IHSG Ditutup Melemah 1,53 Persen ke Posisi 6267, Saham DEWA Hingga MAPI Loyo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:09:31 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: NET)

JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (11/8/2026). Sejumlah saham seperti DEWA, HRTA, hingga MAPI tercatat loyo hingga perdagangan sore hari.

Melansir data BEI, IHSG ditutup melemah 1,53% ke level 6.267,88. Sepanjang hari, indeks bergerak pada level 6.388,58—6.230,10. Dari ratusan konstituen, sebanyak 148 saham menguat, 567 melemah, dan 248 saham stagnan.

Dari jajaran saham LQ45, pelemahan harga saham dialami oleh PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang turun 6,75% ke Rp442, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) turun 5,45% ke Rp2.080, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) turun 5,23% ke Rp1.540. 

Hal yang sama terjadi pada PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 4,81% ke Rp178, PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) turun 4,56% ke Rp1..885, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) turun 3,95% ke Rp2.920.

Sebaliknya, penguatan harga saham dialami oleh PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang naik 3,47% ke Rp1.340, PT Indosat Tbk. (ISAT) naik 2,38% ke Rp2.150, dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 1,91% ke Rp800. 

Begitu juga dengan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) yang naik 1,46% ke Rp695, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) naik 1,41% ke Rp720, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) naik 0,72% ke Rp1.395.

Pada sepekan yang lalu, IHSG telah ditutup menguat dalam tiga hari perdagangan, dan dua hari perdagangan sisanya indeks komposit berakhir di zona merah.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan bahwa memasuki pekan 10-14 Agustus 2026 ini, pergerakan pasar keuangan diproyeksikan akan berada dalam fase wait and see seiring tingginya intensitas rilis data ekonomi dari Amerika Serikat.

Pekan ini, fokus utama para pelaku pasar akan tertuju pada rilis indikator inflasi kunci, yaitu Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), serta data penjualan ritel (retail sales).

"Rangkaian data ini menjadi krusial karena akan memberikan sinyal yang lebih terang mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, apakah tekanan inflasi sudah benar-benar mendingin untuk memberi ruang bagi pelonggaran suku bunga atau justru masih cukup tangguh untuk mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama," terang David, Selasa (11/8/2026).

Sementara dari sisi sentimen domestik, David menjelaskan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2026 sebesar 5,2% YoY menegaskan solidnya resiliensi makroekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, disokong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga akibat inflasi yang terjaga serta akselerasi pembentukan modal tetap bruto yang mencerminkan tingginya kepercayaan investor.

"Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging markets," tandasnya.

Adapun, dalam pekan lalu IHSG menguat sekitar 2,78% ke level 6.409, diikuti pembelian (inflow) investor asing mencapai Rp494 miliar di pasar reguler.

Terkini