Menkeu Sebut APBN per Agustus 2026 On Track, Defisit 0,93 Persen PDB

Sabtu, 19 September 2026 | 03:47:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 0,93 persen dari produk domestik bruto. Keseimbangan primer tercatat positif dengan pendapatan negara Rp2.055,6 triliun atau 65 persen dari target. Suahasil menyebut perjalanan anggaran negara secara keseluruhan relatif on track meski tekanan global meningkat.

Menurut Suahasil, angka defisit Rp240,1 triliun masih berada dalam batas aman terhadap produk domestik bruto. Pemerintah mencatat keseimbangan primer positif, yang berarti penerimaan negara masih menutupi belanja di luar pembayaran bunga utang.

Pendapatan Negara Capai 65 Persen Target

Dari sisi penerimaan, APBN mengantongi Rp2.055,6 triliun hingga akhir Agustus. Capaian itu setara 65 persen dari target yang ditetapkan dalam anggaran tahun ini.

"Ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track. Pendapatan negara Rp2.055,6 triliun, 65 persen dari target. Belanja negaranya Rp2.295,7 triliun (59,7 persen dari pagu). Angka defisitnya adalah Rp240,1 triliun yang artinya adalah 0,93 persen dari PDB kita," ujar Suahasil dalam pemaparan tersebut.

Suahasil menilai struktur APBN masih menopang kebutuhan pembiayaan negara. Pemerintah memantau ketat setiap pergerakan penerimaan menjelang akhir tahun anggaran.

The Fed Naikkan Suku Bunga, Tekanan Global Berlanjut

Suahasil menyoroti dinamika ekonomi global yang berkembang cepat. Konflik di Timur Tengah masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda mereda.

Dua hari sebelum pemaparan, Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan. Suahasil menyebut langkah The Fed itu memperkuat ekspektasi suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama.

"Kalau kita rekap secara keseluruhan kondisi, pernyataan atau antisipasi dari banyak itu mengantisipasi suku bunga itu akan higher for longer karena Amerika baru menaikkan dia ke 5 persen," jelasnya.

Kementerian Keuangan, kata Suahasil, terus mencermati posisi Indonesia di tengah ketidakpastian tersebut. Pemerintah menyiapkan langkah antisipasi agar perekonomian domestik tidak terguncang.

Harga Komoditas Dinamis, Transaksi Ekonomi Ikut Terdampak

Suahasil mengungkap harga sejumlah komoditas bergerak dinamis. Minyak brent, CPO, nikel, batu bara, emas, dan tembaga menjadi komoditas yang dipantau pemerintah.

Pergerakan harga komoditas itu, menurut Suahasil, berpengaruh langsung terhadap transaksi dan kinerja ekonomi Indonesia. Sektor ekspor dan penerimaan negara dari sumber daya alam menjadi yang paling sensitif terhadap fluktuasi tersebut.

Pemerintah menegaskan perekonomian Indonesia tetap resilien menghadapi kondisi global yang tidak pasti. Kementerian Keuangan akan terus memperbarui proyeksi fiskal seiring perkembangan situasi internasional.

Terkini