Program Jembatan Garuda Hubungkan 7.371 Desa di RI

Rabu, 29 Juli 2026 | 17:29:31 WIB
Deputi III Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI Kurnia Ramadhana. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mengumumkan bahwa mobilitas warga di sekitar 7.371 desa kini menjadi jauh lebih baik setelah rampungnya pembangunan 1.416 jembatan yang masuk dalam Program Jembatan Garuda.

Saat melangsungkan konferensi pers di Jakarta pada hari Rabu, Deputi III Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI Kurnia Ramadhana memaparkan bahwa hingga tanggal 28 Juli 2026, Program Jembatan Garuda berhasil mendirikan jembatan di 1.416 titik. 

Jumlah tersebut setara dengan 49,9 persen dari keseluruhan target yang dipatok sebanyak 2.838 lokasi.

"Hingga saat ini program Jembatan Garuda telah menghubungkan sekitar 7.371 desa dan kelurahan, dengan penduduk penerima manfaat mencapai 4.252.500 jiwa," kata Kurnia.

Di samping itu, kehadiran Program Jembatan Garuda ini pun sukses memperlancar jalur menuju 8.505 institusi pendidikan serta 4.250 pusat layanan kesehatan. Infrastruktur ini juga menyambungkan akses ke 4.360 area penunjang ekonomi seperti pasar tradisional.

"Secara rata-rata waktu tempuh masyarakat pada titik-titik yang telah tersambung jembatan berkurang antara 45 hingga 50 menit," kata Kurnia menambahkan.

Kurnia menjelaskan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Perbaikan Jembatan yang dikomandoi oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak tidak hanya berfokus pada area yang terimbas bencana alam seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. 

Satgas ini juga menyasar kawasan-kawasan dengan kesenjangan infrastruktur yang selama ini menghambat pergerakan warga.

Berdasarkan data terkini, infrastruktur yang telah rampung meliputi 80 jembatan bailey, 524 jembatan armco, 459 jembatan beton, serta 353 jembatan perintis. Dengan demikian, akumulasi jembatan yang selesai didirikan saat ini mencapai 1.416 unit.

Kurnia menggarisbawahi bahwa lewat berdirinya jembatan-jembatan baru tersebut, para pelajar kini tidak perlu bertaruh nyawa menyeberangi area sungai atau memakai moda penyeberangan yang membahayakan. 

Langkah ini secara masif mampu meminimalkan potensi kecelakaan saat berangkat sekolah serta memperlancar mobilitas para pengajar dan murid, khususnya ketika musim penghujan tiba.

Manfaat lainnya, keberadaan konektivitas ini memastikan unit ambulans sekarang bisa menjangkau area pedesaan yang mulanya terisolasi. Infrastruktur ini sekaligus menyokong para petani setempat agar dapat mendistribusikan hasil panen mereka ke daerah luar dengan durasi yang lebih singkat.

"Akses layanan pemerintah juga menjadi lebih cepat di mana masyarakat kini lebih mudah menjangkau kantor desa, kecamatan, dan pusat pelayanan publik sementara distribusi logistik pemerintah maupun penyaluran bantuan darurat dapat dilakukan lebih cepat ke wilayah terpencil," demikian Kurnia Ramadhana.

Terkini