Sistem Tradisional Hambat Produksi Sapi Potong Dalam Negeri

Senin, 20 Juli 2026 | 03:54:31 WIB
ILustrasi - Sejumlah sapi yang dijual di Pasar Hewan. (Foto: NET)

JAKARTA - Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) berpendapat bahwa hasil produksi sapi potong domestik sampai paruh pertama tahun 2026 masih belum cukup untuk mencukupi kebutuhan domestik.

Sekarang ini, pasokan dari para peternak domestik diproyeksikan baru bisa mencukupi kisaran 30% hingga 40% dari total kebutuhan daging di dalam negeri, sehingga kekurangannya masih bersandar pada pasokan impor. 

Sekjen PPSKI Robi Agustiar menyatakan, salah satu pemicu minimnya andil dari produksi domestik ialah metode peternakan sapi yang sejauh ini masih tradisional dan belum berorientasi industri.

"Like kita ketahui bahwa kebutuhan produksi daging nasional hanya mampu di penuhi oleh produksi lokal sebesar 30-40% saja, kekurangannya adalah bahwa sistem produksi sapi lokal kami masih bersifat tradisional dan belum mengarah ke Industri. Peternak sapi lokal lebih banyak menjual untuk kebutuhan qurban atau kontes ternak yang sedang marak di lapangan," ujar Robi, pekan lalu.

Mengenai realisasi impor daging sapi serta sapi bakalan sampai paruh pertama tahun 2026, Robi menyatakan bahwa prosesnya sangat berimbas dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Di samping itu, besarnya angka impor juga berdampak pada nilai jual sapi hidup di kalangan peternak. Dia menilai, pasokan daging harian di wilayah Jawa dan Sumatera umumnya dicukupi oleh sapi impor, sehingga nilai jual sapi domestik mengekor dinamika harga impor tersebut.

"Tentunya berdampak, hanya karena di daerah Jawa dan Sumatera, hampir seluruh kebutuhan harian daging di isi oleh sapi impor, maka harga sapi lokal yang di jual akan mengikuti harga sapi import di pasaran dan selalu di atas harga sapi import," ungkapnya.

Dari aspek budidaya, PPSKI menganggap peternak masih menemui beberapa kendala. Salah satunya yaitu minimnya jumlah bibit sapi yang ketersediaannya masih bersandar pada peternakan rakyat dalam skala kecil dengan kepemilikan hanya 3-5 ekor sapi saja.

Bukan cuma itu, persoalan penyakit mulut dan kuku pun tetap menjadi ancaman bagi bisnis sapi domestik, ditambah lagi dengan merebaknya LSD serta sejumlah penyakit ternak lainnya.

Melangkah ke paruh kedua tahun 2026, PPSKI belum melihat adanya potensi kenaikan pada sektor produksi sapi domestik. Berdasarkan penuturan Robi, jumlah populasi sapi di tanah air bahkan terus merosot selama beberapa tahun belakangan.

"Sejak 2022 hingga saat ini populasi sapi lokal terus menurun, karena beberapa faktor, penyakit serta penjualan qurban yang turun setiap tahun," pungkasnya.

Terkini