Dinamika Global & Fiskal Tentukan Arus Dana Asing ke SBN

Senin, 27 Juli 2026 | 01:26:01 WIB
Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih memiliki daya tarik yang kuat di mata investor asing oleh sejumlah ekonom. (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih memiliki daya tarik yang kuat di mata investor asing oleh sejumlah ekonom. 

Masuknya modal asing ke pasar obligasi pemerintah ini diproyeksikan bakal sangat ditentukan oleh pergerakan dinamika global serta perkembangan kebijakan fiskal di dalam negeri.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengungkapkan bahwa lonjakan tajam pada yield SBN yang berlangsung sejak Juni 2026 justru meningkatkan daya pikat instrumen ini bagi pemodal luar negeri. 

Berdasarkan data month to date (MtD) hingga 23 Juli 2026, arus modal masuk (inflow) ke SBN tercatat mencapai Rp 9 triliun, sedangkan secara year to date (YtD) akumulasinya telah menyentuh angka Rp 16 triliun.

“Outlook ke depannya akan sangat bergantung dinamika global dan perkembangan fiskal dalam negeri,” ujar David, Senin (27/7/2026).

Sementara itu, Ekonom & Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet berpandangan bahwa peluang masuknya dana asing ke pasar SBN tetap terbuka secara positif, walaupun saat ini para investor cenderung bersikap jauh lebih waspada. 

Langkah Bank Indonesia yang mengetatkan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang Mei hingga Juni ke posisi 5,75% telah mengerek kenaikan yield, yang pada gilirannya membuat valuasi SBN kembali memikat.

“Selisih imbal hasil dengan US Treasury tenor 10 tahun juga masih cukup kompetitif, sehingga pada kuartal II – 2026 aliran dana asing ke pasar obligasi mencapai sekitar US$ 8,5 miIiar dan masih berlanjut, meski lebih terbatas, pada awal kuartal III,” terang Yusuf.

Kendati demikian, Yusuf menggarisbawahi bahwa keberlanjutan arus modal masuk tersebut sangat bersandar pada arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh tensi geopolitik, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berkutat di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. 

“Dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung memilih obligasi tenor menengah untuk membatasi risiko durasi,” ucap Yusuf.

Di samping itu, Yusuf menyebutkan bahwa pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo turut mengembuskan ketidakpastian dalam jangka pendek. 

Hal ini dikarenakan pasar menempatkan kredibilitas serta konsistensi kebijakan moneter sebagai aspek yang krusial. Respons awal pasar pun telah tecermin dari depresiasi nilai tukar rupiah dan koreksi yang terjadi di pasar saham. 

Walau begitu, penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas menjadi indikator bahwa arah kebijakan moneter tidak akan mengalami perubahan secara drastis, mengingat keterlibatan langsungnya dalam merumuskan bauran kebijakan Bank Indonesia selama ini. 

Oleh sebab itu, efeknya diperkirakan hanya berupa sentimen jangka pendek, asalkan proses penentuan gubernur definitif nantinya berjalan secara transparan dan independensi bank sentral tetap terjaga dengan baik.

Selaras dengan hal tersebut, David juga melihat bahwa pergantian posisi Gubernur BI berpotensi menaikkan ketidakpastian dalam jangka pendek. 

Namun, berhubung jajaran dewan gubernur BI lainnya tidak mengalami perubahan, muncul ekspektasi bahwa arah kebijakan akan tetap konsisten hingga ditetapkannya pejabat definitif yang baru.

Ke depan, Yusuf menilai pergerakan dana asing pada kuartal III – 2026 bakal sangat dipengaruhi oleh perpaduan antara faktor domestik dan global. 

Dari sisi internal, perhatian pemodal akan tertuju pada konsistensi kebijakan dalam menstabilkan rupiah, pengendalian laju inflasi agar tetap sesuai sasaran, serta keberlanjutan pemanfaatan instrumen seperti DNDF dan fasilitas swap sebagai sarana lindung nilai yang dibutuhkan.

Sedangkan dari lanskap global, fokus pasar tetap mengarah pada pergerakan yield US Treasury, hasil keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, serta perkembangan situasi geopolitik yang memengaruhi sentimen terhadap risiko.

“Jika diferensial yield tetap menarik dan rupiah lebih stabil, arus masuk modal masih berpeluang berlanjut meski tidak sebesar kuartal sebelumnya,” terang Yusuf.

Mengenai proyeksi yield SBN untuk tenor 10 tahun, Yusuf memperkirakan pergerakannya pada kuartal III – 2026 akan berada pada rentang 7,20% sampai 7,50%. 

Saat ini, yield bertengger di kisaran 7,30% setelah pasar melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi pengetatan moneter. 

Apabila tekanan pada mata uang rupiah mereda dan minat para pemodal asing kembali terdongkrak, yield memiliki peluang untuk melandai menuju batas bawah dari kisaran tersebut.

Sebaliknya, jika ketidakpastian seputar kebijakan moneter terus berlanjut atau jika The Fed kembali menebar sinyal hawkish, yield berpotensi merangkak naik mendekati level 7,50%. 

“Secara keseluruhan, daya tarik SBN Indonesia tetap kuat dari sisi carry trade, tetapi investor akan semakin selektif hingga arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru benar-benar memperoleh kepercayaan pasar,” ujar Yusuf.

Di sisi lain, David memproyeksikan bahwa potensi kenaikan yield SBN akan cenderung terbatas jika dibandingkan dengan posisi saat ini. Hal tersebut sejalan dengan perkiraan bahwa kebijakan moneter akan tetap relatif ketat hingga penghujung tahun 2026. 

Selain dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, kondisi fiskal, serta dinamika geopolitik utamanya di kawasan Timur Tengah sebagai faktor penentu utama, risiko inflasi juga dinilai dapat menjadi pemicu yang mendorong kenaikan yield.

Terkini