekonomi AS yang dirilis belakangan ini juga menunjukkan hasil yang di luar perkiraan, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap dolar AS. "Hal tersebut memberikan sentimen positif ke aset berisiko. Disamping data ekonomi AS yang dirilis semalam, ternyata diluar perkiraan yang membuat dolar tertekan," lanjutnya.
Data Ekonomi AS Menekan Dolar
Data ekonomi yang turut memberikan kontribusi terhadap pelemahan dolar adalah klaim tunjangan pengangguran dan data indeks manufaktur area Philadelphia. Kedua indikator ini menunjukkan hasil yang lebih buruk dari perkiraan. Kondisi ini menjadi pertimbangan bagi investor dalam menentukan keputusan investasi mereka.
"Data ekonomi yang kurang menggembirakan dari AS ini menambah tekanan ke dolar AS, membuat pelaku pasar cenderung melirik mata uang lainnya, termasuk rupiah," jelas Ariston.
Potensi Penguatan Rupiah
Dengan dinamika yang terjadi di pasar global, rupiah diperkirakan akan terus menunjukkan potensi penguatan. Rupiah yang bergerak menguat pagi ini dinilai dapat menguji area Rp16.240. "Adapun resisten, di level tertinggi hari ini, di kisaran Rp16.350 per dolar AS," tutur Ariston.
Dampak Suku Bunga dan Kekhawatiran Perang Dagang
Isu mengenai suku bunga juga menjadi faktor yang diperhatikan oleh para pelaku pasar. Diperkirakan, kebijakan suku bunga yang akan diterapkan oleh bank sentral di berbagai negara dapat membuat nilai tukar rupiah berfluktuasi. Selain itu, ketegangan mengenai perang dagang yang turut meningkat juga menjadi perhatian utama. Baca juga: Kekhawatiran Perang Dagang Meningkat, Rupiah Kembali Melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mendapat dampak dari situasi global ini, ditutup turun ke level 6.788. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terkait dengan ketidakstabilan ekonomi global. Meski demikian, dengan adanya sentimen positif dari penguatan rupiah, diharapkan pasar saham Indonesia bisa kembali stabil.
Penguatan rupiah yang terjadi baru-baru ini merupakan cerminan dari kombinasi antara kebijakan ekonomi global, data ekonomi AS yang mengecewakan, dan sinyal positif dari kebijakan dagang Amerika Serikat. Seiring dengan ketidakpastian global yang masih akan terus berlangsung, para pelaku pasar diharapkan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan yang ada. Interaksi antara kebijakan moneter dan fiskal di tingkat internasional akan terus menjadi faktor penentu dalam pergerakan nilai mata uang, termasuk rupiah.
Dampak dari kondisi ini juga memberikan pengaruh pada pasar lainnya, mengingat pentingnya stabilitas nilai tukar bagi perekonomian Indonesia. Para investor, baik lokal maupun asing, diharapkan terus memantau perubahan kebijakan serta indikator ekonomi yang dapat mempengaruhi nilai tukar. Dengan strategi yang tepat, diharapkan rupiah dapat terus menguat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.