Hadapi Pelemahan Rupiah, Kalbe Farma Andalkan Strategi Ini

Jumat, 11 September 2026 | 00:21:02 WIB
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Kartika Setiabudy (Kiri) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membeberkan serangkaian langkah strategis guna mengantisipasi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2026 yang memberikan tekanan pada margin perseroan.

Direktur Kalbe Farma Kartika Setiabudy menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih menjelma sebagai tantangan berat bagi perolehan margin perusahaan, mengingat struktur biaya produksi sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor.

“Pelemahan rupiah ini tentunya berdampak cukup besar terhadap laba kotor atau gross profit kami, karena biaya produksi sangat dipengaruhi dengan bahan baku impor, sehingga pelemahan rupiah ini merupakan suatu tantangan untuk Kalbe,” kata Kartika dalam konferensi pers Public Expose Live 2026, di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Sekalipun nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan belakangan ini, Kartika menuturkan bahwa tekanan terhadap margin perseroan diprediksi masih akan membayangi hingga penghujung tahun 2026.

Dirinya menerangkan kondisi tersebut terjadi lantaran efek sisa persediaan atau inventory, sehingga perseroan belum memproyeksikan adanya pemulihan margin yang kentara dalam waktu dekat.

Sebagai langkah perisai guna meredam tekanan tersebut, ia menyebutkan perseroan bakal memberlakukan sejumlah jurus taktis, salah satunya dengan melakukan penyesuaian harga secara selektif pada lini produk konsumen tertentu.

“Ke depannya, kami akan melakukan berbagai strategi, beberapa yang sudah kami lakukan tahun ini adalah secara selektif melakukan kenaikan harga untuk beberapa produk konsumen,” ujar Kartika.

Di samping itu, ia menambahkan bahwa dalam cakrawala jangka panjang, perseroan bakal mengoptimalkan portofolio produk dengan mengarahkan orientasi bisnis menuju komoditas yang menawarkan margin lebih atraktif.

“Kami juga akan terus melakukan strategi portofolio untuk mengelola portofolio kami ke arah produk-produk yang memiliki margin lebih baik,” ujar Kartika pula.

Lebih lanjut, perseroan berkomitmen menggenjot pemanfaatan produk berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Khusus untuk divisi alat kesehatan, implementasi strategi itu ditempuh melalui pengoperasian fasilitas perakitan secara domestik.

“Tadi kami juga sudah bicarakan mengenai strategi untuk berinvestasi di TKDN. Tapi memang ini kami lakukan mungkin untuk divisi alat kesehatan dalam bentuk melakukan perakitan secara lokal. Untuk sektor obat resep sendiri memang masih terkendala dengan keterbatasan bahan baku obat yang tersedia secara lokal,” kata Kartika.

Di sisi lain, tekanan terhadap margin laba tersebut berlangsung di tengah performa penjualan Kalbe Farma yang tetap mencatatkan pertumbuhan. Penjualan perseroan melesat 14,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga menyentuh angka Rp19,47 triliun pada semester I-2026, naik dari perolehan Rp17,07 triliun pada semester I-2025.

Kendati penjualan bertumbuh, hantaman tekanan margin membuat perolehan laba bersih justru mengalami koreksi tipis menjadi Rp1,91 triliun pada semester I-2026, dari sebelumnya membukukan Rp1,97 triliun pada interval waktu yang serupa tahun lalu.

Ekspansi penjualan perseroan itu sendiri ditopang oleh kenaikan merata di seluruh lini segmen bisnis. Segmen obat resep membukukan penjualan Rp5,30 triliun, produk kesehatan meraup Rp2,70 triliun, lini nutrisi menyumbang Rp4,26 triliun, serta sektor distribusi dan logistik menyetorkan Rp7,20 triliun.

Terkini