Penyebab dan Solusi Anak Sering Menahan BAB Saat Toilet Training

Jumat, 11 September 2026 | 02:57:02 WIB
Ilustrasi toilet training [FOTO: NET].

JAKARTA - Upaya melatih kemandirian buah hati agar terbiasa buang air di kamar mandi atau dikenal sebagai toilet training kerap kali mendatangkan pelbagai rintangan, baik dari sisi klinis maupun psikologis. 

Salah satu problem yang paling sering diadukan oleh para orang tua pada fase ini adalah kebiasaan anak yang dengan sengaja menahan aktivitas buang air besar (BAB).

Situasi semacam ini tentu patut dicermati secara saksama, mengingat kebiasaan memendam kotoran di dalam organ usus membawa pengaruh buruk terhadap kelancaran fungsi sistem pencernaan sang anak.

"Kalau ditahan terus, sembelit ya," kata spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kebiasaan anak menahan BAB saat toilet training

Struktur organ pencernaan memungkinkan kotoran ditahan

Tubuh manusia ternyata dibekali sistem mekanisme kerja yang jauh berbeda tatkala merespons penumpukan volume cairan di saluran pembuangan kemih dan organ pencernaan.

Secara biologis, seorang anak tidak mempunyai kapasitas fisiologis untuk menahan air seni hingga hitungan hari lamanya karena struktur anatomi kandung kemih terbilang sangat kaku dan terbatas ruang volumenya.

"Enggak ada orang nahan pipis lalu dia enggak bisa pipis seminggu. Kenapa? Karena kandung kemih kan terbatas," jelas dr. Andy.

Kondisi anatomi tersebut justru berbanding terbalik dengan struktur saluran pembuangan akhir pada sistem pencernaan manusia. Dinding usus besar dirancang memiliki tingkat kelenturan yang tinggi sehingga memungkinkannya mengembang, melebar, serta memanjang demi menampung volume kotoran yang terus bertambah setiap harinya.

"Bisa membesar, bisa melebar, bisa memanjang. Jadi bisa saja anak itu menahan (buang air besar)," sebut dr. Andy.

Siklus sembelit, BAB keras bikin anak trauma dan kembali menahan

Manakala seorang anak menolak panggilan alam untuk pergi ke kamar mandi, sinyal saraf berupa sensasi mulas secara perlahan akan mereda hingga akhirnya lenyap sepenuhnya. Tumpukan feses yang terlanjur ditahan tersebut akan menetap lebih lama di dalam usus besar dan mengalami proses penyerapan kadar cairan secara berulang oleh organ pencernaan.

"Semakin lama (kotoran) semakin kering, dan semakin keras," papar dr. Andy.

Perubahan konsistensi feses yang menjadi kering dan mengeras ini lambat laun bakal melukai lapisan jaringan mukosa usus, serta memicu timbulnya rasa nyeri hebat tatkala sang anak pada akhirnya terpaksa harus membuang air besar.

Pengalaman menyakitkan yang terekam kuat di dalam memori anak inilah yang secara otomatis mendorong mereka untuk kembali mengulangi kebiasaan menahan kotorannya pada keesokan hari.

"BAB keras menyebabkan nyeri. Nyeri menyebabkan menahan. Menahan menyebabkan bertambah keras. Jadi muter saja," ujar dr. Andy.

Masalah kepercayaan di balik keengganan anak ke toilet

Keengganan anak untuk melangkahkan kaki menuju toilet meski sudah diberikan resep obat pelunak feses ternyata berakar dari persoalan krisis kepercayaan (trust issue) terhadap orang tua. Sikap keraguan psikologis ini umumnya bermula dari kebohongan-kebohongan skala kecil yang sempat diucapkan oleh ayah atau ibu terkait tindakan medis di masa lampau demi menenangkan sang buah hati.

Tanpa disadari, para orang tua sering kali mengeklaim bahwa suatu jenis obat tidak terasa pahit, atau tindakan prosedur suntikan medis sama sekali tidak menyisakan rasa sakit.

"Kadang-kadang anak itu jadi trust issue. Jadi, salah satu cara untuk toilet training adalah kami harus menghilangkan trust issue," ungkap dr. Andy.

Anak yang telanjur kehilangan rasa percaya akan menganggap instruksi orang tua untuk masuk ke dalam toilet sebagai klaim palsu belaka yang pada akhirnya bakal berujung pada deraan rasa nyeri yang luar biasa.

"Pada saat kami lembekkan (menggunakan obat), kami sudah yakin bahwa sebetulnya tuh (buang air besar) enggak sakit. Tapi dia masih nahan kadang-kadang (karena trust issue)," ucap dr. Andy.

Komunikasi transparan: Kunci memutus siklus sembelit

Upaya memulihkan pola BAB normal selepas menjalani konsultasi medis wajib disandingkan bersama pola komunikasi yang transparan antara orang tua dan anak. Ayah dan ibu memikul tanggung jawab penuh untuk memvalidasi rasa aman pada diri anak seiring mulai bekerjanya efek obat pencahar di dalam tubuh.

Para orang tua diwajibkan mengawal kelancaran proses tersebut dengan cara melontarkan pertanyaan secara langsung tatkala aktivitas buang air besar telah usai, sehingga anak menyadari bahwa momen pembuangan tersebut dapat dilalui tanpa rasa sakit sedikit pun.

Menurut pandangan dr. Andy, pemberian afirmasi verbal yang jujur memegang peranan krusial guna menyudahi rangkaian masalah sembelit, sekaligus memberantas kebiasaan buruk anak menahan BAB.

"Tugas kami afirmasi. 'Tadi sakit enggak?', 'Enggak', 'Berarti besok jangan ditahan ya'. Begituitu," terang dr. Andy.

Terkini