JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati bahwa sektor perbankan di Provinsi Bali terus menggenjot penyaluran pembiayaan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Langkah ini dilakukan sebagai upaya konkret dalam menyokong roda perekonomian serta kinerja pembangunan di daerah tersebut.
"Sebesar 51,26 persen penyaluran kredit hingga April 2026 di Bali disalurkan kepada debitur UMKM," kata Kepala OJK Bali Parjiman di Denpasar, Bali, Senin (6/7/2026).
Parjiman memaparkan bahwa total pembiayaan yang dikucurkan oleh bank umum serta bank perekonomian rakyat (BPR) di Bali sepanjang Januari hingga April 2026 menyentuh angka Rp147,64 triliun.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 9,14 persen bila disandingkan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp135,28 triliun.
Lebih dari separuh total realisasi pinjaman tersebut dialokasikan untuk sektor UMKM, dengan persentase pertumbuhan sebesar 5,23 persen secara tahunan. Distribusi modal usaha ini didominasi oleh kelompok usaha mikro yang menyerap porsi sebesar 41,84 persen, diikuti oleh segmen usaha kecil sebesar 37,99 persen.
Berdasarkan klasifikasi penggunaannya, ekspansi kredit yang terjadi disokong kuat oleh sektor investasi yang mengalami kenaikan sebesar Rp6,11 triliun.
Parjiman berpendapat bahwa tren positif pada aspek investasi ini memperlihatkan andil besar perbankan dalam membiayai perluasan jangkauan bisnis, yang pada akhirnya bermuara pada penguatan ekonomi jangka panjang di Pulau Dewata.
Di samping itu, jika ditinjau dari lonjakan nominalnya, sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman menjadi kontributor pertumbuhan paling besar dengan tambahan mencapai Rp2,10 triliun.
"Pertumbuhan yang signifikan tersebut mencerminkan sektor pariwisata Bali yang terus menguat dan mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan," katanya.
Di lain pihak, aktivitas penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 6,64 persen, atau naik menjadi Rp207,54 triliun dari posisi Rp194,63 triliun pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya.
Aspek kesehatan keuangan perbankan di Bali pun dinilai aman. Hal ini tecermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang berada di level 2,60 persen.
Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode serupa tahun lalu yang sempat menyentuh 3,21 persen.
Kendati demikian, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) terpantau masih berjalan di tempat tanpa pergerakan yang berarti, yakni di angka 58,30 persen dari yang sebelumnya 58,43 persen pada April 2025.
Tingkat LDR per April 2026 ini tercatat masih berada di bawah target ideal yang dipersyaratkan oleh regulasi, yaitu pada kisaran 78 persen sampai 92 persen.