Sejarah Baru: Robot Humanoid Sukses Bedah Babi Hidup

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:38:01 WIB
Ilustrasi - Robot humanoid. (Foto: NET)

JAKARTA - Untuk pertama kalinya, sebuah tim peneliti sukses memanfaatkan robot humanoid guna melakukan tindakan bedah pada hewan yang masih hidup. 

Robot berkaki dua tersebut digerakkan secara jarak jauh oleh dokter bedah untuk mengangkat kantung empedu babi melalui metode laparoskopi atau bedah minimal dengan sayatan kecil.

Keberhasilan ini dipublikasikan dalam studi kelayakan di jurnal Nature. Melalui riset ini, robot humanoid dinilai berpotensi kuat menjadi alat penunjang bedah yang andal, bahkan untuk memfasilitasi tindakan medis rumit dari jarak jauh. 

Penelitian ini diinisiasi oleh kolaborasi dokter bedah dan insinyur dari University of California San Diego (UCSD), Amerika Serikat. Mereka bertujuan menguji efektivitas robot humanoid, yang umumnya dipakai di sektor industri, saat diimplementasikan dalam ruang operasi.

Pemanfaatan teknologi robotik sebenarnya bukan hal asing dalam prosedur laparoskopi. Perangkat seperti sistem da Vinci telah lama diandalkan oleh para dokter untuk mengontrol tiga hingga empat lengan robot lewat sebuah konsol khusus.

Biasanya, satu lengan berfungsi memegang kamera tiga dimensi, sementara lengan lainnya mengoperasikan alat bedah.

Namun, riset yang dijalankan UCSD ini berbeda karena memakai robot humanoid yang wujud dan fleksibilitas gerakannya menyerupai manusia. 

Sebelum diaplikasikan pada makhluk hidup, tim peneliti menguji kemampuan motorik halus robot terlebih dahulu dengan memintanya menggenggam benda mati dan mengontrol alat bedah standar dalam simulasi meja. 

Seluruh pergerakan robot ini tetap dikendalikan penuh oleh dokter spesialis bedah melalui konsol pengendali.

Pasca uji coba awal dinilai sukses, robot kemudian dikerahkan untuk melakukan dua tindakan pengangkatan kantung empedu pada babi yang sudah dibius total. Seorang dokter bedah bertugas mengontrol robot dari konsol, sedangkan dokter lainnya mendampingi secara langsung di dekat meja operasi. 

Pada salah satu tindakan, tim bahkan menurunkan robot humanoid kedua untuk membantu proses pembedahan. Kedua operasi tersebut berhasil dituntaskan dengan baik, dan pendarahan kecil yang sempat terjadi bisa segera diatasi.

Dokter bedah dari UCSD, Shanglei Liu, mengungkapkan bahwa momen mengendalikan robot humanoid ini mengingatkannya pada fase awal kemunculan teknologi robotik medis modern.

"Pengalaman melakukan operasi menggunakan robot humanoid memiliki perasaan yang sama seperti pada masa-masa awal operasi robotik modern dengan beberapa keterbatasan yang serupa, termasuk tabrakan instrumen, penundaan sinyal, dan kebutuhan untuk reposisi terus-menerus," kata Liu, Rabu (22/7/2026).

Menurut penjelasan Liu, proses perancangan sistem ini terhitung cepat lantaran hanya memakan waktu sembilan bulan dari masa perencanaan hingga eksekusi operasi pada hewan. 

Oleh sebab itu, ia memproyeksikan bahwa lini masa untuk mematangkan teknik ini ke depannya bakal berjalan jauh lebih instan. 

Di sisi lain, Ryan Broderick selaku dokter bedah lain yang ikut mengontrol robot, tidak menampik adanya rasa cemas saat teknologi anyar ini pertama kali diuji coba.

Meski begitu, Ryan menilai mekanisme pengoperasian robot humanoid ini tidak memiliki perbedaan yang masif jika disandingkan dengan sistem robot bedah komersial yang beredar saat ini.

“Robot humanoid terasa sangat mirip dengan pengoperasian robot yang tersedia secara komersial. Ada beberapa latensi dan kalibrasi ulang yang diperlukan selama kasus tersebut, tetapi ini diharapkan dari model bukti konsep,” tutur Broderick.

Liu dan Broderick berpendapat bahwa kehadiran robot humanoid mampu mendongkrak tingkat akurasi pembedahan sekaligus meminimalkan keletihan fisik yang dialami dokter bedah. 

Ditambah lagi, jenis robot ini tidak memakan banyak tempat dan lebih praktis dimobilisasi ketimbang sistem robot bedah konvensional.

Kelebihan tersebut dinilai membuka kesempatan besar untuk memanfaatkan robot humanoid di kawasan terpencil, area berbahaya, wilayah yang kekurangan tenaga kesehatan, hingga menunjang misi di luar angkasa. 

Walau demikian, riset ini masih berada dalam taraf studi kelayakan. Evaluasi dan pengembangan lebih lanjut tetap krusial dilakukan demi membereskan kendala jeda sinyal, gesekan instrumen, serta kebutuhan kalibrasi sebelum nantinya siap diuji coba pada manusia.

Terkini