Danantara Tekan Jasa Marga Percepat Transformasi, Bukan Cuma Soal Cuan Tol

Senin, 31 Agustus 2026 | 03:27:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Senior Director Transportation Sector Danantara, Wamildan Tsani Panjaitan, menegaskan bahwa indikator kesuksesan Jasa Marga harus bergeser dari sekadar angka bisnis. Menurutnya, tolok ukur utamanya adalah perubahan konkret yang dirasakan masyarakat setiap hari, seperti kondisi jalan yang terjaga, perjalanan yang makin lancar, hingga jaminan keselamatan berkendara.

"Antara lain kondisi jalan yang terjaga, perjalanan yang semakin lancar, keselamatan pengguna yang semakin terjamin, serta kemampuan mengantisipasi dan menangani gangguan secara cepat," ujar Wamildan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Kunjungan ini menegaskan perhatian besar Danantara terhadap kualitas layanan BUMN. Alasannya sederhana: Badan Usaha Milik Negara adalah wajah negara yang berinteraksi langsung dengan publik setiap hari.

Integrasi Tiga Pilar Layanan untuk Pengalaman Berkendara

Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyatakan pihaknya kini memperkuat integrasi tiga pilar layanan utama. Ketiganya adalah preservasi jalan, pengelolaan rest area, dan sistem informasi lalu lintas.

"Ketiga pilar ini memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih baik, yaitu preservasi untuk menjaga kualitas dan keselamatan jalan (protect the journey)," jelas Rivan. Filosofi ini juga mencakup rest area sebagai pendukung kenyamanan (support the journey) dan informasi yang mudah diakses (inform the journey).

Transformasi ini diharapkan mengubah paradigma dari sekadar membangun infrastruktur menjadi budaya pelayanan terbaik, atau yang mereka sebut sebagai pergeseran dari infrastructure menjadi infraculture.

Teknologi dan Keamanan Jadi Prioritas di Jalan Tol

Pada pilar preservasi, Jasa Marga mengandalkan sistem bernama TROOPS dan perangkat Hawkeye untuk mendeteksi kerusakan jalan lebih dini. Dengan begitu, perbaikan bisa dilakukan lebih cepat dan terstandar.

Perhatian serius juga diberikan pada masalah truk kelebihan muatan atau ODOL. Meski truk hanya 13 persen dari total lalu lintas di jalan tol Jasa Marga Group, faktanya kendaraan ini terlibat dalam sekitar 70 persen kejadian khusus di lapangan.

"Karena itu, Jasa Marga terus berkolaborasi secara intensif dengan Kementerian Perhubungan dan Korlantas Polri. Integrasi sistem Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUe) dengan Weigh In Motion (WIM) dan RFID Reader menjadi penting untuk mendukung pengawasan kendaraan angkutan barang," tegas Rivan. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah mewujudkan zero ODOL pada 2027.

Aplikasi Travoy dan Rest Area yang Lebih Manusiawi

Wamildan mengapresiasi fitur aplikasi Travoy yang dikembangkan Jasa Marga. Namun, ia mendorong perusahaan untuk memperluas kanal informasi lain karena belum semua pengguna jalan memanfaatkan aplikasi tersebut. Hal ini penting untuk memastikan akses informasi perjalanan lebih inklusif bagi semua kalangan.

Apresiasi juga diberikan untuk pengelolaan Travoy Rest KM 88A dan KM 88B di Jalan Tol Cipularang. Keduanya dinilai memiliki standar pelayanan baik dan diharapkan bisa menjadi contoh bagi rest area lain. Jasa Marga pun berencana mereplikasi standar ini secara konsisten, termasuk penataan kawasan, penguatan UMKM, penambahan SPKLU, hingga penerapan kawasan hijau.

Sebagai pengelola 32 ruas tol dengan total konsesi 1.294 kilometer, transformasi ini menjadi krusial. Jasa Marga tidak hanya dituntut menjaga aset negara, tetapi juga memastikan setiap kilometer jalan tol memberikan rasa aman dan nyaman bagi jutaan pengguna yang melintas setiap harinya.

Terkini