Harga Tomat Anjlok, Bapanas Serap Hasil Panen Cianjur

Selasa, 28 Juli 2026 | 22:28:31 WIB
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaksanakan gerakan aksi bela beli tomat guna menampung hasil panen para petani dari Kabupaten Cianjur di kala harga pada tingkat produsen sedang merosot tajam. 

Langkah tersebut diambil sebagai tindakan untuk memelihara stabilitas harga sekaligus memperlebar jangkauan pemasaran komoditas panen ketika pasokan melimpah. 

Melalui skema aksi bela beli ini, Bapanas memfasilitasi pembelian tomat hasil panen dari petani Kabupaten Cianjur dengan harga Rp 6.500 per kilogram yang bertempat di Kantor Bapanas pada Senin (27/7/2026). 

Tomat-tomat yang dipasarkan dalam kegiatan tersebut didatangkan dari Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa gerakan tersebut adalah bentuk respons atas turunnya harga tomat di tataran petani selama beberapa waktu belakangan ini. 

Menurut ia, penguatan penyerapan terhadap hasil bumi sangat krusial agar nilai jual di tingkat produsen tidak terus-menerus tertekan. 

"Minggu ini harga tomat petani sedang terkoreksi. Yang biasanya sekitar Rp 12.000, sekarang hampir Rp 1.000 sampai Rp 1.600 per kilogram. Karena itu kami punya program aksi bela beli tomat petani," ujar Ketut dalam keterangan pers, Selasa (28/7/2026).

Ketut pun mengajak jajaran pemerintah daerah untuk turut menggerakkan gerakan serupa dengan mengikutsertakan organisasi perangkat daerah dalam menyerap komoditas panen petani. 

Menurut ia, keterlibatan aktif dari pemerintah daerah bakal memperluas cakupan penyerapan pangan sehingga mampu menyokong stabilitas harga di tingkat produsen. 

"Dengan aksi bela beli, diharapkan petani menjadi lebih tenang karena pemerintah hadir ketika harga sedang turun," katanya.

Petani tomat asal Kabupaten Cianjur, Nana Ariatna, menyebutkan program ini amat menolong para petani yang sedang menghadapi tekanan akibat ketidakpastian harga. 

Di samping itu, kemarau yang berlangsung cukup lama juga mengakibatkan sebagian area lahan tidak bisa ditanami kembali pascapanen. 

"Untuk petani sendiri ini sangat membantu. Kemarau yang cukup panjang membuat banyak tanaman tidak tumbuh optimal, bahkan ada yang panen tetapi tidak bisa menanam kembali. Dengan kondisi harga yang sekarang lebih baik, tentu sangat membantu kami para petani," ujar Nana.

Ia mengungkapkan kelompok taninya menyuplai kurang lebih 3,3 ton tomat menuju Jakarta dan 4 ton menuju Bogor dalam program ini. 

Menurut ia, aktivitas sejenis patut diperluas lantaran fluktuasi harga tomat masih menjadi momok yang dihadapi para petani hortikultura. 

"Kalau bisa kegiatan seperti ini lebih sering dilakukan karena sangat membantu petani kecil. Kadang harga naik sangat tinggi, tetapi ketika turun juga langsung drastis. Terima kasih kepada Bapanas yang sudah membantu kami memasarkan hasil panen," katanya.

Bukan cuma menolong para petani, gerakan bela beli ini turut mendatangkan manfaat bagi pihak konsumen. Salah seorang pembeli, Ida, menuturkan dirinya mendapatkan komoditas tomat dengan harga yang lebih miring ketimbang harga yang dipatok di pasar. 

"Sangat membantu. Harganya jauh lebih murah dibandingkan di pasar. Harapannya bukan hanya tomat, tetapi kebutuhan pokok lainnya juga semakin terjangkau," ujarnya.

Lewat penguatan penyerapan hasil panen ini, Bapanas berharap keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen dapat terus terjaga. 

Pemerintah juga mematok target agar hasil bumi petani tetap tertampung secara maksimal, keberlangsungan sektor usaha tani terus berjalan, serta lapisan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong.

Terkini