Kampus Harus Jadi Bagian Solusi Pembangunan Kawasan Transmigrasi

Rabu, 29 Juli 2026 | 18:10:31 WIB
Wamendikti Minta Akademisi Jadi Pemecah Masalah Kawasan Transmigrasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menggarisbawahi bahwa institusi perguruan tinggi wajib beradaptasi menjadi bagian integral dari ekosistem pembangunan guna bertindak sebagai pemecah masalah demi menyokong kemajuan wilayah transmigrasi.

"Perguruan tinggi harus menjadi problem solver, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa. Saat ini kampus yang hebat adalah kampus yang mampu memberikan makna yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat," katanya dalam kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot di Jakarta, Rabu.

Wamen Fauzan mengemukakan bahwa potensi besar dari hampir sepuluh juta jiwa mahasiswa serta ratusan ribu tenaga pengajar harus dioptimalkan secara maksimal guna melipatgandakan dampak positif dari pelaksanaan tri darma perguruan tinggi.

Oleh karenanya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara aktif mengarahkan pergeseran pola pikir dunia pendidikan tinggi, dari yang mulanya berjalan secara parsial menuju orientasi pembentukan jejaring kerja sama, serta beralih dari fokus pencapaian target internal institusi menjadi berorientasi pada penciptaan dampak nyata di tengah masyarakat.

Sebagai wujud nyata penerapan kebijakan tersebut, terang Fauzan, di berbagai wilayah nusantara telah didirikan sejumlah Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) yang menjalin sinergi bersama para pemangku kepentingan lokal, seperti pemerintah daerah, sektor swasta, serta dunia industri, guna memecahkan berbagai persoalan regional sebagai solusi bagi permasalahan nasional.

Melalui wadah konsorsium itu, setiap perguruan tinggi diajak untuk memadukan kegiatan pendidikan, riset, serta pengabdian masyarakat demi melahirkan pemecahan masalah yang berlandaskan ilmu pengetahuan terhadap isu-isu strategis bangsa, sekaligus memperkokoh kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi lewat penerapan model kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy.

Sebagai gambaran nyata, Kemdiktisaintek telah memprakarsai pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menyokong percepatan penuntasan kasus stunting melalui program KKN Tematik, di Sulawesi Tengah untuk penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC), serta di kawasan Bondowoso lewat pendampingan intensif pada sektor pengembangan pertanian organik.

Berdasarkan pandangan Fauzan, skema pendekatan yang serupa sangat mungkin untuk diaplikasikan dalam rangka mengawal pembangunan kawasan transmigrasi dengan cara memetakan hambatan khas di masing-masing daerah sebagai landasan perumusan intervensi berbasis ilmu pengetahuan.

"Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. Di suatu kawasan transmigrasi, kampus bisa mengidentifikasi tantangan yang ada di lokasi tersebut. Ketika diperlukan kajian yang lebih spesifik dan treatment yang lebih efektif, maka perguruan tinggi dapat ‘memencet tombol’ konsorsium yang ada di daerah tersebut," ujar Wamen Fauzan.

Ia menilai bahwa langkah strategis ini selaras dengan garis haluan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menaruh perhatian besar pada pentingnya sinkronisasi lintas sektor kementerian dan lembaga demi tercapainya pemerataan pembangunan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, sains, teknologi, serta inovasi sebagaimana termaktub dalam misi Astacita.

Mengakhiri sesi pengarahannya, ia menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Kementerian Transmigrasi atas suksesnya penyelenggaraan acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot. Menurut pandangan Wamen Fauzan, inisiatif tersebut kian membukakan pintu seluas-luasnya bagi kalangan perguruan tinggi untuk terlibat langsung dalam pembangunan kawasan transmigrasi.

Berdasarkan catatan dari basis data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) per Oktober 2025 serta data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, tercatat bahwa Indonesia memiliki total 4.416 perguruan tinggi, 303.067 dosen, serta 9.967.487 mahasiswa. Kekuatan masif tersebut merepresentasikan modalitas strategis yang siap digerakkan untuk mengakselerasi roda pembangunan, termasuk lewat penyediaan pendampingan berbasis riset ilmiah di kawasan-kawasan transmigrasi.

Terkini