Wapres Gibran Pastikan Penanganan Dampak Gempa NTT Berjalan Terkoordinasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:19:31 WIB
Wakil Presiden Gibran Rakabuming. (Foto: NET)

JAKARTA - Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyampaikan duka serta keprihatinan mendalam atas musibah gempa bumi yang mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). 

Ia juga menyampaikan doa bagi masyarakat NTT yang terdampak, terutama keluarga yang kehilangan sanak saudara, mengalami kerusakan tempat tinggal, maupun masih berada dalam situasi sulit akibat gempa.

"Pikiran dan doa saya bersama seluruh masyarakat yang terdampak, khususnya keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, mengalami kerusakan tempat tinggal, maupun yang saat ini masih berada dalam situasi sulit akibat bencana," katanya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (15/8/2026)

Gibran menyebutkan bahwa pihak pemerintah bakal memaksimalkan tahapan penanganan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dari penanganan kondisi darurat hingga evakuasi warga yang terdampak. 

Pendataan kerusakan serta dampak gempa pun bakal dilakukan guna memetakan berbagai kebutuhan di lapangan. Upaya tersebut bakal dilanjutkan lewat penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak. 

Pihaknya memastikan seluruh tahapan penanganan bencana diselenggarakan secara cepat serta terkoordinasi supaya bantuan bisa segera diterima oleh warga yang membutuhkan.\

“Pemerintah akan berupaya maksimal untuk memastikan penanganan darurat, evakuasi, pendataan dampak bencana, serta penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.”

Gibran berharap seluruh warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa diberikan kekuatan serta keselamatan dalam menghadapi musibah tersebut. Dia pun berharap rangkaian proses penanganan darurat sampai pemulihan pascabencana dapat berlangsung secara lancar dan optimal.

Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). 

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menyatakan bahwa gempa itu tergolong dangkal dengan kedalaman 15 kilometer serta dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust ataupun Sesar Naik Busur Belakang Flores. 

Berdasarkan hasil pemutakhiran parameter, episenter gempa berada di laut pada koordinat 8,41° Lintang Selatan (LS) dan 121,39° Bujur Timur (BT), sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT. 

BMKG sempat melayangkan peringatan dini tsunami usai gempa terjadi, sebelum akhirnya mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 07.30 WIB.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, serta Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengungkapkan hasil pemantauan awal Stasiun Geofisika Kupang memperlihatkan adanya dampak kerusakan akibat guncangan gempa di sejumlah daerah NTT. 

Berdasarkan koordinasi bersama BPBD setempat, beberapa bagian tembok rumah sederhana dilaporkan roboh di wilayah Maumere, Manggarai Barat, serta Labuan Bajo. 

Di samping permukiman warga, gempa tersebut turut berdampak pada sejumlah fasilitas umum dan bangunan. Kerusakan dilaporkan terjadi di fasilitas Pelabuhan Maumere serta bangunan Hotel Jayakarta Bajo akibat guncangan gempa.

“Tim BMKG mulai hari ini diterjunkan langsung ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh,” tambahnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Berton SP. Panjaitan menuturkan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama BNPB dalam penanganan pascagempa. BNPB juga berfokus mencegah munculnya korban tambahan akibat potensi bahaya yang masih dapat terjadi seusai gempa.

“Data terbaru yang masuk mengonfirmasi ada dua orang yang meninggal dunia. Informasi ini terus kami pantau dan verifikasi bersama BMKG, BPBD, Pemda, serta unsur terkait agar dapat mengeluarkan data resmi mengenai total kerusakan dan korban jiwa,” ujar Berton.

Terkini