Ini Indikasi Medis dan Kondisi Kedaruratan Ibu Hamil Harus Caesar

Kamis, 10 September 2026 | 01:18:02 WIB
Ilustrasi melahirkan secara caesar [FOTO: NET].

JAKARTA — Prosedur bedah caesar atau caesarean section merupakan langkah medis yang dirancang demi mengatasi komplikasi persalinan. Di tengah maraknya tren permintaan operasi akibat alasan non-medis, tindakan insisi area perut ini tetap membutuhkan indikasi klinis yang jelas demi menjamin keselamatan ibu serta bayi.

Keputusan mengarahkan ibu hamil ke meja pembedahan umumnya berpijak pada keberadaan hambatan medis yang mengancam kelancaran proses persalinan alami.

Spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFM., membeberkan bahwa faktor penentu mencakup kondisi kesehatan ibu, janin, serta dinamika jalannya persalinan.

Indikator Penentu Operasi Caesar pada Ibu Hamil

Langkah dokter untuk memilih tindakan pembedahan selalu berpatokan pada situasi kedaruratan tertentu. Prosedur bedah caesar diambil saat upaya melahirkan secara normal justru mendatangkan risiko fatal bagi keselamatan keduanya.

"Manfaatnya, ini sebagai life saving. Misalnya pada pasien yang dia tidak bisa lahir normal, dia tidak boleh mengejan, tindakan Sectio ini adalah life saving untuk dia dan bayinya," ucap dr. Febriansyah dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kondisi Kesehatan Fisik Ibu

Kendala persalinan dari sisi ibu dapat bersumber dari gangguan organ bawaan di luar kehamilan maupun komplikasi obstetri saat mengandung. Ibu hamil yang mengidap kelainan organ penyerta berderajat keparahan tinggi amat dihindarkan dari tekanan fisik berlebih sewaktu melahirkan.

"Misalnya, yang tidak berhubungan itu ibu dengan kelainan jantung berat, ibu dengan gagal ginjal berat, itu mau tidak mau proses mengejan akan susah dilakukan, akhirnya di-caesar," tutur dr. Febriansyah.

Di samping kelainan organ, penyulit persalinan secara langsung turut memaksa tim medis mengambil tindakan bedah. Ibu dengan komplikasi kehamilan layaknya gestational hypertension, preeklamsia berat, hingga eklamsia, memerlukan proses persalinan yang diakselerasi guna melindungi organ vital tubuhnya.

"Tapi kalau yang berdasarkan ibu karena faktor kehamilannya, misalnya pada kasus-kasus preeklamsi, atau ketuban pecah yang sudah ada tanda-tanda infeksi," jelas dr. Febriansyah.

Risiko senada ikut melambung pada kelompok ibu hamil berusia di atas 35 tahun atau di bawah 20 tahun akibat kerentanan fisiologis reproduksinya.

Kesesuaian Posisi dan Kapasitas Panggul

Operasi caesar juga menimbang posisi serta kondisi fisik bayi di dalam kandungan. Indikasi darurat diterapkan jika terdeteksi kondisi gawat janin (fetal distress). Posisi janin yang menyimpang turut menjadi penyulit persalinan per vaginam.

"Nah kalau indikasi janin, tentunya misalnya posisi. Janinnya posisi lintang, jadi tidak mungkin untuk lahir normal," kata dr. Febriansyah.

Di luar masalah posisi tubuh, ukuran anatomi fisik janin ikut memegang peranan atas keberhasilan persalinan. Bayi dengan ukuran sangat besar (makrosomia) memicu tantangan serius lantaran berisiko tersangkut di panggul, sebuah komplikasi yang dikenal sebagai distosia bahu.

"Atau bayinya sangat besar, sehingga menurut prediksi dokternya tidak bisa dilahirkan normal," ungkap dr. Febriansyah.

Dokter turut mengevaluasi kelayakan anatomi tubuh sang ibu. Lingkar panggul yang sempit (cephalopelvic disproportion) dipastikan bakal menghambat laju kepala janin meluncur keluar.

"Jadi balik lagi. Persalinan normal itu adalah kesesuaian antara janin dan jalan lahirnya," sebut dr. Febriansyah.

Hambatan Durasi dan Bekas Luka

Faktor klinis berikutnya adalah evaluasi laju durasi pembukaan rahim. Meskipun ibu hamil tidak mengantongi riwayat penyakit, proses persalinan terkadang berhenti berkembang di fase aktif. Kemandekan fase persalinan ini rentan dialami oleh wanita yang baru pertama kali melahirkan atau primipara.

"Yang terakhir berdasarkan indikasi waktu. Dia misalnya proses persalinannya sudah melewati grafik persalinan normal. Itu biasanya dilakukan tindakan caesar," terang dr. Febriansyah.

Riwayat persalinan bedah sebelumnya juga meninggalkan jaringan parut di rahim yang mengubah manajemen kehamilan. Luka bekas pembedahan menjadi pertimbangan medis yang amat diwaspadai supaya dinding rahim tidak robek saat memaksakan kontraksi mengejan.

"Indikasi BPJS terbanyak adalah SC atas indikasi bekas caesar. Padahal sebenarnya bekas caesar tidak harus SC," ujar dr. Febriansyah.

Pasien tersebut sejatinya dapat merencanakan Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) selama posisi plasenta bebas dari perlekatan organ dan kondisi fisiknya memadai untuk melahirkan secara normal.

Terkini