Tawari 138 WK Migas Rusia, DEN Minta Pemerintah Bereskan Lahan

Minggu, 06 September 2026 | 21:29:01 WIB
Pemerintah memperkenalkan 138 wilayah kerja yang menyimpan potensi minyak dan gas bumi kepada para penanam modal asal Rusia. (Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah memperkenalkan 138 wilayah kerja yang menyimpan potensi minyak dan gas bumi kepada para penanam modal asal Rusia saat lawatan Presiden Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum di Vladivostok.

Anggota Dewan Energi Nasional, Saleh Abdurrahman berpendapat bahwa skema kerja sama antar pemerintah ini dinilai amat penting. 

Langkah tersebut dipandang sebagai unsur diplomasi energi guna menggaet penanaman modal internasional, mengingat cadangan migas nasional kini banyak beralih menuju wilayah perbatasan serta perairan dalam dengan tingkat kerawanan eksplorasi yang amat besar.

"Untuk itu, karena potensi migas Indonesia bergeser ke cekungan-cekungan hidrokarbon frontier yang risiko eksplorasi tinggi seperti di laut dalam, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif termasuk bagi hasil yang lebih besar untuk investor hingga 50% untuk gas dan 45% untuk minyak pada daerah dengan resiko sangat tinggi," ujarnya, Minggu (6/9/2026).

Kendati pihak berwenang telah merancang daya tarik berupa pembagian hasil yang lebih menarik, Saleh menekankan bahwa keringanan fiskal belumlah memadai. 

Kepastian hukum domestik dipandang krusial melalui penuntasan hambatan aturan serta sengketa tata ruang secara cepat, supaya calon pemodal asal Rusia memperoleh jaminan hukum ketika menanamkan modal di tanah air.

"Tapi itu tentu tidak cukup. Pemerintah harus lebih cepat dalam menyelesaikan permasalahan tumpang tindih kebijakan termasuk penyelesaian tumpang tindih lahan. Wilayah kerja migas yang akan ditawarkan tersebut di atas sebaiknya sudah masuk dalam perencanaan pemberian ijin pemanfaatan lahan oleh kementerian terkait sehingga akan lebih memberikan keyakinan terhadap kemudahan investasi kepada investor," jelasnya.

Berkenaan dengan wilayah yang paling diminati korporasi energi asal Rusia, Saleh menerangkan bahwa ketersediaan informasi awal memegang peranan vital. 

Para pelaku usaha luar negeri cenderung mendahulukan sektor hulu yang mempunyai kelengkapan data geologi serta geofisika mapan, baik yang dirancang sendiri oleh negara maupun bersumber dari riset kolaborasi bersama perusahaan.

Sementara itu, pengaruh baik yang diantisipasi dari langkah diplomasi energi menuju Rusia ini ialah wujud nyata penanaman modal pada bidang hulu. 

Pemerintah didorong agar mengawasi kesepakatan tersebut agar lekas terwujud menjadi aksi pencarian teknis di lapangan, baik secara mandiri ataupun lewat aliansi strategis bersama PT Pertamina (Persero).

"Tentu realisasi investasi dari investor Rusia dalam waktu dekat baik melalui kerjasama dengan Pertamina maupun investasi mereka sendiri," pungkasnya.

Terkini