Kerahkan Personel, INALUM Perkuat Penanganan Karhutla Kalimantan

Senin, 07 September 2026 | 03:34:02 WIB
Upaya penanganan karhutla oleh PT INALUM dan Grup MIND ID [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM meningkatkan keseriusan penanganan insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, lewat pengerahan dukungan tenaga personel serta fasilitas pendukung bersama jajaran Grup MIND ID.

Direktur Utama INALUM Melati Sarnita menekankan bahwa keterlibatan aktif korporasi dalam misi penanggulangan karhutla ini merepresentasikan wujud nyata tanggung jawab sosial serta lingkungan perusahaan, sekaligus manifestasi kepedulian mendalam terhadap warga di sekitar wilayah operasional.

“Bagi INALUM, keberadaan perusahaan harus memberikan manfaat dan rasa aman bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, ketika terdapat situasi darurat seperti karhutla, kami berupaya bergerak bersama seluruh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk membantu penanganannya. Kolaborasi menjadi kunci agar respons di lapangan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif,” ujar Melati dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Sebanyak 60 personel relawan pemadam kebakaran yang telah mengantongi sertifikasi resmi dari Grup MIND ID dikerahkan langsung guna membantu upaya melokalisasi titik-titik api di sekitar kawasan operasional PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Sebagai catatan, BAI merupakan entitas anak usaha gabungan antara INALUM dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang mengelola fasilitas pengolahan smelter grade alumina refinery (SGAR) beserta berbagai sarana penunjangnya di daerah tersebut.

Terhitung sejak 24 Agustus 2026, pihak INALUM dan BAI bersinergi erat bersama unsur pemerintah daerah setempat, BNPB/BPBD, jajaran TNI-Polri, dinas pemadam kebakaran, para relawan, serta warga masyarakat guna berjibaku memadamkan kemunculan berbagai titik api.

Rangkaian aksi pemadaman tersebut terus diintensifkan mengingat sebagian besar wilayah yang terdampak merupakan kawasan lahan gambut yang mempunyai karakteristik geografis khusus.

Pada topografi lahan gambut, jilatan api memiliki potensi tersembunyi untuk menjalar serta bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga menuntut adanya metode pemantauan, penyisiran intensif, serta proses pendinginan secara berkesinambungan demi memastikan bara api benar-benar padam seutuhnya.

Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) Maroef Sjamsoeddin turun tangan langsung mengoordinasikan pengerahan 60 personel pemadam kebakaran bersertifikat dari Grup MIND ID pada hari Jumat (4/9).

Keseluruhan personel yang diturunkan tersebut merupakan tim gabungan yang berasal dari INALUM, ANTAM, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, PT Freeport Indonesia, hingga PT Vale Indonesia Tbk.

Maroef mengutarakan bahwa misi kemanusiaan dalam menangani bencana menuntut tingginya kepedulian serta kolaborasi lintas sektoral. Kehadiran kontribusi dari Grup MIND ID ini difokuskan untuk meringankan beban masyarakat sekaligus memperkuat efektivitas penanggulangan karhutla yang mendatangkan dampak buruk bagi kelestarian lingkungan dan kelangsungan aktivitas sosial warga.

“Langkah ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan dan masyarakat. Kehadiran relawan Grup MIND ID ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mempercepat pengendalian titik api sekaligus membantu mengurangi risiko kesehatan dan gangguan terhadap aktivitas yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.

Di samping pengerahan sumber daya manusia berupa personel terlatih, penguatan operasi pemadaman karhutla turut didukung lewat penyediaan logistik perlengkapan pemadaman, alat pelindung keselamatan kerja, serta fasilitas posko medis bagi relawan maupun warga yang terdampak langsung.

Bantuan penunjang tersebut turut mencakup penyediaan fasilitas kesehatan darurat, alat pelindung diri lengkap, hingga tambahan satu unit armada mobil pemadam kebakaran dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

Sementara itu, Direktur Utama BAI Darwin Saleh Siregar menjelaskan bahwa proses penanggulangan karhutla di Mempawah bukanlah perkara mudah lantaran sebagian besar titik api berada di kedalaman lahan gambut.

“Api pada lahan gambut dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah telah padam. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang, ketersediaan sumber air yang memadai, serta penyisiran dan pendinginan berulang untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul,” ujar Darwin.

Terkini