Presiden Prabowo Usulkan Empat Calon Pimpinan Dewan Gubernur BI

Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:49:01 WIB
Presiden Prabowo Subianto [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengajukan sebanyak empat orang nama kandidat untuk mengisi bermacam posisi strategis di dalam struktur kepengurusan Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Deretan nama yang diusulkan tersebut mencakup Destry Damayanti yang diplot sebagai calon Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI, serta Solikin M. Juhro bersama Muhammad Anwar Bashori yang diposisikan sebagai calon Deputi Gubernur BI.

Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan bahwa surat resmi dari Presiden perihal keempat kandidat tersebut telah diserahkan oleh Menteri Sekretaris Negara kepada pimpinan DPR. Rangkaian proses seleksi di lingkungan parlemen sendiri bakal mulai digulirkan selepas pembukaan masa persidangan pada 14 Agustus 2026 dan dijadwalkan untuk langsung diproses pada pekan berikutnya.

Keempat orang kandidat yang diusulkan tersebut bukanlah sosok asing atau wajah baru di dalam lingkup bank sentral. Mereka masing-masing merupakan pejabat maupun mantan pejabat senior Bank Indonesia yang mempunyai rekam jejak panjang di sektor moneter, makroprudensial, bidang ekonomi, manajemen pengelolaan uang Rupiah, hingga perumusan kebijakan ekonomi serta keuangan syariah.

Berikut merupakan rincian profil serta rekam jejak dari keempat Calon Gubernur BI:

Destry Damayanti — Calon Gubernur BI

Destry Damayanti tercatat sebagai kandidat yang paling senior apabila ditinjau dari sisi jabatan struktural. Tokoh perempuan kelahiran Jakarta pada tahun 1963 ini merupakan seorang ekonom jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang kemudian meneruskan studi hingga memperoleh gelar Master of Science dalam bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat.

Sebelum bergabung ke dalam jajaran pimpinan inti BI, Destry mempunyai segudang pengalaman di bidang ekonomi, sektor keuangan, pemerintahan, serta dunia riset. Ia sempat mengemban tugas sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia sepanjang rentang tahun 2000–2003. Perjalanan kariernya kemudian berlanjut dengan menjadi peneliti sekaligus pengajar di Fakultas Ekonomi UI pada kurun 2005–2006.

Jejak profesionalnya di sektor keuangan kian bersinar tatkala didapuk sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005–2011 serta berlanjut menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011–2015. Memasuki periode 2014–2015, Destry juga dipercaya memegang kendali sebagai Ketua Satuan Tugas Ekonomi di Kementerian BUMN. Selepas dari sana, ia diangkat menjadi Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk masa bakti 2015–2019.

Langkah Destry kemudian berlabuh ke Bank Indonesia. Dirinya pertama kali dilantik menduduki kursi Deputi Gubernur Senior BI pada 2019 untuk masa jabatan 2019–2024, sebelum akhirnya kembali ditetapkan untuk periode kedua pada 2024–2029. Selepas pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo pada bulan Juli 2026 lalu, Destry ditunjuk mengemban amanah sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI. Dalam posisi penting tersebut, ia memimpin bank sentral di tengah sorotan pasar yang tertuju pada isu stabilitas nilai tukar, laju inflasi, likuiditas, serta koordinasi bauran kebijakan moneter dan fiskal.

Aida S. Budiman — Calon Deputi Gubernur Senior BI

Aida S. Budiman merupakan sosok pejabat karier murni di Bank Indonesia yang telah mendedikasikan dirinya bekerja di bank sentral sejak awal dekade 1990-an. Lahir di Bogor pada tahun 1965, ia menamatkan pendidikan sarjana di jurusan Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987.

Aida kemudian melanjutkan studi jenjang pascasarjana ke University of Southern California dan sukses merengkuh gelar Master of Economics pada 1996. Tidak berhenti di situ, ia juga berhasil mengantongi gelar PhD di bidang ilmu ekonomi dari Claremont Graduate University pada tahun 2001.

Sebelum resmi mengemban jabatan sebagai Deputi Gubernur, Aida menduduki bermacam posisi penting dan strategis di tubuh BI. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Departemen Internasional pada 2014–2018, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada 2018, serta menjabat Asisten Gubernur yang membawahi bidang Kebijakan Strategis Sektor Moneter sekaligus Bauran Kebijakan BI pada kurun 2020–2022.

Aida secara resmi diangkat menjadi Deputi Gubernur BI berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 147/P Tahun 2021 dan mengangkat sumpah jabatan pada tanggal 6 Januari 2022, dengan masa penugasan yang berlaku sampai dengan tahun 2027.

Sepanjang perjalanan pengabdiannya sebagai Deputi Gubernur, Aida terlibat aktif dalam berbagai agenda strategis berskala nasional maupun internasional yang diinisiasi BI. Salah satunya terlihat dari perannya dalam mengendalikan inflasi pangan lewat penguatan sinergi bersama jajaran pemerintah daerah. Di samping itu, ia juga sangat aktif mengawal pengembangan sektor ekonomi dan keuangan syariah, digitalisasi jalur sistem pembayaran, perluasan inklusi keuangan, serta mengamankan berbagai kepentingan agenda strategis BI di panggung forum G20.

Berbekal latar belakang pengalaman yang demikian kaya, Aida dinilai memiliki wawasan yang amat luas, mulai dari rumusan kebijakan moneter dan perekonomian global hingga sinergi koordinasi kebijakan bersama pemerintah serta akselerasi ekonomi digital yang inklusif.

Solikin M. Juhro — Calon Deputi Gubernur BI

Solikin lahir di kota Surabaya pada tanggal 10 Oktober 1967. Ia menuntaskan pendidikan sarjana strata satu di bidang Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Universitas Airlangga pada tahun 1991. Pendidikan tingkat magisternya kemudian ditempuh di University of Michigan dengan mengambil konsentrasi khusus di bidang Economics dan rampung pada tahun 1998. Selang beberapa tahun kemudian, ia berhasil meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia pada 2005.

Solikin merupakan figur pejabat karier tulen di BI yang mengawali pengabdiannya di bank sentral sejak tanggal 20 September 1994. Selama kurun waktu lebih dari tiga dekade berkarier, ia telah menduduki bermacam posisi krusial yang bersentuhan langsung dengan dunia riset, perumusan kebijakan moneter, hingga sektor makroprudensial.

Ia sempat mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Departemen Institut BI pada 2016–2018, sebelum akhirnya dipromosikan menjadi Kepala Departemen Institut BI pada rentang 2018–2022. Selepas itu, Solikin dipercaya memimpin Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada 2022–2023. Terhitung mulai tanggal 16 Juni 2023 hingga saat ini, ia diamanahkan menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI sekaligus tercatat memegang posisi sebagai Asisten Gubernur di struktur organisasi BI.

Ranah makroprudensial memegang peranan vital sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga kokohnya ketahanan sistem keuangan nasional. Departemen yang berada di bawah komando Solikin bertugas merumuskan serta memberikan rekomendasi kebijakan makroprudensial yang bersandar pada hasil asesmen, riset mendalam, dan proyeksi terukur guna menjaga kelancaran fungsi intermediasi, memperluas akses keuangan masyarakat, sekaligus ikut serta merawat stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Di samping itu, Solikin juga memiliki rekam jejak akademik yang sangat kuat. Namanya banyak dijumpai dalam bermacam karya kajian ilmiah terbitan BI dan dikenal sebagai salah satu konseptor ulung yang mengkaji kebijakan bank sentral, penerapan bauran kebijakan, serta berbagai isu krusial makroekonomi. Salah satu karya tulis monumental miliknya yang kerap dijadikan acuan referensi dalam kajian resmi BI bertajuk Pengantar Kebanksentralan: Teori dan Kebijakan.

Muhammad Anwar Bashori — Calon Deputi Gubernur BI

Muhammad Anwar Bashori turut melengkapi daftar kandidat sebagai pejabat karier berpengalaman di lingkungan Bank Indonesia. Ia lahir di Klaten pada tahun 1968 dan merampungkan pendidikan tingkat sarjana di Fakultas Manajemen Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 1989. Selanjutnya, ia melanjutkan studi pascasarjana dan memperoleh gelar Master of Development Economics dari University of Glasgow pada 1999.

Anwar menapaki langkah awal kariernya di Bank Indonesia pada tahun 1994. Sepanjang perjalanan karier profesionalnya di bank sentral, ia pernah dipercaya memegang tampuk kepemimpinan di sejumlah departemen strategis. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah pada periode 2016–2022. Selepas itu, ia digeser memimpin Departemen Sumber Daya Manusia pada 2022–2024, sebelum akhirnya sejak tahun 2025 dipercaya mengemban jabatan sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Uang.

Posisi puncaknya saat ini memberikan pengalaman praktis secara langsung dalam mengelola salah satu mandat operasional paling esensial di BI, yakni menjamin ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi uang Rupiah yang layak edar ke seluruh penjuru wilayah teritorial Republik Indonesia. Di samping itu, Departemen Pengelolaan Uang juga memikul tanggung jawab atas distribusi uang Rupiah secara efisien dan tepat waktu, yang mencakup pula layanan kas di wilayah Jabodebek.

Rekam jejak kepemimpinan Anwar juga mencatatkan andil besar dalam pengembangan sektor ekonomi serta keuangan syariah nasional. Sewaktu memimpin departemen tersebut, ia terlibat aktif mengawal misi strategis BI untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah serta mendorong sinergi erat antara sektor keuangan, industri halal, hingga denyut pembangunan ekonomi umat.

 Dalam kapasitas terkininya sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Uang, Anwar senantiasa turun tangan mengawal program pendistribusian uang Rupiah ke daerah-daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sebagai contoh, dalam perhelatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2025, ia aktif memaparkan proses penyaluran uang layak edar ke wilayah kepulauan sekaligus menggalakkan edukasi publik mengenai kampanye Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.

Dokumentasi kelembagaan resmi BI turut mengonfirmasi posisi Anwar sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Uang, sementara laporan LHKPN tahun 2024 menempatkan namanya sebagai pejabat eksekutif senior BI pada unit kerja tersebut.

Empat Kandidat, Empat Latar Keahlian

Jika dicermati secara seksama dari rekam jejak yang dimiliki, keempat figur nama yang diajukan oleh pemerintah ini mempunyai latar belakang pengalaman yang beragam namun saling melengkapi satu sama lain. Destry membawa keunggulan berupa pengalaman paling luas di sektor ekonomi dan keuangan serta pengalaman langsung sebagai pimpinan Dewan Gubernur BI.

 Aida memiliki spesialisasi yang sangat kuat di bidang kebijakan moneter dan koordinasi lintas kebijakan ekonomi. Solikin berbekal landasan yang amat kokoh di ranah riset ekonomi, moneter, serta makroprudensial, sementara Anwar mengantongi pengalaman panjang dalam hal tata kelola organisasi, pengembangan ekonomi syariah, dan manajemen pengelolaan uang Rupiah.

Seluruh kandidat tersebut juga membagikan satu kesamaan fundamental yang penting, yakni bahwa mereka merupakan figur-figur internal yang telah lama mendedikasikan kariernya di lingkungan Bank Indonesia. 

Kondisi ini menjadikan agenda proses seleksi di DPR bukan sekadar ajang penilaian portofolio rekam jejak personal semata, melainkan juga menguji visi besar mereka terhadap arah kebijakan bank sentral ke depan, upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, pengendalian inflasi, stimulasi pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan ketahanan sistem keuangan, serta komitmen kuat terhadap independensi institusi BI.

Selanjutnya, pihak DPR RI bersiap menjalankan mekanisme konstitusional sesuai ketentuan yang berlaku guna melakukan penilaian serta menjatuhkan pilihan terbaik terhadap para kandidat tersebut. Puan Maharani menegaskan bahwa proses uji kepatutan dan kelayakan bagi keempat nama itu akan segera bergulir tidak lama setelah masa persidangan DPR resmi dibuka pada tanggal 14 Agustus 2026.

Terkini