Perkuat Pengelolaan Muzaki, Baznas Genjot Kepercayaan Publik

Kamis, 10 September 2026 | 17:25:33 WIB
Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI senantiasa memperkokoh manajemen pengelolaan pemberi zakat (muzaki) secara profesional sebagai langkah strategis demi mendongkrak kepercayaan publik sekaligus memaksimalkan pengumpulan zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) di skala nasional.

Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan, dalam keterangan pers yang dirilis di Jakarta pada hari Kamis, menuturkan bahwa pengelolaan muzaki wajib dijalankan dengan orientasi jangka panjang dan profesional dengan memposisikan muzaki setara mitra strategis dalam ekosistem filantropi Islam.

Menurut keterangan Rizaludin, kalangan muzaki masa kini tidak sekadar menuntut kemudahan ketika menunaikan kewajiban zakat, melainkan turut menaruh kepedulian terhadap kejelasan pemanfaatan dana zakat yang didonasikan. 

Para muzaki pun berkeinginan untuk dilibatkan secara langsung serta menyaksikan esensi dampak nyata dari program-program kebaikan yang bersumber dari zakat kepunyaan mereka.

"Karena itu, kami perlu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Hubungan dengan muzaki harus kami bangun secara berkelanjutan, melalui pelayanan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta menunjukkan dampak nyata dari zakat yang mereka tunaikan," katanya.

Rizaludin membeberkan bahwa sampai detik ini masih cukup banyak elemen masyarakat yang menyalurkan dana zakatnya melalui kanal-kanal lembaga nonformal.

"Ini PR kami. Kami harus mampu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Bagaimana ke depan supaya Baznas menjadi pilihan bagi para muzaki dan membayar zakat lebih utama melalui lembaga formal seperti Baznas daripada membayar langsung, melalui ustaz, atau masjid ataupun lembaga nonformal lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Rizaludin memaparkan bahwa penerapan pendekatan value-driven fundraising turut mendesak untuk digencarkan oleh sekalian jajaran Baznas dan lembaga amil zakat (LAZ) di Tanah Air, di antaranya lewat penguatan dakwah zakat serta penyediaan distribusi penyaluran yang berbuah kemaslahatan konkret beserta transformasi sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dengan cara demikian, para muzaki dipastikan bakal terus menaruh atensi kepercayaan serta memilih Baznas sebagai wadah tunggal dalam menyalurkan titipan amanah mereka.

"Untuk menjaga keberlanjutan dan kepercayaan publik, terdapat empat pilar utama value-driven fundraising, yakni transparansi dan laporan dampak nyata, pembinaan relasi yang personal dan inklusif, penguatan branding serta reputasi lembaga yang profesional dan taat audit, hingga pelibatan aktif muzaki dalam berbagai program kemanusiaan," ucap dia menjelaskan.

Rizaludin menekankan bahwa pengaplikasian keempat pilar tersebut perlu disokong lewat konsep 5D Baznas, yang meliputi Diingat, Dipercaya, Dijangkau, Dicintai, serta Dibanggakan. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman berzakat yang jauh lebih esensial sekaligus memperluas jangkauan efek positif zakat terhadap kesejahteraan umat.

Menyambung hal tersebut, ia menambahkan bahwa dalam merumuskan sebuah rancangan program, pihak Baznas wajib memastikan bahwa program terkait betul-betul selaras dengan kebutuhan maupun aspirasi muzaki serta sanggup memberikan nilai faedah yang luas dan kasat mata.

"Karena program itu harus diingat dan dicintai muzaki, harus terasa dekat dengan muzaki, dan perubahannya terlihat oleh muzaki, dan manfaatnya juga terasa. Maka, kalau membuat program, perspektifnya harus dari muzaki," tutur Rizaludin Kurniawan.

Terkini