Budi Gunadi Sadikin Masuk Bursa Calon Dirjen WHO 2027 dan Profilnya

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:08:31 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tercatat dalam daftar prospective candidates atau bakal calon potensial untuk posisi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Di dalam rilis yang dikeluarkan WHO, Budi terdaftar sebagai kandidat yang diajukan oleh Indonesia. 

Selain Budi, WHO menyebutkan tiga nama alternatif sebagai calon potensial, yakni Dr. Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diajukan Qatar, Dr. Hanan Balkhy yang diajukan Arab Saudi, serta Dr. Hans Henri P. Kluge yang diajukan Belgia.

Berdasarkan situs utama WHO, status sebagai prospective candidate belum mengindikasikan Budi sah menjadi kontestan final dalam pemilihan Direktur Jenderal WHO. WHO memaparkan bahwa nama-nama kandidat dapat lebih dulu diakui sebagai bakal calon potensial sebelum pengumuman resmi seluruh kontestan serta proposal dari negara anggota.

Tahapan pemilihan Direktur Jenderal WHO untuk periode berikutnya telah dimulai pada bulan April 2026. 

Negara-negara anggota masih berhak menyampaikan proposal selambat-lambatnya pada 24 September 2026. Usai tahapan pengajuan rampung, Dewan Eksekutif WHO pada sidang ke-160 di tahun 2027 bakal melaksanakan tahapan seleksi serta menyodorkan paling banyak tiga kontestan kepada World Health Assembly (WHA). 

Direktur Jenderal WHO selanjutnya bakal dipilih oleh WHA lewat sidang ke-80 yang diagendakan berlangsung pada Mei 2027. Direktur Jenderal terpilih dijadwalkan mulai mengemban masa tugas terhitung sejak 16 Agustus 2027.

Budi Gunadi Sadikin sendiri telah mengemban tugas sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia serta aktif dalam bermacam agenda kesehatan internasional. 

Di berbagai forum WHO, Budi ambil bagian dalam pembahasan topik seperti penanggulangan tuberkulosis, manufaktur vaksin, penguatan sistem kesehatan, sampai pemerataan akses kesehatan global. 

WHO, sebagai contoh, mencatat keterlibatan Indonesia di bawah kepemimpinan Budi pada perancangan kandidat vaksin tuberkulosis M72/AS01E.

Apabila terpilih, Direktur Jenderal WHO bakal bertindak sebagai pejabat teknis serta administratif tertinggi lembaga tersebut, menakhodai agenda kesehatan global, mengawasi kinerja WHO, merepresentasikan organisasi di kancah internasional, sekaligus mendampingi negara-negara anggota dalam menaikkan derajat kesehatan masyarakat.

Saat ini, kursi Direktur Jenderal WHO masih diduduki oleh Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. Masa bakti keduanya tuntas pada 15 Agustus 2027, sehingga suksesi penggantinya bertransformasi menjadi salah satu agenda krusial WHO dalam rentang waktu 2026–2027.

Dari Fisika Nuklir Menuju WHO Budi Gunadi Sadikin merupakan salah satu pejabat tanah air dengan lintasan karier yang tidak lazim. 

Bertolak dari latar belakang pendidikan Fisika Nuklir di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia lantas merintis karier panjang di sektor teknologi serta perbankan sebelum masuk ke ranah birokrasi pemerintahan dan akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Budi lahir di Bogor tanggal 6 Mei 1964. Ia merampungkan pendidikan strata satu dalam bidang Fisika Nuklir ITB pada tahun 1988. Di samping pendidikan formal, ia mengantongi sertifikasi Chartered Financial Consultant (CHFC) serta Chartered Life Underwriter (CLU) dari Singapore Insurance Institute pada tahun 2004.

Dari IBM Menuju Dunia Perbankan Karier profesional Budi bermula di IBM Asia-Pacific Headquarters di Tokyo, Jepang, pada tahun 1988. Ia kemudian berkembang hingga menduduki posisi Manager Systems Integration & Professional Services sebelum melepas jabatannya di IBM pada tahun 1994.

Selepas itu, Budi menjejakkan kaki ke industri perbankan. Ia bergabung bersama Bank Bali dan memegang sejumlah jabatan, di antaranya General Manager Electronic Banking, Chief General Manager Wilayah Jakarta, serta Chief General Manager Human Resources hingga tahun 1999.

Kariernya terus berlanjut di ABN AMRO Indonesia. Pada bank tersebut, Budi menduduki posisi senior dalam bidang consumer dan commercial banking sampai tahun 2003. Sesudah itu, ia bergabung dengan Bank Danamon sebagai Executive Vice President, Head of Consumer Mass Market pada rentang 2003–2006.

Jalur karier tersebut lantas mengantarkannya ke Bank Mandiri. Di dalam profil korporasi, Budi tercatat diangkat menjadi Direktur Bank Mandiri pada tahun 2006 serta sempat mengelola berbagai lini, mencakup Micro & Retail Banking, Corporate Banking, Special Asset Management, dan Institutional Banking.

Pada tahun 2013, Budi dipercaya menduduki kursi Direktur Utama Bank Mandiri. Laporan tahunan Bank Mandiri mencatat penunjukannya sebagai Presiden Direktur disahkan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 2 April 2013.

Masuk ke Lingkup Pemerintahan Usai menanggalkan jabatannya di Bank Mandiri, Budi merambah dunia pemerintahan. 

Berdasarkan profil Kementerian BUMN, ia bertugas sebagai Staf Khusus Menteri BUMN pada rentang 2016–2017 dan berikutnya diamanahi posisi Direktur Utama PT Inalum (Persero) pada rentang 2017–2019. Posisi tersebut menjelma menjadi segmen esensial dalam perjalanan Budi menuju lingkaran inti pemerintahan pusat.

Pada 25 Oktober 2019, ia ditunjuk sebagai Wakil Menteri BUMN I berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 72/M Tahun 2019. Di Kementerian BUMN, Budi berada dalam jajaran eksekutif era kepemimpinan Presiden Joko Widodo manakala negara menghadapi bermacam agenda restrukturisasi serta tata kelola perseroan negara. Pengalaman mumpuninya di bidang finansial dan BUMN kemudian bertransformasi menjadi salah satu modal utama tatkala ia beralih ke sektor kesehatan.

Ditunjuk Menjadi Menteri Kesehatan Transformasi besar dalam rekam jejak Budi terjadi menjelang akhir tahun 2020. 

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) melantiknya sebagai Menteri Kesehatan per 23 Desember 2020, menggantikan Terawan Agus Putranto. Pengukuhan tersebut berlangsung tatkala Indonesia masih berjibaku menghadapi pagebluk Covid-19.

Budi memasuki Kementerian Kesehatan dengan latar belakang yang jauh berbeda dibanding mayoritas menteri kesehatan pendahulunya. Ia bukan seorang dokter ataupun akademisi kesehatan, melainkan figur profesional perbankan dan BUMN yang memiliki akar keilmuan fisika nuklir.

Pada fase awal kepemimpinannya, salah satu beban kerja terbesar Kementerian Kesehatan ialah penanggulangan pandemi serta penyelenggaraan vaksinasi Covid-19. Kementerian Kesehatan mendokumentasikan bahwa Budi mengemban mandat penuh untuk mengeksekusi program vaksinasi sekaligus meredam krisis pandemi.

Dipertahankan oleh Prabowo Seiring pergantian kepemimpinan nasional, masa pengabdian Budi tidak serta-merta usai. Presiden Prabowo Subianto kembali mempercayainya sebagai Menteri Kesehatan di dalam Kabinet Merah Putih. Prabowo melantik Budi sebagai Menteri Kesehatan tertanggal 21 Oktober 2024. 

Nama Budi tertera dalam daftar menteri Kabinet Merah Putih yang dikukuhkan Presiden Prabowo di Istana Negara. Keputusan tersebut menjadikan Budi sebagai segelintir menteri dari era pemerintahan Jokowi yang tetap dipertahankan untuk memperkuat kabinet Prabowo.

Agenda Transformasi Kesehatan Selepas situasi pandemi mereda, fokus kerja Budi di Kementerian Kesehatan bergeser dari manajemen krisis Covid-19 menuju akselerasi transformasi sistem kesehatan. Kementerian Kesehatan menggarisbawahi transformasi kesehatan sebagai salah satu agenda strategis yang dicanangkan oleh Budi. 

Kerangka kerja tersebut mencakup enam pilar transformasi kesehatan, meliputi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, sampai pemanfaatan teknologi kesehatan.

Terkini