Petani Kopi Gayo Hanya Terima Rp 25.000 per Kg, Selisih 58% dengan Harga Medan Picu Deforestasi

Senin, 31 Agustus 2026 | 06:49:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Data Balai Riset dan Standardisasi Perkebunan (BRMP) Kementerian Pertanian 2025 menunjukkan struktur rantai pasok kopi nasional yang timpang. Tengkulak dan pedagang perantara menguasai sekitar 70% distribusi, menggerus margin petani hingga setengahnya. Akibatnya, lonjakan harga kopi dunia jarang sampai ke tingkat kebun—selisih nilai lebih dulu terserap di rantai tengah dan hilir.

Kondisi ini bukan sekadar persoalan keadilan ekonomi. Vicol dan kawan-kawan (2018) dalam World Development mencatat intervensi rantai nilai kopi Indonesia kerap menguntungkan elite lokal, sementara petani kecil yang memulai seluruh rantai justru tertinggal. Pola serupa juga terjadi pada kakao, sawit, dan padi.

Selisih Harga yang Menjadi Beban Ekologis

Logika di balik deforestasi sebenarnya sederhana: petani yang tidak cukup hidup dari kebunnya akan mencari jalan bertahan. Membuka lahan baru di tepi hutan menjadi pilihan yang masuk akal secara ekonomi, betapapun mahal ongkos lingkungannya.

Mandailing Natal memberikan potret nyata. Luas perkebunan kopi rakyatnya mencapai 3.572,62 hektare dengan produksi 2.565,16 ton, ditanam di kawasan penyangga Taman Nasional Batang Gadis (Pirmansyah, 2024). Reputasi kopi daerah ini sudah tercatat sejak 1922 dalam All About Coffee karya Ukers sebagai kopi bercita rasa tinggi. Namun nama besar itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraan di kebun—desa-desa berjarak puluhan kilometer dari ibu kota kabupaten, dan setiap lapis perantara ikut menggerus harga.

Hilirisasi yang Menyentuh Petani, Bukan Hanya Pabrik

Hilirisasi kerap menjadi jawaban, tetapi sering kali hanya memindahkan keuntungan dari satu pemodal ke pemodal lain. Sektor kakao memberi pelajaran: pada 2003 hampir seluruh ekspor masih berupa biji mentah, namun 2024 lebih dari 87% sudah berbentuk produk olahan setengah jadi (Indonesia Investments, 2025). Nilai ekspor naik, tetapi pertanyaannya apakah kenaikan itu benar-benar sampai ke pekebun.

Hilirisasi yang adil memberi petani kepemilikan atas sebagian nilai tambah melalui pengolahan pascapanen di tingkat kelompok tani, koperasi kuat, dan akses langsung ke pembeli. Mandailing Natal sudah merintis melalui Koperasi Kopi Mandailing Jaya dengan merek Banamon Coffee, yang tumbuh dari Desa Alahankae dan kini memiliki rumah produksi di Desa Habincaran. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga mendirikan SMK pertanian sebagai respons atas banjir bandang 2018, dengan basis agroforestri—kopi tumbuh di bawah naungan pinus, petai, dan durian.

Ulya dan kawan-kawan (2023) dalam AIMS Agriculture and Food menegaskan agroforestri kopi sebagai jalur menjanjikan bagi ekonomi hijau. Roshetko dan kawan-kawan (2021) dalam Forests menambahkan, agroforestri kompleks di Jawa Barat mampu menyimpan karbon 71-85 megagram per hektare, jauh di atas monokultur.

Proyek FOLUR: Menautkan Kebun dengan Kebijakan

Menahan nilai di hulu mustahil dikerjakan petani seorang diri. Dibutuhkan kerangka yang menautkan praktik di kebun dengan kebijakan. Proyek Food Systems, Land Use, and Restoration (FOLUR) mengambil peran ini, dijalankan empat kementerian—Kemenko Pangan, Bappenas, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kehutanan—dengan dukungan UNDP, FAO, serta pendanaan Global Environment Facility.

FOLUR bekerja di tujuh lanskap di lima provinsi, dari Aceh Tengah sampai Sorong, dengan komoditas kopi, kakao, sawit, dan padi. Hasil kajian lapangannya dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang menghubungkan perbaikan rantai pasok dengan target pelestarian hutan nasional.

Terkini