KUR BRI Bantu Petani Bunga Pacah di Bali Kembangkan Usaha

Rabu, 29 Juli 2026 | 21:32:31 WIB
Petani Bunga Pacah di Bali Berkembang Berkat KUR [FOTO: NET].

JAKARTA - Para petani bunga pacah di wilayah Bali mampu mengembangkan usahanya setelah berhasil mendapatkan fasilitas pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari sektor perbankan.

Salah seorang petani bunga pacah yang bertempat tinggal di Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, yakni Made Tarji, menuturkan bahwa ketersediaan akses pembiayaan memegang peran krusial dalam mempertahankan kontinuitas kegiatan bertani.

Tarji memaparkan bahwa besaran biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk satu siklus penanaman bunga pacah bisa menyentuh angka sekitar Rp20 juta. Kebutuhan modal tersebut wajib dipenuhi terlebih dahulu sebelum tanaman mulai menghasilkan panen, sehingga sokongan pembiayaan menjadi sangat krusial agar proses budi daya berjalan dengan lancar.

"Bantuan modal sangat membantu petani. Karena sebelum panen, biaya untuk pengolahan lahan, bibit, pupuk sampai perawatan sudah lebih dulu dikeluarkan," jelas Tarji, Rabu (29/7/2026).

Berdasarkan keterangan Tarji, komoditas bunga pacah ini tergolong tanaman yang menuntut penanganan serta perawatan secara intensif. Tanaman umumnya mulai mengeluarkan bunga ketika memasuki usia tiga minggu pascatanam, lalu bisa dipetik hasilnya setiap hari dalam rentang waktu dua sampai tiga bulan asalkan pertumbuhannya berlangsung secara optimal.

Pada periode awal panen, tingkat produktivitas bisa mencapai kisaran 35 kilogram per hari, sebelum akhirnya mengalami penyusutan menjadi sekitar 25 hingga 27 kilogram per hari.

Kendati tingkat permintaan bunga untuk keperluan sarana upacara keagamaan di Bali cenderung stabil, hal tersebut tidak lantas menjamin perolehan pendapatan petani selalu mengalami kenaikan.

Fluktuasi harga bunga pacah sangat bergantung pada dinamika pasar. Apabila pasokan melimpah ruah, harga jualnya bisa merosot hingga menyentuh angka sekitar Rp10.000 per kilogram. Sebaliknya, pada saat volume produksi menyusut, harga di pasaran mampu melonjak hingga kisaran Rp40.000 per kilogram.

Di samping faktor ketidakpastian harga, kondisi cuaca turut menjadi kendala terbesar yang berpotensi merusak mutu serta menurunkan total hasil panen.

Tarji menambahkan bahwa bunga yang sudah dipetik tidak mempunyai daya tahan lama untuk disimpan, sehingga harus segera dilempar ke pasaran. Situasi tersebut kerap memaksa para petani untuk menerima berapapun harga yang telah dipatok oleh pasar maupun para pengepul.

Oleh sebab itu, menekan efisiensi ongkos produksi serta memastikan kecukupan modal menjadi kunci utama demi menjaga kelangsungan bisnis pertanian ini.

Bagi Tarji, adanya sokongan permodalan lewat program KUR menjadi salah satu amunisi utama untuk mempertahankan eksistensi usahanya. Ketersediaan modal tersebut memungkinkannya mencukupi segala kebutuhan produksi, sehingga ketersediaan pasokan bunga pacah guna memenuhi ritual keagamaan warga Bali tetap terjaga di tengah terpaan gejolak harga maupun cuaca ekstrim.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyampaikan bahwa pihak BRI secara konsisten terus mengoptimalkan pengaluran KUR ke berbagai bidang sektor produktif, termasuk sektor pertanian, sebagai strategi mendongkrak kapasitas bisnis para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut pandangannya, pembiayaan yang disalurkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan modal kerja semata, melainkan juga diarahkan untuk merangsang kenaikan produktivitas serta menjaga kesinambungan jangka panjang usaha rakyat.

"Kami melihat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah. Melalui KUR, BRI ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kesinambungan produksi. Harapannya, pembiayaan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekosistem pertanian di Bali,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihak BRI ke depannya akan terus memperluas jangkauan pembiayaan bagi para pengusaha produktif yang memiliki prospek bisnis menjanjikan serta dikelola dengan tata kelola yang baik.

Melalui sokongan permodalan yang berkesinambungan ini, sektor pertanian diharapkan mampu tampil lebih tangguh dalam menepis berbagai rintangan, sekaligus sanggup memberikan andil positif bagi laju pertumbuhan ekonomi di wilayah daerah.

Terkini