Bukan Sekadar Polesan Kosmetik, Kulit Glowing Dimulai dari Sel

Minggu, 06 September 2026 | 22:10:32 WIB
Ilustrasi kulit glowing [FOTO: NET].

JAKARTA - Standar kecantikan kulit dari masa ke masa senantiasa mengalami pergeseran. Pada era modern kini, istilah glowing menjelma sebagai target utama bagi banyak kalangan yang gemar menjalani rangkaian perawatan estetika. 

Walakin, kilau rona wajah yang sehat tersebut nyatanya perlu dimaknai secara lebih mendalam. Kondisi kulit yang benar-benar sehat ternyata tidak semata-mata diukur berdasarkan apa yang tampak kasat mata di lapisan terluar ataupun sekadar hasil pulasan produk kosmetik sesaat.

Pemahaman esensial inilah yang mengemuka dalam perhelatan media gathering Celluma yang dihelat di Aruna International Summit 2026 mengusung tema "Healthy Skin Rewritten at the Cellular Level" di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Mendefinisikan ulang makna kulit glowing.

Membangkitkan kinerja sel demi menggapai kulit sehat maksimal. Setiap unit sel yang menyusun tubuh manusia mempunyai jam biologis serta sumber tenaga tersendiri agar sanggup menunaikan fungsinya secara optimal. Cadangan pasokan energi inilah yang memegang peranan krusial dalam menjaga tingkat kekenyalan serta kecerahan kulit secara alami.

"Dalam setiap sel tubuh kami, kami punya bahan bakar atau baterai namanya mitokondria," jelas Ketua Departemen Dermatologi, Venerologi, dan Estetika di RS Pusat Pertahanan Nasional (RSPPN) Soedirman, dr. Ruri Diah Pamela Sp.DVE, FINSDV, FAADV.

Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, kapasitas daya simpan dari baterai sel tersebut lambat laun akan mengalami penurunan fungsi. Kondisi kemunduran ini lantas memicu kulit kesulitan dalam menjalankan tugas regenerasinya, termasuk memproduksi jaringan ikat kolagen yang sangat penting.

"Mau dilakukan injeksi collagen stimulator yang sekarang populer, atau berbagai treatment yang tujuannya meningkatkan kolagen, tapi si baterainya sendiri itu lemah, tentu saja tidak akan optimal," papar dr. Ruri.

Oleh sebab itu, kilau cahaya pada rona wajah idealnya dibangun mulai dari struktur terdalam. Konsep kulit glowing yang sesungguhnya merupakan cerminan dari sekumpulan sel kulit yang memiliki energi prima serta kemampuan memproduksi kolagen secara baik.

"Itulah kenapa istilah glowing itu harusnya glowing dari tingkat seluler, bukan glowing yang hanya sementara dari permukaan luar saja," lanjut dia.

Menstimulasi fungsi kulit tanpa memicu kerusakan.

Guna mengisi kembali daya kapasitas pada organ mitokondria, teknologi photobiomodulation (PBM) atau yang dikenal sebagai terapi cahaya dengan intensitas rendah kini semakin diminati publik. Metode mutakhir ini memanfaatkan pancaran energi cahaya pada frekuensi spesifik guna memodifikasi sistem biologi sel.

Berbeda jauh dari tindakan perawatan laser bersifat agresif yang menargetkan masalah kulit dengan cara merusak atau menghancurkan pigmen jaringan, PBM justru bekerja melalui pendekatan biostimulasi yang aman.

"Untuk treatment seperti yang sudah kami ketahui, misalnya peeling atau laser, itu semuanya cara kerjanya biasanya menimbulkan kerusakan terutama di lapisan epidermis. PBM itu berbeda, dia menstimulasi aktivitas sel yang baik," ungkap anggota Celluma Indonesia Clinical Advisory Board, dr. Feilicia Henrica Sp.DVE, FINSDV.

Ketika sorotan gelombang cahaya menyentuh jaringan kulit, pancaran energi tersebut akan diserap secara tuntas oleh molekul kromofor di dalam mitokondria. Rangkaian proses ini lantas memicu serangkaian sinyal biologis yang bermuara pada peningkatan produksi adenosin trifosfat (ATP) atau cadangan pasokan energi seluler tubuh.

"Kalau ATP-nya meningkat, jadi cellular repair-nya lebih bagus, terus pembelahannya lebih bagus," ucap dr. Feilicia.

Menjadi rutinitas tata cara perawatan berstandar klinis.

Terapi cahaya kini mulai bergeser posisinya secara signifikan menjadi bagian integral dari pemeliharaan harian. Apabila pada masa lalu teknologi ini hanya bisa dinikmati melalui kunjungan berkala ke klinik kecantikan, kini inovasi perangkat portabel mandiri memungkinkan metode tersebut diaplikasikan secara fleksibel.

Kendati dapat diakses dengan jauh lebih leluasa, penerapan terapi cahaya rumahan tetap memerlukan landasan pemeliharaan harian secara disiplin agar manfaatnya bisa diraih secara maksimal. Penggunaan perangkat alat canggih tersebut tidak serta-merta menggantikan fungsi rutinitas perawatan dasar kulit.

Direktur Medis Senopati Skin Center sekaligus Ketua PERDOSKI Cabang Jakarta, dr. M. Akbar Wedyadhana Sp.DVE, FINSDV, FAADV, IFAAD, memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya merawat kesehatan kulit secara berkesinambungan lewat produk skincare.

"Penggunaan topikal atau krim (perawatan wajah) itu memang wajib sebagai maintenance atau pemeliharaan. Terapi kombinasi itu tetap paling baik," terang dr. Akbar.

Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi PBM sebagai opsi perawatan harian di rumah, cara ini dinilai amat praktis. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat senantiasa teliti dalam memilih perangkat rumahan yang klaim peruntukannya benar-benar dibackup oleh landasan riset ilmiah ketat.

Guna mengakomodasi tren perawatan mandiri berstandar medis tersebut, pasar estetika kini mulai menawarkan ragam alternatif instrumen yang berpijak teguh pada bukti klinis nyata. Kebutuhan esensial ini salah satunya berhasil dijawab melalui kehadiran perangkat PBM portabel Celluma Nova yang diperkenalkan berdampingan secara harmonis dengan lini profesional Celluma Elite Series 2 dari PT Redo Marketing Indonesia.

"Akan tiba harinya di mana teknologi photobiomodulation ini mungkin akan diadopsi oleh masyarakat dan bisa ada di hampir setiap rumah kami," pungkas National Sales Manager PT Redo Marketing Indonesia, Vanda Wulandari.

Terkini