KTT COP31 Digelar di Antalya Turki, 9-20 November 2026

Jumat, 02 Januari 2026 | 15:55:16 WIB
KTT COP31 Digelar di Antalya Turki, 9-20 November 2026

JAKARTA - Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP31 resmi dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 20 November 2026 di Antalya, Turki. 

Pengumuman ini disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turki, menegaskan negara tersebut akan menjadi pusat diplomasi iklim global pada akhir tahun 2026.

KTT iklim tingkat tinggi ini semula dijadwalkan di Australia. Namun, Australia menyerahkan hak penyelenggaraan kepada Turki dan menarik diri dari posisi ketua bersama, sehingga Antalya ditunjuk sebagai lokasi resmi konferensi. “COP31 akan diadakan di Antalya mulai 9 - 20 November 2026. Turki akan menjadi pusat diplomasi iklim,” kata kementerian tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turki, Murat Kurum, ditunjuk sebagai presiden konferensi. Penunjukan ini menegaskan peran aktif Turki dalam mengoordinasikan diskusi dan negosiasi global terkait perubahan iklim, sekaligus menjadi tuan rumah yang memastikan kelancaran jalannya KTT.

Latar Belakang Perubahan Tuan Rumah

Keputusan Australia menarik diri dari penyelenggaraan COP31 dipicu oleh sejumlah perselisihan yang berlangsung lama antara Turki dan Australia terkait hak tuan rumah. Dengan penyerahan hak ini, Turki mengambil alih tanggung jawab besar untuk menyelenggarakan konferensi yang akan dihadiri oleh perwakilan negara-negara anggota PBB serta organisasi internasional terkait iklim.

Selain itu, Jerman, sebagai negara tempat kantor iklim PBB berada, memiliki kewajiban untuk mendukung penyelenggaraan konferensi apabila terjadi hambatan. Dalam kondisi normal, Jerman dapat menyelenggarakan KTT di Bonn jika diperlukan. Hal ini memastikan bahwa mekanisme kontinuitas konferensi COP tetap terjaga, meski terjadi perubahan tuan rumah.

Peran Strategis Turki dalam Diplomasi Iklim

Sebagai tuan rumah COP31, Turki memiliki peran strategis dalam mendorong diskusi global mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Negara ini diharapkan menjadi mediator dalam pembahasan kebijakan emisi, pendanaan perubahan iklim, serta kolaborasi internasional untuk pencapaian target net zero di masa depan.

Murat Kurum sebagai presiden konferensi akan memimpin berbagai sesi pembahasan, termasuk negosiasi antarnegara, forum teknis, dan pertemuan bilateral yang bertujuan memperkuat aksi kolektif menghadapi krisis iklim. Kepemimpinan Turki diharapkan dapat menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif bagi negara-negara berkembang sekaligus memperkuat komitmen negara maju dalam pendanaan perubahan iklim.

Agenda dan Fokus COP31

Walaupun agenda resmi COP31 masih akan dirinci lebih lanjut, konferensi ini diperkirakan akan membahas sejumlah isu krusial, termasuk:

Penguatan kebijakan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Strategi adaptasi untuk menghadapi dampak perubahan iklim, seperti bencana alam dan kenaikan permukaan laut.

Pendanaan iklim global untuk negara-negara berkembang.

Inovasi teknologi hijau dan energi terbarukan.

Peningkatan kolaborasi multilateral dalam implementasi kesepakatan Paris Agreement.

Dengan fokus yang luas ini, COP31 diharapkan menjadi ajang penting bagi semua pihak untuk menyusun strategi kolektif menghadapi krisis iklim global.

Tantangan dan Harapan

Penyelenggaraan COP31 menghadapi tantangan logistik dan diplomasi, mengingat kehadiran ribuan delegasi dari berbagai negara. Namun, Turki menunjukkan kesiapan dalam memfasilitasi jalannya konferensi, mulai dari penyediaan fasilitas pertemuan, akomodasi, hingga protokol keamanan.

Harapan dari penyelenggaraan COP31 adalah tercapainya konsensus global yang lebih konkret mengenai aksi perubahan iklim. Konferensi ini juga diharapkan memperkuat komitmen negara-negara terhadap target emisi, sekaligus mendorong inovasi dan kolaborasi dalam mitigasi dampak iklim di sektor energi, transportasi, dan pertanian.

COP31 yang digelar di Antalya, Turki, pada 9 hingga 20 November 2026 menjadi tonggak penting dalam diplomasi iklim internasional. Dengan Turki sebagai tuan rumah dan Murat Kurum sebagai presiden konferensi, agenda utama meliputi pengurangan emisi, adaptasi perubahan iklim, pendanaan, dan kolaborasi global. 

Peralihan tuan rumah dari Australia ke Turki menunjukkan fleksibilitas sistem PBB dalam menghadapi dinamika diplomasi, sambil memastikan kelangsungan konferensi sebagai platform utama aksi iklim dunia.

Terkini