Mitigasi Karhutla, BNPB Pertimbangkan Teknologi Sambonesia

Jumat, 11 September 2026 | 18:26:32 WIB
Penggunaan alat Sambonesia untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan di area gambut [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melirik teknologi pembasahan gambut sebagai opsi memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), utamanya menyongsong potensi El Nino pada 2027 mendatang.

Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB Brigjen Pol (Purn) Ary Laksmana Widjaja mengutarakan teknologi Sambonesia, yaitu perangkat penanganan kebakaran gambut yang dikembangkan tim penanggulangan karhutla APP Group, mengantongi peluang untuk diadaptasi serta diterapkan di daerah lain.

Menurut pandangannya, sistem tersebut tak sekadar memadamkan api di permukaan, melainkan sanggup menginjeksikan air menuju lapisan bawah gambut yang berpotensi masih menyimpan bara api.

“Penanganan menggunakan Sambonesia sudah sangat bagus. Kami coba adopsi untuk diterapkan di tempat lain. Sambonesia bagus untuk lahan terbakar karena selain menyemprotkan air ke permukaan, terdapat injeksi yang masuk ke gambut sehingga lapisan bawahnya ikut dibasahi,” ujar Ary di Palembang, dikutip Jumat (11/9/2026).

Ary menerangkan bahwa teknologi pembasahan gambut juga bisa diposisikan sebagai bagian dari skema mitigasi sebelum kebakaran meluas. Pada area rawan terbakar, merawat kelembapan gambut dinilai krusial guna menekan risiko api menjalar di bawah permukaan.

Ia menganggap pengalaman penanganan karhutla sepanjang 2026 wajib dijadikan bahan evaluasi demi memperkuat kesiapsiagaan menghadapi tahun berikutnya. Terlebih, BNPB memproyeksikan tantangan bakal makin berat saat fenomena El Nino kembali menerjang.

“Sekarang saatnya kami belajar untuk mitigasi kebencanaan, terutama karhutla. Pertarungannya ada di tahun 2027 saat El Nino tiba, jadi persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Bagaimana mencegah dan memadamkan api, apalagi kami sudah mendapatkan komplain dari mancanegara,” katanya.

Ary membeberkan bahwa terdapat enam provinsi yang menjadi fokus perhatian dalam pengendalian karhutla, mencakup Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Menurutnya, strategi penanggulangan tidak bisa hanya bertumpu pada aksi pemadaman kala api sudah berkobar. Upaya pencegahan, deteksi dini, tanggap darurat hingga penanganan pascabencana wajib dikerjakan secara terpadu.

“Alhamdulillah, di lapangan saya melihat komponen Pentahelix sudah ada. Perusahaan menunjukkan effort untuk ikut membantu melakukan pencegahan dan pemadaman,” ujarnya.

Hal tersebut diutarakan Ary selepas memantau sejumlah titik rawan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada 29 Agustus 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menyaksikan penanganan karhutla yang menyinergikan pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, masyarakat, serta dunia usaha. Sejumlah area yang menyedot perhatian antara lain Cengal, Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, dan Air Sugihan.

Ary turut menggarisbawahi pentingnya peran perusahaan dalam mengantisipasi potensi kebakaran di luar area konsesi yang berbatasan langsung dengan kawasan perusahaan. Menurut pandangannya, kebakaran di luar konsesi tetap berisiko mengancam tanaman industri bilamana api merembet.

“Di Kabupaten OKI, saya tidak melihat adanya upaya APP melakukan pembakaran hutan, namun sebaliknya saya menemukan adanya keseriusan APP Group dalam ikut menanggulangi permasalahan karhutla. Karena perusahaan tentunya akan menderita kerugian yang cukup besar jika terjadi kebakaran lahan di wilayah konsesinya. Dan juga ada kekhawatiran jika terjadi kebakaran di lahan luar yang berbatasan dengan wilayah konsesi, karena bisa menjadi asal api yang membakar tanaman industri yang ada di konsesi, seperti yang diduga selama ini," pungkasnya.

Terkini