Kementrans Ajak Kadin Investasi Kembangkan Kawasan Transmigrasi

Rabu, 29 Juli 2026 | 17:16:32 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi. [Foto: via Kompas.com]

JAKARTA - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk menanamkan investasi dalam mengembangkan 154 kawasan transmigrasi prioritas guna meningkatkan nilai tambah komoditas utama, memperluas jangkauan ekspor, serta mencetak pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ia menyampaikan bahwa tiap kawasan transmigrasi menyimpan potensi unggulan tersendiri, sehingga membutuhkan dukungan modal agar dapat tumbuh menjadi pusat produksi dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.

“Perlu ada investasi agar komoditas yang ada tidak stagnan,” kata Viva dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Pernyataan tersebut ia sampaikan sewaktu menerima kunjungan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta Sarana dan Prasarana Kadin Indonesia M Azis Syamsuddin di Jakarta.

Ia memberi gambaran kawasan transmigrasi di Kabupaten Bungo, Jambi, unggul dengan potensi kelapa sawit, sementara Banyuasin, Sumatera Selatan, memiliki komoditas utama berupa padi.

Di sisi lain, kawasan transmigrasi di Sulawesi Tengah menghasilkan komoditas kakao, kopi, pala, dan durian. Tak hanya sektor perkebunan, wilayah transmigrasi di kawasan pesisir juga menyimpan potensi perikanan yang kian berkembang dari skala usaha kecil, menengah, hingga ranah ekspor.

Menurut Viva Yoga, salah satu komoditas utama dari daerah transmigrasi telah berhasil diekspor ke China sebesar 459 ton dengan nilai menembus kisaran Rp42,5 miliar.

Di samping itu, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) turut memfasilitasi pengiriman ekspor sekitar 16 ton rajungan senilai Rp14 miliar sampai Rp15 miliar ke Amerika Serikat. Produk rajungan ini berasal dari kawasan transmigrasi di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Viva menegaskan bahwa masuknya investasi amat dibutuhkan demi mendongkrak kapasitas produksi, memperkuat pengolahan hasil panen, serta memperluas jangkauan pasar komoditas unggulan buatan warga transmigran.

Ia menilai Kadin mempunyai jaringan bisnis yang membentang hingga tingkat provinsi dan kabupaten/kota, yang dapat difungsikan untuk mempertemukan para pelaku usaha, investor, pengolah, serta pembeli dengan produsen lokal di kawasan transmigrasi.

“Kementrans telah melakukan sinergi dengan PNM, pengusaha dari China, dan para offtaker. Sekarang Kadin perlu melakukan hal yang sama untuk ikut mengembangkan kawasan transmigrasi,” ujarnya pula.

Wamentrans menerangkan bahwa eksekusi program transmigrasi era sekarang berbeda ketimbang masa lalu, lantaran mengusung pendekatan bottom up, yaitu berdasarkan permohonan dari pemerintah daerah.

“Program transmigrasi dulu ditetapkan oleh pemerintah pusat secara langsung. Saat ini program transmigrasi dilaksanakan secara desentralisasi, bottom up. Ada transmigrasi bila ada permintaan dari daerah yang membutuhkan,” katanya lagi.

Ia mengutarakan bahwa Kementrans telah mengantongi 61 proposal dari jajaran bupati yang mengusulkan pembentukan kawasan transmigrasi baru. Beberapa wilayah yang sudah memiliki kawasan transmigrasi pun turut mengajukan perluasan kawasan baru.

Berdasarkan penuturan Viva, tingginya angka permohonan tersebut menandakan bahwa program transmigrasi tetap dibutuhkan sebagai sarana pemerataan pembangunan, penggalian potensi daerah, hingga pembentukan pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.

Kemitraan bersama Kadin diharapkan mampu mendatangkan investasi yang selaras dengan potensi lokal, memperkokoh bisnis warga, membuka peluang kerja, mendongkrak nilai tambah komoditas, sekaligus mengakselerasi pembenahan kawasan transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru.

Azis Syamsuddin menimpali bahwa masih banyak pulau di Indonesia yang memiliki lahan belum tergarap secara maksimal untuk sektor pertanian maupun aktivitas ekonomi lainnya, sehingga pemenuhan kebutuhan warga setempat kerap bergantung pada pasokan dari Pulau Jawa.

Ia berpandangan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi dapat menjadi jalan keluar untuk membangun pusat-pusat produksi baru, sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi daerah secara maksimal.

Terkini