Batas Minimum Saham Rp50 Dihapus BEI, Gimana Nasib Saham GOTO?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:18:32 WIB
Warga mengakses aplikasi Tokopedia [FOTO: NET].

JAKARTA — Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meniadakan batas minimum harga saham Rp50 atau gocap berpotensi memberi ruang gerak baru bagi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Lantas, sampai seberapa jauh harga saham GOTO berpeluang merosot?

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memaparkan bahwa penghapusan batas minimum tersebut sanggup mengurai antrean saham yang selama ini mengendap di level Rp50. Hal ini memberi jalan keluar untuk para investor sekaligus membuka peluang harga terbentuk sesuai dinamika permintaan dan penawaran.

Dia memberi contoh saham GOTO yang saat ini berada di harga Rp50 per saham. Saham tersebut bisa bergeser ke bawah Rp50 jika BEI membuka opsi perdagangan hingga Rp1 di pasar reguler maupun pasar tunai. Meski begitu, arah pergerakan harga saham emiten teknologi ini tetap ditentukan oleh faktor fundamental, sentimen pasar, serta kekuatan jual dan beli.

“GOTO, misalnya, secara teori memang bisa turun perlahan sampai Rp1, tapi tentu tidak otomatis hanya gara-gara aturannya berubah. Tetap tergantung fundamental, sentimen, serta kekuatan jual-belinya,” kata Liza, dikutip pada Minggu (23/8/2026).

Menurut pengamatannya, penghapusan batas harga minimum tak sekadar mengubah angka nominal di layar bursa. Kebijakan ini benar-benar membuka ruang agar saham dapat ditransaksikan sampai Rp1 lewat mekanisme continuous auction di pasar reguler dan pasar tunai.

Untuk saham-saham yang selama ini mengendap di level Rp50, Liza menilai aturan baru ini mampu menghidupkan kembali proses pembentukan harga (price discovery). Investor yang berniat menjual saham tak perlu lagi mengantre pada harga minimum yang berlaku saat ini, sementara pergerakan harga berkesempatan menjadi lebih relevan dengan kondisi penawaran serta permintaan.

Namun, Liza turut mengingatkan bahwa harga saham yang kian murah tak serta-merta membuatnya lebih menarik. Risiko ini patut dicermati khususnya oleh investor ritel yang rentan menganggap saham murah sebagai kesempatan investasi.

“Dari sisi investor ritel, risikonya lumayan besar karena harga nominal rendah gampang menimbulkan kesan sudah murah, padahal bisa saja kondisi fundamentalnya memang terus memburuk dan nilai investasinya nyaris habis,” ujarnya.

Di samping itu, pergerakan di rentang harga Rp1 hingga Rp10 dapat memicu volatilitas yang jauh lebih tajam. Pergeseran nilai sebesar Rp1 saja mampu menghasilkan persentase perubahan yang sangat signifikan. Sebagai gambaran, saham yang naik dari Rp1 ke Rp2 mengalami lonjakan 100%, sedangkan penurunan dari Rp2 ke Rp1 setara kerugian 50%.

Liza menilai langkah ini dapat memicu peningkatan aktivitas perdagangan pada saham-saham berharga rendah. Walau demikian, lonjakan frekuensi serta nilai transaksi tidak otomatis menandakan kesehatan likuiditas pasar membaik. Kenaikan aktivitas tersebut justru berisiko mencerminkan maraknya spekulasi pada saham-saham bermasalah.

Di sisi lain, penyesuaian batas harga minimum belum tentu mendongkrak daya tarik saham-saham tersebut di mata investor institusi maupun investor asing. Menurut Liza, kelompok investor tersebut tetap berpatokan pada aspek fundamental emiten, tata kelola, transparansi free float, kedalaman likuiditas, hingga kemudahan keluar-masuk posisi tanpa memicu pergerakan harga yang drastis.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy berpandangan bahwa rencana penghapusan batas harga gocap pada dasarnya bernilai positif lantaran sanggup mengoptimalkan proses pembentukan harga (price discovery), kendati tak serta-merta mengerek likuiditas pasar secara menyeluruh.

Menurut pandangannya, batas harga gocap selama ini membuat saham yang terus dihantam tekanan jual berisiko terkunci pada level tersebut, hingga harganya tak lagi mencerminkan kondisi fundamental emiten.

Budi menambahkan, apabila batas tersebut ditiadakan, saham bisa kembali bergerak menuju titik keseimbangan baru sehingga proses price discovery berjalan lebih efektif.

“Kasus GOTO menjadi salah satu contoh. Saham GOTO tertahan di level Rp50 sejak Mei 2026 sehingga likuiditasnya menurun dan kemudian dikeluarkan dari indeks MSCI karena persoalan index replicability,” ujar Budi, Kamis (20/8/2026).

Dia menuturkan lebih lanjut, apabila harga saham diizinkan turun di bawah Rp50, transaksi dapat kembali bergulir pada titik keseimbangan baru. Menerapkan aturan ini, menurutnya, memberi manfaat utama berupa price discovery yang lebih baik, serta berpeluang mendongkrak likuiditas.

Budi menerangkan, bagi investor ritel, penghapusan batas harga tersebut menghadirkan manfaat sekaligus menambah porsi risiko.

Terkini