Rupiah Menguat ke Rp 17.600 per USD, Ini Dua Sentimen Pendorongnya

Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:45:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Penguatan rupiah kali ini tidak lepas dari kondisi eksternal yang mulai bersahabat. Indeks dolar AS yang sedang menurun dianggap sebagai angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, ketidakstabilan di pasar obligasi pemerintah AS ikut berperan. Kondisi ini membuat investor global mencari alternatif pasar yang lebih menarik, dan emerging market seperti Indonesia menjadi salah satu tujuan utamanya.

Respons Positif Pasar terhadap Calon Gubernur BI

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. Pasar merespons proses ini dengan baik.

Harapan akan kepemimpinan baru di bank sentral dinilai mampu menjaga stabilitas dan mendorong penguatan nilai tukar mata uang Garuda. Keyakinan ini menjadi faktor tambahan yang menopang laju rupiah.

Kombinasi sentimen eksternal dan internal ini berhasil membalikkan tekanan yang sebelumnya membebani rupiah. Pergerakan ini menunjukkan kepercayaan investor mulai kembali ke pasar domestik.

Arus Modal Asing Mulai Masuk

Gejolak di pasar obligasi AS secara tidak langsung menguntungkan Indonesia. Dana asing yang keluar dari pasar AS mencari tempat yang menawarkan imbal hasil lebih baik dengan risiko yang terukur.

Capital inflow atau arus modal masuk yang terjadi kemudian menjadi pendorong utama penguatan kurs. Kondisi ini tercermin dari pergerakan rupiah yang stabil di kisaran Rp 17.600 per dolar AS.

Pelaku pasar kini mencermati kelanjutan proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia. Kejelasan arah kebijakan moneter ke depan akan menjadi penentu apakah penguatan rupiah bisa berlanjut atau hanya bersifat sementara.

Para analis menilai, jika respons positif ini terjaga, potensi penguatan rupiah masih terbuka. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dinamika ekonomi global yang bisa berubah cepat.

Terkini