Pra-Penjualan SMRA Tembus Rp 2,5 Triliun, Analis Kompak Rekomendasi BUY

Senin, 27 Juli 2026 | 00:59:01 WIB
Ketangguhan operasional yang solid berhasil ditunjukkan oleh PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) di tengah tren permintaan properti pasar yang semakin selektif. (Foto: NET)

JAKARTA - Ketangguhan operasional yang solid berhasil ditunjukkan oleh PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) di tengah tren permintaan properti pasar yang semakin selektif. Perolehan pra-penjualan dari emiten pengembang kota mandiri ini bahkan sukses melewati perkiraan pasar.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, mengungkapkan bahwa SMRA berhasil mengumpulkan pra-penjualan hingga Rp 2,54 triliun sepanjang semester pertama tahun 2026. 

Perolehan tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 17,1% secara tahunan (year-on-year/YoY), sekaligus melampaui estimasi para analis maupun target internal dari manajemen perusahaan.

Kawasan Serpong menjadi motor penggerak utama lewat pertumbuhan pra-penjualan sebesar 18,9% YoY hingga menyentuh Rp 1,12 triliun, walau tanpa dibarengi peluncuran proyek anyar. 

Penjualan dari klaster Finore serta Bellefont East, yang membidik ceruk pasar menengah ke atas dengan rentang harga Rp 3,5 miliar sampai Rp 8 miliar per unit, menjadi penyumbang utamanya. 

Tidak hanya Serpong, wilayah Bandung juga mencatatkan kenaikan pra-penjualan yang signifikan sebesar 62,6% YoY menjadi Rp 487 miliar. 

Adapun program insentif rumah bebas PPN turut memberikan kontribusi sekitar Rp 1 triliun atau berkisar 40% dari total pra-penjualan di semester I-2026.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, SMRA telah mempersiapkan rangkaian proyek baru yang lebih potensial di sejumlah wilayah strategis. Kehadiran ajang Summarecon Expo yang dijadwalkan pada kuartal III dan IV 2026 juga diprediksi mampu menjaga tren positif pra-penjualan tersebut.

Kendati demikian, pola pembayaran dari konsumen memicu tantangan tersendiri bagi kondisi arus kas emiten. Skema cicilan bertahap kepada pengembang (cash instalment) terpantau sangat dominan, yakni mencapai 68% dari keseluruhan total pra-penjualan.

Mengenai dampak dari besarnya porsi sistem pembayaran bertahap ini, Kevin memberikan catatannya. 

"Tidak seperti penjualan berbasis KPR di mana bank biasanya memberikan pembiayaan di awal kepada pengembang, skema angsuran tunai mengharuskan pengembang menanggung beban pembiayaan sehingga meningkatkan kebutuhan modal kerja," ungkap Kevin dalam risetnya, Kamis (23/7/2026).

Walau begitu, tingkat rasio utang bersih terhadap modal (net gearing) milik SMRA dipandang masih berada di batas aman pada level 64,6%. 

"Kami percaya rekam jejak eksekusi kawasan mandiri perusahaan yang kuat serta ekspansi pendapatan berulang yang berkelanjutan akan terus menopang kekuatan neraca keuangan," ujar Kevin.

Di sisi lain, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa, sebelumnya memaparkan bahwa performa keuangan SMRA pada kuartal pertama 2026 mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,1% YoY menjadi Rp 2,23 triliun. 

Sektor pengembangan properti menyumbangkan angka Rp 1,41 triliun (+6,2% YoY), sementara pos pendapatan berulang (recurring income) tumbuh 6,6% YoY menjadi Rp 589 miar.

Akan tetapi, perolehan laba bersih SMRA di kuartal I-2026 mengalami penurunan sebesar 20,3% YoY menjadi Rp 190 miliar. Koreksi ini dipicu oleh adanya tekanan pada beban operasional serta tingginya beban bunga korporasi.

Melihat performa setahun penuh pada 2026, Kevin dan Yasmin sama-sama memproyeksikan adanya pemulihan kinerja tahunan bagi SMRA. 

Kevin mengestimasi pendapatan SMRA mampu menyentuh Rp 9,11 triliun dengan laba bersih senilai Rp 924 miliar (+20,5% YoY). 

Sementara itu, Yasmin memperkirakan pendapatan tahunan akan berada di angka Rp 9,10 triliun (+3,8% YoY) dengan proyeksi laba bersih yang disesuaikan menjadi Rp 829 miliar demi mengantisipasi tingginya pos beban non-operasional.

"SMRA membukukan pra-penjualan sebesar Rp 1,2 triliun pada kuartal I-2026 (+36,7% YoY), mencapai 23% dari target tahun anggaran 2026 sebesar Rp 5,2 triliun (+4% YoY), yang utamanya didorong oleh permintaan rumah tapak di Summarecon Serpong (kontribusi 37%) dan Bandung (kontribusi 19%)," ungkap Yasmin dalam risetnya, Jumat (8/5/2026).

Yasmin pun mengimbuhkan bahwa sentimen positif bagi industri properti masih tetap disokong oleh proyeksi tingkat suku bunga yang stabil serta perpanjangan insentif PPN dari pemerintah.

Berdasarkan capaian-capaian tersebut, Yasmin mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham SMRA dengan memasang target harga di level Rp 520 per saham. Senada, Kevin juga memberikan rekomendasi BUY untuk saham SMRA dengan target harga di level Rp 470 per saham.

Terkini