PM-AAS ala Mentan Amran: Produksi Padi Melonjak dari 5 ke 13 Ton per Hektare

Kamis, 03 September 2026 | 00:40:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Hal ini disampaikan Amran saat meninjau areal pertanian di Subang, Jawa Barat, Rabu (2/8/2026). PM-AAS — kependekan dari Pertanian Modern–Advanced Agricultural System — bukan sekadar teknik menanam biasa. Metode ini mengubah paradigma lama bahwa perluasan lahan adalah satu-satunya jalan menaikkan produksi.

Hasil Panen yang Melompat Lebih dari Dua Kali Lipat

Data yang dipaparkan Amran cukup mencolok. Rata-rata hasil panen padi nasional selama ini berkutat di angka 5 ton per hektare. Pada lahan percontohan PM-AAS, angka itu naik ke 11–12 ton, bahkan ada hamparan yang menyentuh 13 ton per hektare.

"Hasilnya sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan ada 13 ton per hektare," kata Amran dalam kunjungannya di Subang.

Lonjakan tersebut setara dengan menambah dua kali luas sawah tanpa memakai lahan tambahan. Bagi petani, artinya pendapatan dari luasan tanah yang sama bisa ikut berlipat.

Jarak Tanam Jadi Kunci Populasi Tanaman

Apa yang membuat PM-AAS begitu produktif? Amran menjelaskan, peningkatan produksi ditopang oleh optimalisasi populasi tanaman. Caranya dengan mengatur jarak tanam secara presisi sehingga jumlah rumpun padi per hektare bisa bertambah hingga ratusan ribu batang.

Rumusnya sederhana: makin banyak populasi tanaman sehat yang tumbuh, makin besar pula gabah yang bisa dipanen. Berdasarkan pengamatan Amran, populasi 800 ribu rumpun per hektare mampu menghasilkan sekitar 11 ton gabah. Jika populasinya 900 ribu rumpun, hasilnya mendekati 12 ton. Lalu, ketika populasi mencapai 1 juta rumpun, produksi bisa naik hingga nyaris 13 ton.

"Kalau populasi 800 ribu ... sekitar 11 ton. Kalau 900 ribu sekitar 12 ton, dan 1 juta bisa mendekati 13 ton," ujar Amran.

Tantangannya bukan sekadar menanam rapat, melainkan memastikan setiap rumpun tetap mendapat cukup air, sinar matahari, dan nutrisi. Di sinilah pendekatan pertanian modern ambil peran — dari pemilihan benih hingga pengelolaan lahan yang lebih terukur.

Peluang bagi Petani dan Target Swasembada

Bagi Indonesia, metode ini hadir di tengah kebutuhan pangan yang terus bertambah. Kementerian Pertanian mengejar target swasembada dengan berbagai cara, dan PM-AAS menawarkan solusi yang tidak bergantung pada ketersediaan lahan baru.

Apabila hasil uji coba di Subang bisa direplikasi di daerah sentra padi lain, produktivitas nasional akan mengalami lompatan besar dalam beberapa musim tanam. Para petani pun akan lebih diuntungkan karena biaya produksi per ton gabah cenderung turun seiring naiknya hasil panen.

Masih perlu dilihat sejauh mana metode ini bisa diadopsi petani kecil dengan keterbatasan modal dan lahan. Namun dengan potensi hasil yang hampir tiga kali lipat dari rata-rata nasional, PM-AAS menjadi salah satu jembatan paling realistis untuk mengantar Indonesia lepas dari ketergantungan impor beras.

Terkini