Pasar Minuman Kemasan Indonesia Diproyeksi Tumbuh Positif di 2026

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:58:31 WIB
PT SIG Combibloc Indonesia (SIG). (Foto: NET)

JAKARTA – PT SIG Combibloc Indonesia (SIG) memproyeksikan industri minuman kemasan di tanah air masih mempunyai prospek pertumbuhan yang cerah sampai akhir tahun 2026. 

Peluang tersebut dipicu oleh luasnya pasar domestik, tingginya jumlah penduduk berusia muda, serta inovasi produk yang terus dilakukan oleh para produsen makanan dan minuman.

Noer Wellington selaku Director Commercial Southeast Asia, Japan & Korea SIG mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan perkembangan bisnis paling menjanjikan bagi SIG jika disandingkan dengan pasar lain di kawasan tersebut. 

Ia menambahkan, capaian positif ini terlihat jelas dari performa korporasi selama semester I-2026 yang terus memperlihatkan tren kenaikan.

“First half actually it’s good. Dibandingkan dengan negara lain Indonesia cukup bagus pertumbuhannya,” ujar Noer dalam media roundtable, Selasa (21/7/2026).

Noer memaparkan bahwa Indonesia masih mempunyai ruang ekspansi yang luas lantaran tingkat konsumsi produk minuman kemasan, terutama susu, tergolong masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. 

Menurut datanya, tingkat konsumsi susu penduduk Indonesia baru berkisar 11–12 liter per kapita per tahun, sedangkan Thailand sudah menyentuh angka 20 liter dan India berkisar di angka 50 liter. Situasi ini dinilai merefleksikan peluang pasar domestik yang masih terbuka sangat lebar.

Di samping itu, Indonesia ditopang oleh jumlah populasi usia muda yang besar, sehingga permintaan terhadap produk makanan serta minuman yang praktis diprediksi akan terus mengalami kenaikan.

“Karena size dan juga populasi. Populasi kami masih muda,” kata Noer.

Ia berpendapat bahwa kemajuan industri ini tidak cuma disokong oleh kenaikan konsumsi masyarakat, melainkan juga berkat inovasi produk yang konsisten digulirkan oleh produsen. 

Apabila dahulu inovasi lebih condong pada penambahan variasi rasa, saat ini perusahaan-perusahaan mulai menyuguhkan pengalaman konsumsi yang berbeda lewat penciptaan produk-produk baru.

Noer melanjutkan, SIG turut andil dalam menyokong inovasi itu melalui penyediaan solusi teknologi pengemasan yang memfasilitasi produsen untuk merilis kategori minuman baru tanpa perlu menggelontorkan investasi besar guna memperbarui mesin produksi mereka. 

Dirinya juga mencermati adanya pergeseran perilaku konsumen yang kini kian menitikberatkan pada faktor keterjangkauan harga (affordability), aspek kepraktisan (convenience), serta mutu dari produk tersebut.

“Trend-nya juga affordability dan juga convenience masih kuat di Indonesia,” ujarnya.

Bagi Noer, perpaduan antara luasnya pasar domestik, pertambahan penduduk usia muda, serta tingginya kebutuhan akan produk yang praktis, menjadi deretan faktor utama yang menjadikan Indonesia tetap memegang posisi sebagai pasar strategis bagi SIG hingga penghujung tahun ini.

Terkini