Ibas Ajak Anak Muda Kritis Hadapi Pengaruh AI dan Algoritma

Selasa, 08 September 2026 | 21:06:02 WIB
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). (Foto: NET)

JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mendorong kaum muda agar senantiasa berpikir kritis serta terlibat aktif dalam ruang demokrasi, sehingga proses berpikir tidak sepenuhnya diambil alih oleh kecerdasan buatan (AI) maupun algoritma media sosial.

Ia memperingatkan bahwa algoritma platform digital mampu menyusun pola informasi yang dikonsumsi masyarakat berdasarkan rekam jejak aktivitas digital mereka, seperti jenis konten yang ditonton, disukai, disebarkan, atau dilewati begitu saja.

"Kadang-kadang kami merasa sedang memilih konten. Padahal algoritma juga sedang memilih apa yang akan kami lihat," ujar Ibas melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Pernyataan tersebut diungkapkan Ibas ketika hadir sebagai narasumber utama dalam Seminar Kebangsaan bertajuk "AI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?" yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (3/9).

Menurut pandangannya, dampak dari algoritma ini patut diwaspadai secara khusus tatkala bersentuhan dengan panggung politik, sebab hal tersebut berpotensi mengarahkan persepsi publik terhadap kinerja pemerintah, kebijakan publik, figur calon pemimpin, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.

Atas dasar itulah, Ibas mengimbau para pemuda agar tidak langsung menyamakan tingkat kepopuleran sebuah konten dengan kevalidan fakta yang terkandung di dalamnya.

"Viral bukan berarti benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah," ucapnya menegaskan.

Dirinya berpendapat bahwa ekosistem demokrasi berbasis digital menuntut adanya keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan kebebasan berpikir, agar publik terlatih dalam melakukan verifikasi data serta menimbang beragam sudut pandang yang ada.

"Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi di era digital, kami juga harus punya kebebasan untuk berpikir, memeriksa data, mendengar berbagai perspektif, dan berani mengatakan bahwa mungkin kami salah," tuturnya.

Selain itu, Ibas turut menyarankan para politisi agar memanfaatkan media sosial seperti TikTok sebagai sarana edukasi dan penyampaian visi misi kepada publik, tanpa menjadikan kuantitas penonton maupun pengikut sebagai tolok ukur utama kesuksesan politik.

"Politisi boleh menjadi kreator, tetapi politik bukan tentang siapa yang paling viral. Politik adalah tentang siapa yang mampu menawarkan solusi dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat," jelas Ibas.

Ia menambahkan bahwa tingginya jumlah tayangan maupun pengikut tidak serta-merta mencerminkan mutu kepemimpinan serta tingkat kepercayaan masyarakat secara nyata.

"Belum tentu views sama dengan leadership. Belum tentu followers sama dengan trust. Konten juga tidak sama dengan kebijakan," katanya.

Di samping itu, Ibas mengajak generasi penerus bangsa untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif dalam dinamika demokrasi. Kepedulian nyata terhadap sektor pendidikan, ketersediaan lapangan kerja, stabilitas harga pangan, kelestarian lingkungan, serta keadilan sosial merupakan wujud nyata dari partisipasi politik itu sendiri.

"Jangan hanya menjadi penonton demokrasi. Gunakan kanal-kanal demokrasi yang tersedia untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi," serunya.

Sebagai penutup, ia merangkum seluruh pesannya melalui tiga prinsip utama, yakni Think Deep, Participate, dan Lead, yang bermakna ajakan agar anak muda senantiasa berpikir mendalam, aktif berkontribusi, serta berani memegang kendali kepemimpinan.

"Ada satu hal yang tidak boleh kami serahkan kepada AI, tidak boleh kami serahkan kepada algoritma, yaitu masa depan Indonesia. Indonesia adalah milik kami dan milik generasi yang akan datang," pungkas Ibas.

Terkini