Belanja Haji 2026 Tembus Rp29 Triliun Sebagian Besar Mengalir ke Arab Saudi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:42:02 WIB
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. (Foto: NET)

JAKARTA — Penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi tidak sekadar berdampak pada aspek keagamaan, melainkan turut menggerakkan aktivitas perekonomian dengan nominal yang masif. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akumulasi belanja jemaah haji Indonesia pada musim haji periode ini diestimasikan mencapai Rp29,25 triliun yang bersumber dari biaya penyelenggaraan ibadah haji serta pengeluaran mandiri para jemaah.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengutarakan bahwa kegiatan perekonomian tersebut menyumbang andil terhadap konsumsi rumah tangga, produk domestik bruto (PDB), hingga sektor perdagangan jasa Indonesia. 

Meskipun demikian, porsi terbesar pengeluaran masih berlangsung di luar negeri karena berkaitan secara langsung dengan pelaksanaan ritual ibadah di Arab Saudi.

"Total belanja jemaah haji tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp29,25 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen menjadi konsumsi domestik, sedangkan sekitar 70 persen merupakan konsumsi impor atau pengeluaran yang dilakukan di Arab Saudi," ujar Amalia dalam pemaparan BPS, Kamis (6/8/2026).

Merujuk pada data BPS yang bersumber dari Badan Penyelenggara Haji (BPH), pengeluaran tersebut terbagi atas biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) jemaah reguler senilai Rp17,77 triliun, pengeluaran pribadi jemaah reguler Rp3,39 triliun, BPIH haji khusus Rp7,23 triliun, serta pengeluaran mandiri jemaah haji khusus sejumlah Rp857,3 miliar. 

Dari keseluruhan akumulasi belanja tersebut, konsumsi yang berputar di dalam negeri dihitung mencapai Rp8,78 triliun. Di sisi lain, pengeluaran yang masuk ke dalam komponen impor jasa serta konsumsi di Arab Saudi mencapai Rp20,48 triliun.

Menurut pandangan Amalia, pelaksanaan ibadah haji memberikan sumbangsih sekitar 0,13 persen terhadap PDB nasional. Aktivitas tersebut pun menyumbangkan sekitar 0,84 persen terhadap konsumsi rumah tangga serta berkontribusi sebesar 7,13 persen terhadap sektor impor jasa Indonesia.

Belanja Oleh-Oleh

BPS turut memaparkan bahwa pos belanja oleh-oleh menjadi komponen paling besar dalam pengeluaran pribadi jemaah haji. Nilainya diestimasikan mencapai Rp1,96 triliun atau mendekati separuh dari total pengeluaran mandiri yang sebesar Rp4,25 triliun.

Disamping memborong oleh-oleh, pengeluaran pribadi jemaah dialokasikan untuk pembelian produk obat-obatan serta keperluan lain senilai Rp734,3 miliar, pelunasan pembayaran dam Rp669,9 miliar, produk makanan dan minuman Rp542,6 miliar, sektor transportasi Rp257,4 miliar, hingga pembelian paket data serta internet sebesar Rp86,2 miliar.

Dalam pada itu, Amalia memandang relasi ekonomi antara Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya tercermin lewat penyelenggaraan ibadah haji, tetapi juga melalui sektor perdagangan komoditas barang. Sejumlah produk ekspor asal Indonesia kian mempunyai tingkat daya saing yang tangguh di pasar Arab Saudi.

Pada tahun 2025, kelompok komoditas lemak serta minyak hewani maupun nabati menjadi produk unggulan Indonesia dengan nilai impor Arab Saudi menyentuh angka 706,47 juta dollar AS atau menguasai pangsa pasar hingga seluas 38,29 persen. 

Komoditas tersebut bahkan mencatatkan rata-rata pertumbuhan mencapai 72,28 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Di samping minyak nabati, produk-produk Indonesia yang masih mempertahankan posisi kuat di pasaran Arab Saudi mencakup kayu beserta produk olahan kayu, komoditas kopi, teh dan rempah-rempah, produk kertas dan karton, olahan daging serta ikan, biji-bijian beserta buah yang mengandung minyak, hingga produk alas kaki.

Dalam kategori kelompok produk berdasarkan penguasaan pangsa pasar, Indonesia menduduki peringkat pertama untuk komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati. 

Indonesia pun berada pada urutan ketiga untuk produk kayu serta olahan daging dan ikan, serta masuk dalam jajaran empat besar untuk produk kertas, biji-bijian mengandung minyak, serta produk alas kaki.

BPS menilai terdapat celah peluang yang cukup kuat bagi Indonesia untuk memperluas ekspansi bisnis di Arab Saudi. Sebagai perbandingan, Amalia mencontohkan bahwa pada tahun 2005 pasokan di Arab Saudi didominasi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat sampai Inggris. 

Sebaliknya pada tahun 2025 atau selang dua dekade kemudian, negara Cina dan India yang mayoritas penduduknya nonmuslim justru bertransformasi menjadi pemasok utama bagi Saudi Arabia.

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menerangkan, secara akumulatif skala ekonomi Indonesia ke Arab Saudi jauh lebih besar akibat tingginya jumlah kunjungan jemaah umrah. Pihaknya mencatat terdapat kisaran 2 juta jemaah yang melaksanakan perjalanan ibadah ke Arab Saudi setiap tahunnya.

"Kami bisa pasok beras, patin, hingga rempah untuk itu," katanya.

Terkini