Aksi Iklim: Indonesia dan China Sepakat Perkuat Kemitraan

Jumat, 31 Juli 2026 | 17:43:31 WIB
Menteri LH Moh Jumhur Hidayat. (Foto: NET)

JAKARTA — Melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Pemerintah Republik Indonesia memantapkan kolaborasi hijau bersama Pemerintah China. Hal ini ditekankan saat pertemuan antara Menteri LH Moh Jumhur Hidayat bersama Utusan Khusus Perubahan Iklim China, Liu Zhenmin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pada hari Jumat, pertemuan antara Menteri LH sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur dengan Liu Zhenmin tersebut dilangsungkan di Jakarta pada Kamis (30/7). 

Langkah ini merupakan bentuk tindak lanjut atas kesepakatan kedua pimpinan negara yang menjadikan kolaborasi sektor lingkungan serta pembangunan hijau sebagai fondasi penting dalam hubungan bilateral RI-China.

"Indonesia meyakini bahwa perlindungan lingkungan bukan merupakan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yaitu membangun kesejahteraan melalui perlindungan lingkungan hidup, dengan memastikan bahwa manfaat ekonomi hijau dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat,” ujar Jumhur dalam pertemuan tersebut.

Lebih lanjut, Jumhur menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menyusun strategi baru yang memadukan adaptasi, mitigasi, serta kesejahteraan menjadi tiga pilar penentu dalam aksi iklim di tingkat nasional.

Upaya tersebut didukung lewat pemajuan pasar karbon, kredit keanekaragaman hayati, skema pembagian keuntungan yang setara, dan penerapan asas keadilan iklim.

"Hubungan Indonesia dan Tiongkok telah berkembang menjadi kemitraan yang saling menguntungkan. Ke depan, kami berharap kerja sama ini semakin berorientasi pada aksi nyata, inovasi, investasi hijau, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas sehingga mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara serta berkontribusi terhadap pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan dunia," ujar Jumhur.

Merespons hal itu, Liu Zhenmin memberikan apresiasi terhadap peran kepemimpinan Indonesia. Ia juga memastikan bahwa Tiongkok siap untuk meningkatkan kemitraan strategis secara lebih mendalam.

"China memandang Indonesia sebagai salah satu mitra strategis paling penting di ASEAN dan Negara-Negara Selatan. Kami siap memperdalam kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini bencana, ekonomi sirkular, dan perlindungan lingkungan, sekaligus bekerja sama untuk menjaga kepentingan negara-negara berkembang dalam tata kelola iklim global,” jelas Liu Zenmin.

Di dalam perjumpaan itu, kedua belah pihak turut menyetujui beberapa titik berat kolaborasi hijau, seperti memacu investasi di sektor energi terbarukan, membangun ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai, memperkuat industri panel surya, hingga memantapkan rantai pasok industri hijau sesuai situasi di masing-masing negara.

Pembicaraan juga menyentuh soal pembuatan sistem peringatan dini bencana menggunakan satelit dan kecerdasan buatan, penjagaan hutan hujan tropis, konversi sampah menjadi energi, pelestarian keanekaragaman hayati, kolaborasi penelitian, pertukaran tenaga ahli, serta program pelatihan guna mempersiapkan sumber daya manusia mumpuni di bidang hijau.

Selain itu, mereka setuju untuk mengukuhkan sikap bersama dalam menghadapi konferensi iklim skala global berlandaskan asas tanggung jawab bersama yang proporsional. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk mendesak negara-negara maju agar segera menunaikan janji mereka terkait pembiayaan iklim serta alih teknologi.

Terkini