Atasi Antrean, Pertamina Tambah Pasokan BBM di Sulsel

Senin, 14 September 2026 | 20:27:01 WIB
PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi. (Foto: NET)

JAKARTA - Guna mengurai masalah antrean panjang di berbagai SPBU wilayah Sulawesi Selatan, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah menginstruksikan PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi untuk menambah suplai BBM bersubsidi melalui penyiagaan dua kapal pengangkut minyak.

"Untuk stok di Sulsel sekitar 16.000 KL. Konsumsi Pertalite kurang lebih 2.000-an Kilo Liter (per hari), kami rata-ratakan saja sekitar delapan sampai dengan 16 hari (ketahanan). Untuk solar konsumsinya 1.800 KL (per hari)," ujar Wahyudi selaku Kepala BPH Migas di Makassar pada hari Senin (14/9/2026).

Wahyudi menjelaskan bahwa jika ketahanan stok mulai menipis, suplai tambahan akan segera didatangkan lewat dua kapal yang telah disiagakan dari Kilang Tuban di Jawa Timur serta Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur.

"Tapi tergantung, kalau nanti delapan hari (mulai berkurang) maka satu kapal turun, kurang lebih nambah delapan hari (ke depan), dan itu tidak pernah turun (volumenya) di lebih rendah. Untuk solar juga demikian sama," tambahnya.

Ia juga menyebutkan bahwa masing-masing kapal tersebut mengangkut kapasitas BBM hingga 16.000 KL. Berdasarkan perhitungan rata-rata harian, konsumsi BBM di Sulsel diproyeksikan menyentuh 2.000 KL dan Solar 1.800 KL. Di sisi lain, persediaan BBM nonsubsidi dipastikan masih mencukupi untuk 30 hari ke depan.

"Jadi, ini sudah diukur dan sudah dijadwalkan oleh Pertamina Patra Niaga suplainya dari kilang yang ada. Di Kilang Tuban, dan Kilang di Balikpapan. Jadi aman. Perjalanannya berapa hari dari sini?, kurang dari dua hari. Kami sudah pastikan semuanya aman," ungkap mantan Anggota Komite BPH Migas tersebut.

Pengiriman via kapal laut ini dilakukan secara berkelanjutan dan telah dijadwalkan dengan estimasi dua hingga tiga hari perjalanan dari Tuban maupun Balikpapan menuju Sulsel. 

Suplai Biosolar pun terus dijaga ketersediaannya. Saat ini, kondisi ketahanan BBM terpantau normal dengan rata-rata stok yang dikelola secara baik guna memenuhi kebutuhan tujuh hingga 12 hari ke depan.

Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, persediaan Pertalite di wilayah Sulsel saat ini masih berada di angka 80 persen. Akan tetapi, menyusul munculnya antrean kendaraan, frekuensi pengiriman ke SPBU ditingkatkan menjadi dua kali drop order (DO) setiap harinya, di mana satu unit mobil tangki memuat 24 KL BBM.

"Kalau satu hari itu konsumsinya, sebelum terjadi antrian jualan pertalitenya 24 KL sampai 25 KL per hari. Kalau sekarang, tertinggi bisa mencapai 51 KL (per hari), jadi cukup besar. Dan itu tiap hari (BBM) dikirim," tegasnya, sekaligus menepis isu pengurangan pasokan BBM ke SPBU.

Wahyudi menekankan agar warga tidak perlu cemas akan kekurangan BBM karena stok dipastikan tersedia. Masyarakat juga diminta agar bersikap lebih bijaksana dan wajar saat membeli bahan bakar tanpa harus melakukan penimbunan.

"Sebenarnya kebutuhannya pas, kalau mengisi untuk dua hari sekali, tidak usah berlebihan. Tadi kami tarik data, kebutuhannya ada 0,6 liter per hari, ada yang satu sampai tiga liter per hari, (di luar transportasi umum) kurang lebih sekitar itu. Kalau nambah berlebihan, itu buat apa," analisis pria lulusan sarjana teknik mesin tersebut.

Berdasarkan pengamatannya, pembeli BBM yang mengantre pada siang hingga sore hari mayoritas didominasi pekerja yang mengisi bahan bakar untuk persiapan bekerja esok hari. 

Sebaliknya, pembeli pada malam hari umumnya mengenakan pakaian seadanya tanpa helm. Keengganan mengantre di bawah cuaca terik diyakini menjadi alasan mereka beralih ke malam hari, sehingga operasional SPBU 24 jam dinilai sangat membantu.

Pada kesempatan sebelumnya, seorang sopir bajaj sempat memprotes aturan pembatasan pembelian BBM subsidi di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, di mana kendaraan roda dua dibatasi maksimal Rp50 ribu dan roda empat Rp300 ribu. 

Bajaj beroda tiga dengan kapasitas tangki 15 liter miliknya terpaksa dikenakan syarat kendaraan roda dua.

"Saya minta diisi Rp80 ribu supaya bisa jalan cari penumpang satu hari, tapi dibatasi hanya bisa diisi Rp50 ribu. Jelas itu tidak cukup, makanya saya protes, kasihan kami ini driver (pengemudi daring), tapi tidak digubris. Perhatikan juga kami ini pak, harusnya adil," keluh Khalid dengan nada kecewa.

Terkini