Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Loyo ke Rp18.009 per Dolar AS

Senin, 27 Juli 2026 | 00:49:31 WIB
Pergerakan nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS. Pada akhir sesi perdagangan Senin (27/7/2026), mata uang Garuda merosot 46 poin dan bertengger di posisi Rp18.009 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan jika para pelaku pasar memberikan respons negatif atas keputusan mundurnya Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. 

Sentimen kurang bersahabat ini dinilai bakal kembali membebani laju rupiah pada transaksi hari Selasa (28/7). Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah esok hari ditutup melemah pada kisaran Rp18.010 sampai Rp10.060 per dolar AS.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran," kata Ibrahim, Senin (27/7/2026).

Di samping pengaruh intervensi dari bank sentral, sentimen kurang baik pun bersumber dari keadaan sektor fiskal tanah air. Ibrahim memaparkan jika rasio utang Indonesia sekarang ini berkisar di level 40% dari PDB.

Sementara itu, pihak Trading Economics mengabarkan bahwa sejumlah pengamat pasar keuangan telah memberikan wanti-wanti jika keputusan mundur yang mendadak dari Gubernur BI dapat memantik kecemasan para penanam modal, yang mulanya memang sudah mengkhawatirkan perihal risiko fiskal serta independensi institusi bank sentral.

"Warjiyo, yang memulai masa jabatan lima tahun keduanya pada 2023, menghadapi tekanan yang kian besar untuk menyelaraskan kebijakan dengan agenda pertumbuhan pemerintah saat nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah pada bulan Juni," tulis laporan tersebut.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026, pihak BI menetapkan untuk tidak mengubah tingkat suku bunga acuan pada posisi 5,75%. 

Langkah ini berbanding terbalik dari prediksi konsensus pasar yang memproyeksikan adanya kenaikan susulan selepas total lonjakan sebesar 100 basis poin dari bulan Mei.

"Di tingkat global, nilai tukar dolar AS melemah seiring turunnya harga minyak setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang turut meredakan kekhawatiran terkait pasokan dan inflasi," tulisnya.

Terkini