Remedy Kembali dengan Control Resonant, Sekuel yang Lebih Brutal dan Megah

Jumat, 18 September 2026 | 20:03:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Remedy Entertainment resmi menghadirkan Control Resonant sebagai sekuel langsung dari Control yang dirilis 2019. Gamer yang menantikan kelanjutan kisah Jesse Faden kini berperan sebagai Dylan, adiknya, dalam pertarungan melee yang jauh lebih keras. Perubahan mekanik tempur hingga protagonis baru membuat sekuel ini tampil berbeda dari pendahulunya.

Remedy Entertainment memilih jalan yang tidak biasa untuk sekuel ini. Alih-alih meneruskan mekanik tembak-menembak yang jadi ciri khas Control pertama, studio asal Finlandia itu menggantinya dengan sistem pertarungan melee yang brutal. Pendekatan ini menempatkan Control Resonant sebagai salah satu rilisan action RPG paling unik di 2026.

Game ini tersedia untuk PC, PS5, dan Xbox Series X/S. Harga ritelnya USD 59, sementara edisi steelbook dibanderol USD 69 di GameStop. Tanggal rilisnya jatuh pada 24 September 2026.

Dylan Faden dan Manhattan yang Terdistorsi

Kisahnya berlangsung tak lama setelah peristiwa game pertama. Pemain kini mengendalikan Dylan Faden, saudara Jesse, yang harus menghadapi konsekuensi dari terlepasnya entitas ekstra-dimensi dari The Oldest House.

Monster Hiss telah menyebar dan menelan sebagian besar Manhattan bawah. Kawasan itu berubah jadi mimpi buruk bergaya Inception, dengan arsitektur terpelintir, fisika rusak, dan warga yang bertransformasi jadi makhluk mengerikan.

Dylan bertugas membantu Federal Bureau of Control (FBC) memukul mundur invasi tersebut. Konflik batinnya—kerinduan bertemu sang kakak, pergulatan dengan monster dalam dirinya, dan rasa bersalah atas perbuatan kelam tujuh tahun silam—menjadi tulang punggung narasi.

Karakter Dylan bukan tipe pahlawan konvensional. Isolasi panjang membuatnya tampil naif dan ragu. Namun seiring cerita bergulir, perkembangannya terasa memuaskan dan matang.

Pertarungan Melee yang Lebih Menantang

Bagi penggemar Devil May Cry 5 atau Bayonetta 3, sistem tempur Control Resonant terasa akrab. Meski tidak sekeras kedua judul itu, Remedy menyebut ini sebagai game tersulit yang pernah mereka buat.

Senjata Dylan, Abberant, bisa berubah wujud jadi pedang, gada, atau cambuk. Pemain bebas memilih form utama, form sekunder, dan finisher, masing-masing dengan varian berbeda.

Kombinasi serangan yang beragam menjaga pertarungan tetap segar. Loadout tertentu lebih cocok untuk menghadapi bos raksasa, sementara situasi lain menuntut pendekatan berbeda.

Selain melee murni, Dylan punya kemampuan melapisi senjata dengan api yang membakar pertahanan musuh. Ada pula kemampuan memunculkan entitas spektral yang menembakkan proyektil.

Kemampuan terbang melayang dan dash cepat diwarisi dari Jesse. Keduanya membantu eksplorasi sekaligus menyelamatkan pemain di tengah pertempuran sengit.

Dunia Terbuka yang Terhubung dan Penuh Kejutan

Berbeda dari Control pertama yang berkutat di ruang tertutup, sekuel ini menempatkan pemain di versi Manhattan bawah yang luas dan terdistorsi. Tak ada landmark familiar—semuanya telah berubah akibat penetrasi dimensi lain.

Semua area saling terhubung, umumnya lewat terowongan bawah tanah yang berfungsi sebagai layar pemuatan tersembunyi. Namun ini bukan open-world tradisional seperti Grand Theft Auto 6 atau The Witcher 3.

Tiap kawasan punya karakter visual sendiri. Ada zona biru berkabut yang dipenuhi jamur supernatural, ada pula area yang membuat pemain kehilangan orientasi atas dan bawah.

Misi sampingan terbagi dua jenis: membantu warga atau agen FBC, dan kejadian acak yang melibatkan Hiss atau fenomena ekstra-dimensi. Menuntaskan sebanyak mungkin misi sampingan sangat menguntungkan karena memberi poin pengalaman dan hadiah lain.

Satu keluhan muncul soal navigasi. Peta tidak selalu jelas menunjukkan area mana yang bisa diakses. Sebagian tempat baru terbuka setelah pemain mengunci kemampuan tertentu, dan rute menuju lokasi yang tampak dekat kadang berbelit.

Visual Paling Impresif dari Remedy

Control Resonant termasuk game dengan tampilan paling memukau di 2026. Model karakter tergolong bagus, tapi lingkungan yang rimbun dan detail justru mencuri perhatian.

Palet warna yang dominan hitam dan merah memperkuat atmosfer. Zona lain menawarkan pengalaman visual yang sama sekali berbeda, sesuatu yang sengaja tidak diungkap untuk menjaga kejutan.

Pengujian dilakukan di PS5 Pro dengan pengaturan grafis "balanced". Mode ini menjalankan game pada 40 frame per detik dengan ray tracing penuh, jalan tengah antara mode performa 60 fps dan mode kualitas 30 fps.

Verdict

Control Resonant disebut sebagai pencapaian terbaik Remedy Entertainment sejauh ini. Studio itu menaruh seluruh upaya untuk menghadirkan sekuel yang layak bagi penggemar Control, sekaligus tetap bisa dinikmati pendatang baru.

Kombinasi pertarungan melee yang solid, grafis tajam, dan tone yang khas menempatkannya sebagai salah satu game terbaik 2026. Di tahun yang padat rilisan besar, melewatkan judul ini akan jadi penyesalan.

Terkini