Erupsi Gunung Anak Krakatau: Pemerintah Prioritaskan Keselamatan

Senin, 07 September 2026 | 03:28:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: NET)

JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan bahwa keselamatan dunia penerbangan menempati posisi paling krusial bagi pemerintah menyusul letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik hingga kawasan Jabodetabek.

Ia menyampaikan, pihak pemerintah senantiasa menjalankan komunikasi serta koordinasi mendalam bersama Menteri Perhubungan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beserta pelbagai pihak berkepentingan guna memantau perkembangan situasi abu vulkanik serta pengaruhnya terhadap sektor penerbangan.

“Saya berkomunikasi secara intensif dengan Menteri Perhubungan, dengan Kepala BMKG, kemudian tentunya berbagai stakeholders lain yang terkait dengan situasi terkini. Kami mengetahui erupsi Anak Gunung Krakatau telah mengakibatkan debu atau abu vulkanik yang menyebar sampai dengan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” ujar AHY dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Berdasarkan pandangannya, material abu vulkanik mempunyai daya ancam terhadap keselamatan penerbangan, sehingga setiap maskapai penerbangan serta otoritas pengelola bandara diwajibkan mengikuti aturan operasional dan protokol keselamatan secara ketat.

“Maskapai tentunya harus benar-benar menaati SOP (Standard Operating Procedure), protap (prosedur tetap) yang menjunjung tinggi faktor keselamatan, safety first. Itu adalah prinsip yang tidak boleh ditawar. Begitu pula pengelola bandara,” katanya.

AHY menerangkan, kebijakan penutupan sementara di sejumlah bandar udara diambil mengacu pada informasi resmi penerbangan lewat Notice to Airmen (NOTAM) dari AirNav Indonesia, ditambah hasil uji kertas (paper test) dari BMKG untuk mendeteksi keberadaan debu vulkanik.

Merujuk pada data mutakhir, pemerintah memutuskan untuk menghentikan sementara operasional beberapa bandara yang terkena paparan abu vulkanik. 

Catatan Kementerian Perhubungan menunjukkan delapan bandara terdampak, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, serta Atung Bungsu.

“Berdasarkan NOTAM, Notice to Airmen atau Notice to Air Mission, yang dikirim atau diproduksi oleh AirNav Indonesia. Kemudian disandingkan dengan paper test yang dilakukan BMKG, menunjukkan abu vulkanik itu sudah menyebar dari wilayah atau kawasan Anak Gunung Krakatau ke arah timur laut, tentunya sampai dengan wilayah Jabodetabek. Itu mengapa per hari ini ada sejumlah bandara utama harus ditutup,” ujar AHY.

Dia menambahkan, pergerakan sebaran abu vulkanik terus diawasi secara seksama melalui pengujian berkala. Evaluasi tersebut dijalankan setiap jangka waktu empat jam guna memutuskan kelayakan operasional penerbangan untuk dibuka kembali.

“Dilakukan paper test itu setiap empat jam untuk memastikan apakah sudah berkurang dan apakah memungkinkan untuk dibuka kembali bandara-bandara yang sementara ditutup tadi,” katanya.

Lebih lanjut, AHY menegaskan bahwa pihak pemerintah sama sekali tidak akan mengambil langkah spekulatif dengan mengizinkan penerbangan beroperasi manakala hasil pemantauan menunjukkan adanya ancaman nyata bagi keamanan penerbangan.

Kendala akibat penghentian sementara operasional bandara ini membawa pengaruh besar terhadap mobilitas publik. 

Laporan mutakhir Kementerian Perhubungan memperlihatkan ada sekitar 467 penerbangan yang mengalami gangguan, mencakup 409 rute domestik serta 58 rute internasional, dengan perkiraan jumlah penumpang terdampak mencapai 150 ribu orang.

AHY memastikan jajaran pemerintah bakal terus memantau dinamika situasi secara berkelanjutan dengan menitikberatkan aspek keselamatan, di samping menjamin masyarakat mendapatkan akses informasi yang transparan dan tepat terkait situasi dunia penerbangan.

Terkini