Perpres Ojol Potong Komisi Jadi 8 Persen, GoTo Cetak Laba Rp608 Miliar

Senin, 31 Agustus 2026 | 12:23:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Tonggak sejarah bagi GoTo terjadi pada paruh pertama tahun ini. Laba bersih Rp608 miliar yang dikantongi pada Januari-Juni 2026 menjadi bukti pertama kalinya emiten berinti layanan ride-hailing dan e-commerce ini keluar dari zona merah secara konsisten.

Perbaikan ini tidak instan. Sepanjang tahun lalu, GoTo masih menanggung rugi bersih hingga Rp580 miliar di periode yang sama. Kini, pedang bermata dua mulai muncul: keberlanjutan profitabilitas justru diuji oleh kebijakan pemerintah yang memangkas komisi aplikasi.

Komisi Ojol Turun dari 20 Persen ke 8 Persen, Efektif Juli 2026

Regulasi anyar termuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang ojek online, yang resmi memangkas potongan komisi untuk layanan angkutan roda dua menjadi maksimal 8 persen. Sebelumnya, aplikator seperti Gojek menarik komisi hingga 20 persen dari setiap transaksi.

Aturan ini berlaku mulai 1 Juli 2026. Artinya, selama paruh kedua tahun berjalan, GoTo harus menjalankan operasional dengan pendapatan per transaksi yang lebih tipis dari sebelumnya.

Skema komisi yang mengecil ini secara langsung akan mempengaruhi pendapatan dari segmen layanan transportasi. Apalagi, porsi bisnis ojol menjadi salah satu tulang punggung ekosistem Gojek.

Harga Saham Gocap Ikut Jadi Sorotan Pasar

Dinamika lain yang tengah dihadapi GoTo adalah perubahan aturan harga saham minimum di bursa. Saham GOTO yang sempat dikenal luas sebagai saham "gocap" (Rp50) kini mendapat sorotan menyusul kebijakan bursa yang menetapkan ketentuan baru mengenai batas bawah harga saham.

Bagi investor ritel, harga saham murah memang kerap menarik minat karena akses belinya terjangkau. Namun bagi manajemen, harga saham yang terlalu rendah bisa memengaruhi persepsi pasar terhadap nilai perusahaan, termasuk dalam upaya penggalangan dana dan insentif karyawan berbasis saham.

GoTo sendiri tampaknya lebih fokus memperkuat fundamental dibanding sekadar mengejar kenaikan harga saham jangka pendek, dengan mengandalkan profitabilitas yang sudah mulai terbukti dari sisi laporan keuangan.

Ujian Berat di Paruh Kedua, GoTo Andalkan Efisiensi

Dengan komisi yang turun drastis, ruang untuk menarik pendapatan dari mitra pengemudi menjadi sempit. Strategi yang tersisa adalah efisiensi operasional di semua lini, mulai dari beban insentif hingga biaya pemasaran.

Jika berhasil, laba semester pertama bukan sekadar anomali, melainkan awal dari tren profitabilitas yang berkelanjutan. Namun jika tekanan komisi membuat keseimbangan biaya-pendapatan bergeser, bukan tidak mungkin margin tipis yang sudah dibangun kembali terkikis.

Pasar tentu menunggu bagaimana manajemen GoTo menavigasi dua tantangan sekaligus: regulasi yang membatasi pendapatan dan ekspektasi investor soal pertumbuhan laba. Laporan keuangan kuartal ketiga nanti akan menjadi ujian pertama yang menentukan arah kepercayaan pasar.

Terkini